Selasa, 22 November 2011 - 12:00:52 WIBKoridor Utama
Diposting oleh : reporter
Kategori: BERITA UMUM - Dibaca: 136 kali
Tweet


ANTISIPASI PASAR APARTEMEN MENENGAH
Kalangan kelas menengah dalam kurun 10 tahun terakhir terus bertambah. Kondisi ini dipicu dengan semakin membaiknya perekonomian Indonesia.
Kelas menengah Indonesia mengalami pembengkakan dalam satu dekade terakhir, seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut ekonom Faisal Basri, kelompok menengah-bawah meningkat dari 37 juta menjadi 69 juta jiwa. Kelompok menengah-tengah meningkat hampir tiga kali lipat dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa. Kelompok menengah-atas malah meningkat lebih dari lima kali lipat dari 0,4 juta jiwa menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan atau harta melimpah naik 0,1 juta jiwa menjadi 0,37 juta jiwa.
Hal tersebut, disinyalir mendorong meningkatnya permintaan akan hunian, khususnya apartemen, terutama dari kalangan menengah ini. Namun nyatanya masih sedikit pengembang yang menjadikan kelas menengah sebagai sasaran produk apartemen yang dibangun.
Padahal permintaan apartemen menengah terus mengalami peningkatan setiap tahun. Tahun ini, penjualan apartemen menengah dengan harga sekitar Rp100 juta - Rp 300 jutaan diperkirakan akan mengalami peningkatan tinggi, yakni antara 50%-70% dibandingkan tahun sebelumnya.
Seperti yang diungkapkan Ir. Lini Dja’far, MRECM, Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPD REI DKI Jakarta, pertumbuhan apartemen baru ini tidak diikuti dengan pertumbuhan permintaan dari konsumen yang semakin meningkat. “Maka yang digaris bawahi disini para developer harus cermat untuk mengikuti suara pasar,” kata Lini yang juga Direktur Penelitian PT Procon Indah ini.
Meskipun begitu, tambah Lini, bisa dibilang rata-rata penyerapan pasar mencapai 72,6 %. “Angka ini bisa dibilang cukup besar dalam kondisi sekarang.” Dari jumlah itu sebagian besar yang terserap yaitu 84% merupakan apartemen kelas menengah. Disusul penyerapan apartemen untuk menengah keatas sekitar 81%.
Keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah menjadi pemicu kurang berminatnya pengembang untuk membangun apartemen menengah, demikian diungkapkan Rudy Margono, Ketua DPD REI DKI Jakarta. “Jangan kaget kalau unit apartemen dengan harga Rp 200 juta sangat terbatas. Soalnya investasi tanah di kota sangat tinggi. Satu unit bisa mencapai Rp 450 juta dengan luas areal 30 m2,” ujar Rudy Margono.
Seperti diberitakan beberapa media, bahwa di Jakarta, pasokan apartemen bagi kelas menengah masih langka dan belum digarap secara optimal oleh pengembang Jakarta. Menurut Juan Panca Wijaya, Wakil Ketua bidang Pengembangan Kawasan DPD REI DKI Jakarta, kalau bicara rusunami, hampir semua pengembang ingin membangun rusunami. tapi banyak juga pengembang yang membangun untuk menengah ke atas. Namun demikian, untuk kalangan menengah ini, dikatakan Juan, jumlahnya masih sangat terbatas. “Kalau kita lihat di Jakarta sendiri, apartemen kelas menengah ini masih sangat diperlukan, karena pasokannya masih kurang tapi permintaannya terus bertambah,” ungkap Juan yang mengaku pernah mengingatkan sesama anggota REI DKI Jakarta soal perlunya membidik peluang ini.
Demikian pula pendapat Direktur Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan pasokan baru apartemen kelas menengah di Jakarta hampir tidak ada dan hanya mengandalkan bangunan yang sudah ada. Salah satu kendala dalam penyediaan apartemen kelas menengah adalah semakin tingginya harga tanah dan serta minimnya persediaan lahan di Jakarta.
Pasokan baru (apartemen kelas menengah) kosong di Jakarta, karena harga tanah yang semakin tinggi dan langka. Namun, menurut saya, sejumlah lokasi masih ada di Jakarta seperti Matraman di Jakarta Timur dan Mampang di Jakarta Selatan, ujarnya .
Ali menjelaskan kategori apartemen kelas menengah berada pada kisaran harga Rp300 juta- Rp800 juta per unit. Adapun, kisaran harga setiap unit apartemen menengah ke bawah dan menengah ke atas masing-masing Rp200 juta- Rp500 juta dan Rp800 juta-Rp l miliar yang lebih banyak digarap oleh pengembang saat ini. Menurut Ali, kondisi itu karena pengembang lebih banyak mengikuti tren pengembangan properti yang telah ada sebelumnya karena dianggap dapat meraup keuntungan yang lebih besar. Padahal, paparnya, ceruk pasar apartemen kelas menengah ke atas sebetulnya semakin terbatas karena sudah banyak pengembang yang menggarap segmen itu.
Saya kira harus ada yang membidik segmen apartemen menengah pada tahun depan. Peluangnya besar sekali karena belum banyak yang menggarapnya. Pelaku usaha properti masih latah melihat keberhasilan yang lama, padahal pasar yang ada semakin lama semakin terbatas,” paparnya. Apartemen kelas menengah ini masih banyak peminatnya dibandingkan kelas atas. Apartemen kelas menengah ini, lanjut Ali, nantinya tidak akan banyak dijadikan sebagai lahan investasi, melainkan sebagai tempat tinggal. “Mau tidak mau, orang membutuhkan apartemen, karena bekerja di Jakarta dengan tingkat kepadatan serta kemacetan tinggi. Kalau dibangun apartemen mewah semua, lalu para pekerja yang kebanyakan komuter ini akan tinggal di mana,” ungkap Ali.
- Perluas Jaringan Di Sejumlah Negara
- Rekomendasi Proyek
- Kota Pekanbaru berpotensi menyamai kota-kota besar lain di Indonesia
- Rekomendasi Proyek
- BII Gandeng BPR Layani Western Union
Isi Komentar :