Sabtu, 03 Desember 2011 - 13:44:16 WIBWATERFRONT CITY SUPERBLOCK PERTAMA DI INDONESIA
Diposting oleh : reporter
Kategori: EDISI TERBARU - Dibaca: 259 kali
Tweet


KAWASAN KEPALA NAGA YANG SEMAKIN DIBURU
Permintaan properti hunian dan properti komersial di Jakarta saat ini cukup tinggi, hal ini menjadi salah satu penyebab naiknya harga tanah di Ibukota. Salah satu kawasan yang paling pesat perkembangannya adalah kawasan Pluit, Jakarta Utara.
Aktivitas pengembangan sejumlah proyek berskala besar diduga turut memicu kenaikan harga lahan di Pluit. Dalam dua tahun terakhir, harga tanah di Pluit naik signifikan, diperkirakan harga tanah di sana Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per meter persegi. Sementara dua tahun yang lalu, harga tanah di sana diperkirakan masih Rp 9 juta sampai Rp 10 juta per meter persegi.
Bagi sebagian pengamat property kenaikan harga ini dinilai over value, terlalu cepat dan drastis. Menurut sebagian kalangan idealnya kenaikan harga lahan di kawasan itu sekitar 10%-12% per tahun. Namun kawasan Pluit ini termasuk fenomenal karena kenaikannya cukup drastis. Ditambah lagi dengan beroperasinya ruas Jakarta Outer Ring Road W1 yang menghubungkan wilayah Jakarta Utara dengan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, membuat pasar Pluit semakin diminati konsumen.
Selain itu, kenaikan harga yang agresif dinilai karena adanya persaingan yang cukup ketat untuk mendapatkan cadangan lahan yang tersisa di kawasan tersebut. Apalagi minat konsumen untuk tinggal di kawasan ‘kepala naga’ ini sangat besar. Ini menyebabkan kenaikan harga tanah pesat sekali dan siklusnya menjadi tidak seimbang.
Hal ini ditepis oleh Marketing Director Green Bay Pluit, Matius Jusuf. Menurut dia, kenaikan harga tanah dan property di kawasan Pluit ini masih dalam tahap wajar. “Secara makro boleh dikatakan harga property di kawasan ini belum maksimum, kenaikan harga property standartnya adalah tidak lebih dari 3x nilai inflasi tahunan berjalan. Jadi kenaikan harga tanah dan property sebesar 20% pertahun itu masih dalam tahap yang wajar,” jelas Matius dalam perbincangan dengan Property&Bank.
Dijelaskannya harga property yang saat ini tengah bersinar berada di tiga lokasi, yang pertama di kawasan Pluit, kemudian Kelapa Gading dan Serpong. Kenaikan ini terjadi karena ketiga daerah ini diminati konsumen. Matius menyebutnya sebagai “Sunrise Property” karena kenaikan ini baru permulaan saja dan diperkirakan mencapai puncak pada tahun 2014 mendatang.
Kesimpulannya saat ini kenaikan yang terjadi masih belum terlalu tinggi dan tidak akan menyebabkan penggelembungan nilai aset (bubble). Malah menurut Matius, akan menjadi pertanyaan mengapa di beberapa tempat lain tidak terjadi kenaikan, karena seyogyanya harga tanah dan property itu naik terus.
Tingginya minat konsumen memiliki property di Pluit saat ini dikhawatirkan menjadi penyebab kenaikan harga tanah semakin liar di kawasan ini. Namun sebenarnya tingginya tingkat permintaan itu telah ada solusinya, yakni hunian vertikal (apartemen). Saat ini banyak proyek hunian vertikal yang tengah dibangun di Pluit, namun tentunya apartemen yang terintegrasi dengan proyek komersial akan lebih baik lagi, selain sebagai tempat tinggal juga menarik bagi investasi. Salah satunya adalah Waterfront City Superblock - Green Bay Pluit yang dibangun oleh pengembang terpercaya Agung Podomoro.
- SEMARAK INDONESIA PROPERTY&BANK AWARD 2011
- PERPADUAN SEMPURNA ANTARA KEMEWAHAN DAN VIEW SPEKTAKULER
- Pengembang Raksasa, yang Visioner_Edisi 74
- Geliat Bisnis Nahkoda Muda Gapuraprima_Edisi 73
- Menguyur konsumen kpr nasional_Edisi 72
Isi Komentar :