Selasa, 11 Oktober 2011 - 18:49:07 WIBPro and Con, of Derivatives Trading_Edisi 74
Diposting oleh : reporter
Kategori: OPINI - Dibaca: 148 kali
Tweet


Pro and Con, of Derivatives Trading
Berbicara tentang derivatives trading, seringkali yang kita dengar adalah sisi negatifnya, antara lain hancurnya Barings Bank di tahun 1995 setelah oknum karyawan melakukan transaksi derivatif yang mengakibatkan kerugian sangat besar.
Pada mulanya instrumen derivatif diciptakan untuk melakukan hedging (lindung nilai). Sebagai contoh: seorang pengusaha Indonesia membeli mesin dari Amerika senilai USD 1 juta, dan sang pengusaha akan melunasi 3 bulan mendatang. Apabila kurs USD saat ini Rp. 8.500,- per USD, tetapi saat jatuh tempo USD menguat terhadap Rupiah menjadi Rp. 10.000,-, maka si pengusaha harus mengalami kerugian senilai Rp. 1,5 milyar karena selisih kurs.
Untuk menghindari kerugian semacam ini, pengusaha bisa melakukan hedging dengan membeli forward di bank yang menyediakannya. Transaksi forward ini adalah salah satu bentuk instrumen derivatif, dan tentu saja ada biaya yang harus dibayar, misalnya kurs forward untuk 3 bulan ke depan adalah Rp. 8.600,- per USD, maka biaya transaksi yang harus ditanggung pengusaha adalah sebesar Rp. 100 juta [USD 1 juta x (8600-8500)].
Dengan biaya tersebut, pengusaha bisa terhindar dari risiko lonjakan kurs dan dia dapat membuat perencanaan bisnis yang lebih matang. Apabila kita lihat contoh di atas, maka ada manfaat yang bisa diambil dari bertransaksi derivatif. Selain itu, modal yang diperlukan untuk bertransaksi derivatif juga lebih rendah, yang disebut juga dengan leveraged position.
Instrumen derivatif ada banyak sekali macamnya, antara lain: futures, options, swap, dan lain-lain. Dan semua memiliki sisi positif ataupun negatif tergantung dari pengguna instrumen itu. Keunggulan derivatif yang memerlukan modal awal rendah ini menjadikan instrumen tersebut menarik minat para spekulan yang bertujuan mencari keuntungan dari selisih kurs yang dihasilkan. Di samping itu, produk derivatif yang diperdagangkan melalui bursa memiliki likuiditas yang sangat tinggi, tentu saja ini menjadi salah satu nilai positif juga. Sebaliknya, modal awal yang sangat rendah memiliki sisi negatif karena risiko menjadi tinggi.
Sebagai contoh: si A membeli USD 1 juta dengan kurs Rp. 8.500,- per USD, maka nilai transaksi sebenarnya adalah Rp. 8,5 Milyar. Bila ditransaksikan dengan forward, dan persyaratan margin 10%, maka dia cukup menyediakan Rp. 850 juta untuk bertransaksi USD 1 juta. Apabila kurs USD menjadi Rp. 9.000,-, maka dia mendapat keuntungan Rp. 500 juta dengan modal Rp. 850 juta, dan sebaliknya bila kurs USD menjadi Rp. 8.000,- maka dia mengalami kerugian Rp. 500 juta dari modalnya Rp. 850 juta. Di sini terlihat jelas bahwa derivatif seperti pedang bermata dua, bisa memberikan keuntungan yang besar dan sekaligus kerugian yang besar pula.
Saat ini di Indonesia juga tersedia beberapa instrumen derivatif baik yang ditransaksikan melalui bank ataupun yang diperdagangkan di bursa berjangka. Produk yang diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta misalnya stock index futures. Produk ini memerlukan modal awal yang sangat kecil, likuiditas yang tinggi, dan biaya transaksi yang relatif rendah sehingga menarik minat dari banyak pihak termasuk para spekulan. Karena produk derivatif memiliki risiko yang tinggi, tentu saja produk ini tidak cocok untuk semua investor. Bagi Anda yang berminat, pastikan untuk memahami risk profile masing-masing dan memahami karakteristik dari produk yang ingin ditransaksikan.
Semoga tulisan singkat ini bisa memberikan gambaran umum tentang instrumen derivatif, meskipun tidak mungkin mampu menjelaskan secara keseluruhan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing instrumen. Apabila ada hal-hal yang ingin ditanyakan berkaitan dengan produk investasi, silakan kirim ke info@investors-academy.com
Selamat berinvestasi.
Tommy Zhu, CWM, CFP®, AEPP®
- The Fear that Will Make You Rich_Edisi 73
- Property Banking Sebagai Produk Investasi_Edisi 72
- Berburu Yield di Kondominium Andry Susanto Edisi 70
- Agar Proyek Tak Mangkrak di Jalan Tony Eddy - Edisi 70
- SUPERBLOK HARUS LEBIH RAMAH - Ali Tranghanda - Edisi 70
Isi Komentar :