Sunday , 20 August 2017
Home » Eksekutif » Anak Bandel Dari Pagar Alam

Anak Bandel Dari Pagar Alam

Perjalanan hidup Tony – begitu ia disapa, memang cukup menarik untuk diulas. Lika-liku kehidupan kelahiran Pagar Alam, Sumatera Selatan ini cukup unik, mengharukan dan penuh perjuangan keras. sampai akhirnya, ia berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan kini menjelma sebagai salah satu icon di industri properti Tanah Air.
Lazimnya sikap disiplin dan rasa tanggung jawab seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga militer sudah tampak sejak usia remaja. Begitu juga dengan Tony Eddy – nama lengkapnya, yang menjadi anak angkat dan dibesarkan sejak umur 2 tahun oleh keluarga Almarhum Pelda Supratman, seorang keturunan Tionghwa yang purnawirawan Tentara Nasional Indonesia di era Presiden Soekarno. Keluarga pensiunan TNI ini hidup sederhana dan bekerja keras sebagai  pengrajin makan kecil di Jalan Gunung Dempo, Pagaralam. “Sehari, kami sekeluarga bekerja membuat makanan kecil dan menjualnya ke pasar untuk mendapatkan uang hanya Rp 4500 an saja” kenang Tony mengingat masa kecilnya.  Hidup dengan disiplin militer dan kerja keras setiap pulang sekolah tidak membuat Tony kecil ciut, dia malah selalu menjadi juara kelas sejak SD sampai lulus SMP. Selepas SMP, Tony sudah merantau dan tinggal sendiri di Yogyakarta untuk meneruskan sekolah di SMA Kolese de Britto.  “Pada tahun 80-an itu, saya harus survive dengan uang kiriman Rp 50 ribu per bulan dari keluarga” kembali kenangnya soal masa-masa SMA di kota gudeg itu.
Selepas SMA tahun 1984, Tony berhasil masuk dan diterima di ITB Jurusan Teknik Elektro. Pergulatan kembali terjadi saat ayah angkat beliau berpulang pada tahun 1985, sedangkan biaya hidup di Bandung cukup tinggi saat itu. Untuk mendapat uang tambahan, Tony sempat menjadi guru les matematika untuk anak-anak SMP dan SMA di Bandung sampai dia meneyelesaikan kuliahnya di ITB.
Singkat cerita, pada tahun 1996 pria kelahiran 48 tahun lalu ini mendapatkan dua gelar pendidikan yaitu Master of Science in Real Estate Investment & Urban Land Economic, dan MBA in Finance, Investment & Banking dari University of Wisconsin – Madison.
Latar belakang akademiknya di bidang IT pun ditinggalkan, ia justru merasa real estate adalah wahana bisnis yang lebih menantang. Selepas lulus dari ITB, Tony bergabung sebagai Field Engineer di perusahaan konsultan perminyakan Schlumberger Wireline & Testing di Argentina.
Tak lama setelah itu dia memutuskan untuk memulai karirnya di bidang konsultan manajemen di Andersen Consulting Jakarta, yang saat ini dikenal sebagai Accenture. Dari sanalah Tony mulai menyadari bahwa bidang IT itu mungkin bukan pilihannya, sehingga memutuskan untuk melengkapi pendidikannya di bidang manajemen dan bisnis. Pada tahun 1994 Tony beserta istri melanjutkan pendidikan di USA, dan memilih bidang baru, yaitu real estate investment dan keuangan.
Setelah lulus dari UW-Madison di Amerika tahun 1996, Tony langsung ditawarkan posisi sebagai Real Estate Credit Manager di Citibank Jakarta, dan banyak berhubungan dengan para developer property di Jakarta. Namun ketika krisis moneter mendera perekonomian Asia tahun 1997-1999 lalu, Tony memutuskan loncat kuadran dari employee ke business owner untuk memulai perusahaan konsultannya sendiri.
Sejak saat itulah, Tony mulai banyak kesempatan untuk membantu beberapa bank dan perusahaan besar seperti BII, Amex, Danamon dan Duta Anggada Realty dalam mengatur strategi penjualan asset mereka (Asset Disposal). Kala itu, ia bersama Linda,  sang istri, hanya miliki kantor berukuran kecil di lantai dasar Mal Ambasador, Kuningan – Jakarta Selatan.
“Saat itu saya masih hanya berdua dengan Linda, untuk adu konsep dan strategi memenangkan proyek Asset Disposal, kami bersaing ketat dengan beberapa konsultan asing yang telah mapan dan terkenal di pasar,” kenangnya saat dirinya mulai menekuni bisnis sebagai Project Marketing & Investment Consultant yang digelutinya sampai hari ini.
Pengalaman Tony Eddy dalam memasarkan proyek-proyek yang “nyangkut” di BPPN ini juga lah yang menjadikannya dipercaya oleh pengembang kondotel Novotel Nusa Dua Bali, untuk menggantikan posisi sebuah perusahaan konsultan properti asing yang sudah “menyerah” dalam memasarkan proyek Novotel Nusa Dua tersebut.
Dari total 176 unit kondotel ukuran 2 dan 3 kamar tidur, akhirnya berhasil terselamatkan dan terjual kembali dengan cepat, dan ini terjadi pada tahun 2005 di saat Bali terkena musibah bom kedua. Dari prestasi itu banyak lagi prestasi di Bali dan Jakarta yang dibidani oleh Tony Eddy, mulai dari ide awal marketing sampai dengan penjualan serta serah terima unit.
Pada tahun 2010, Tony resmi membuka kantor cabangnya di Jalan Sunset Road Kuta, Bali. Sejak itu, telah sederet proyek kondotel yang sukses dipasarkannya, baik secara exclusive maupun non exclusive, seperti Eden Kuta, Horison Seminyak, Horison Jimbaran, Horison Sunset, Mercure Legian, Quest Kuta Condotel, Swissbel Bayview, dan Kuta Ardenia.
Semua proyek yang ditangani Tony biasanya telah melewati tahapan screening yang dilakukannya sebelum dia menyatakan setuju untuk membantu memasarkan proyek tertentu. Beliau sangat concern terhadap  komitmen dan integritas developer yang akan dibantu sebagai kliennya. “Karena jika proyek salah konsep, dan tidak laku terjual, sehingga tidak jadi dibangun sesuai janji maka pembeli kondotel akan kecewa. Ujungnya kami yang akan kena dampaknnya juga,” jawabnya singkat.
Selanjutnya, setelah lebih dari 13 tahun berkecimpung sebagai project marketer, Tony mulai merambah bidang baru sebagai developer. Untuk proyek perdananya, Tony menggandeng Alex Chandra, pemilik BPR Lestari sebagi partnernya. Kolaborasi ini melahirkan proyek perdana mereka yang bernama Summerfield Executive Residence, sebuah komplek 25 unit rumah mewah dan ekslusif di Jimbaran yang membidik para pebisnis papan atas. Setiap unit rumah ini didesain khusus agar memiliki ruang kerja yang luas dan nyaman, serta privasi yang optimum bagi para pemiliknya yang kebanyakan berlatar belakang profesional mapan.
Konsep multi purpose space utilization ini menjadikan Summerfield sebuah proyek unik dan langka untuk pasar properti di Bali. Selain itu, lokasi Summerfield yang hanya sekitar 300 meter dari Ayana Resort, dan 2 menit dari Four Season Jimbaran, menjadikan Summerfield sebuah perumahan elit di lingkungan hotel prestisius di Jimbaran. Selain Summerfield, Tony juga menggandeng Alex Chandra dan beberapa partner lainnya dalam membangun project mixed use bernama Jimbaran Terrace dan Jimbaran Arcade, keduanya berada di Jalan Uluwatu, Jimbaran.
Terakhir, di penghujung tahun 2012 ia berhasil ditunjuk Keller Williams Realty – sebuah jaringan agen properti terbesar di USA sebagai Master Licensee untuk wilayah Indonesia. Proses terpilihnya Tony Eddy sebagai pemimpin Keller Williams Indonesia melalui proses yang panjang, dan didukung track record yang ditunjukkannya selama lebih dari 13 tahun berkecimpung di dunia broker properti Tanah Air. Disamping, sebagai anggota National Association of Realtors USA, dan beliau adalah satu-satunya penyandang CIPS (Certified International Property Specialist) dari NAR, yang berdomisili di Indonesia.
Tony juga masih menjabat President Director dari Tony Eddy & Associates (TEA), sebuah perusahaan project marketing & investment consultant yang berfokus pada projek strata title dan kondotel di Jakarta dan Bali.

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*