Sabtu, 03 Desember 2011 - 14:32:24 WIBSOFYAN BASYIR Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Tbk.
Diposting oleh : reporter
Kategori: BANKIR - Dibaca: 523 kali
Tweet


DORONG USAHA MIKRO “NAIK KELAS”
Data Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa hingga September 2011, kredit sektor properti masih dalam performa yang membanggakan. Dalam rupiah, kredit yang telah disalurkan perbankan mencapai Rp 272,83 triliun. Angka itu meroket hingga 25,3% dibandingkat periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 217,69 triliun.
Pertumbuhan kredit properti tersebut didorong oleh segmen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA) yang tembus di angka Rp 169,18 triliun. Kredit properti paling banyak disalurkan oleh bank swasta nasional serta disusul oleh bank milik pemerintah (BUMN).
Pesatnya pertumbuhan kredit sektor properti tersebut mendapat perhatian serius dari BI. Pihak bank sentral mulai memantau dan mewaspadai kemungkinan timbulnya kerawanan kredit konsumer bila terjadi gejolak ekonomi yang menyebabkan nasabah gagal bayar. Bahkan, Bank Indonesia telah menyiapkan beberapa opsi untuk mengatur lebih jauh mengenai pesatnya kredit sektor kendaraan bermotor dan properti. Salah satunya, mengkaitkan kredit lebih kepada nilai alias loan to value.
Kendati demikian, hampir seluruh bank umum nasional masih bertekad terus menggenjot pertumbuhan kredit sektor tersebut. Alasannya cukup sederhana, mengejar laba yang cemerlang hingga akhir 2011. Seperti diketahui bersama bank-bank papan atas, diantaranya BCA, BNI, BTN, termasuk BRI hingga akhir September 2011 telah mencetak laba cukup fantastik, rata-rata mencapai lebih dari 30% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Tbk. sendiri pada kuartal ketiga 2011 berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 10,34 triliun atau meroket hingga 56,69% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebesar Rp 6,6 triliun. Dengan kecukupan modal (CAR) sebesar 14%, bank nasional peraih laba terbesar selama lima tahun berturut-turut ini semakin mantap melakukan berbagai terobosan bisnis.
Untuk mengetahui lebih jauh berbagai pemicu dan strategi yang menjadi penyebab meroketnya kinerja usaha operasional bank BUMN tersebut, Direktur Utama BRI, Sofyan Basyir memaparkan secara gamblang kepada Property & Bank, sebagai berikut :
Berapa total aset BRI hingga kuartal ketiga 2011?
Meroketnya laba tersebut didukung oleh total aset BRI yang meningkat 21,66% daripada kuartal ketiga 2010 menjadi Rp 320,84 triliun. Seiring peningkatan aset, modal kami juga mengalami pertumbuhan sebesar 37,3% menjadi Rp 44,93 triliun.
Bagaimana dengan kinerja kredit?
Selama kuartal ketiga 2011 BRI berhasil meningkatkan portofolio kredit sebesar 20,83% menjadi Rp 276,32 triliun. Dengan demikian, kami telah menyalurkan kredit sebesar Rp 276,32 triliun, dari sebelumnya hanya Rp 228,70 triliun. Jelas, ini merupakan suatu prestasi yang cukup membanggakan dan akan dipertahankan hingga akhir tahun.
Sektor apa saya yang selama ini menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan kredit BRI?
Sesui visi dan misi kita, bahwa BRI adalah satu-satunya bank yang fokus melayanan sektor usaha kecil, maka UMKM masih menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Kredit mikro kita mengalami peningkatan hingga 32,65% atau menjadi Rp 87,81 triliun dari sebelumnya Rp 66,20 triliun. UMKM digenjot melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Kami mencatat outstanding KUR sebesar Rp 14,5 triliun dengan total debitur 5 juta. Angka ini sudah 145% melampaui target pencapaian yang ditentukan hingga Desember 2011. Sementara total KUR yang sudah disalurkan BRI mencapai Rp 35 triliun. Dan yang patut disyukuri bahwa kami berhasil membuat perusahaan skala kecil “naik kelas”. Lihat saja, hingga kini sekitar 550 ribu debitur sudah dapat migrasi dari sebelumnya tidak bankable menjadi bankable.
Bagaimana dengan kredit sektor korporasi?
Khusus untuk corporate loan, pada kuartal ketiga 2011 mengalami pertumbuhan sekitar 27% menjadi Rp 57 triliun dengan komposisi 61,36% atau Rp 34,9 triliun diberikan ke BUMN dan sebesar 38,6% atau Rp 22 triliun ke non BUMN (privat). Dengan memberikan kredit kepada BUMN yang notabene adalah public services company, diharapkan dapat mendorong sektor-sektor usaha kecil sebagai turunannya. Begitu juga kredit yang disalurkan kepada non BUMN (privat), seperti pada bidang pertanian atau perkebunan kelapa swait, banyak petani-petani yang akan terkena dampak positif dari pemberian kredit tersebut. Jadi, meskipun kredit disalurkan kepada korporasi, namun fokus kami tetap sama mendukung UMKM. Sampai kapan pun tidak akan lari dari sektor UMKM yang menjadi andalan kita selama ini.
Terkait persaingan yang cukup ketat, apakah BRI masih tetap komitmen untuk menggarap kredit sektor konsumer?
Komitmen kita untuk kredit konsumer terus berjalan dan tidak pernah berhenti dengan inovasi produk-produknya, seperti KPA, KPR, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan Kartu Kredit. Meskipun belakangan persaingan di segmen ini semakin ketat, namun tetap terjadi pertumbuhan cukup signifikan. Pertumbuhan pada September 2010 hingga September 2011 (year on year) mencapai 17%, dari sebelumnya Rp 47 triliun menjadi Rp 55,2 triliun. Secara keseluruhan, consumer loan BRI masih didominasi oleh fixed income. Khusus KPR/KPA meskipun relatif masih baru, namun pertumbuhannya sudah mencapai 29,5% atau Rp 7,59 triliun pada posisi September 2011.
Sampai akhir tahun, berapa target pertumbuhan kredit konsumer BRI?
Meskipun angkanya masih relatif, kami optimis pertumbuhan kredit konsumer hingga Desember 2011 akan menembus angka 20% dibanding tahun sebelumnya. Upaya yang kita lakukan, selain menambah sumber daya marketing juga memperluas jangkauan wilayah. Hari ini, marketing kami sudah masuk ke kota-kota besar, seperti Makasar, Semarang, Suarabaya, Bandung, dan Medan. Selain itu, kita juga mulai menyiapkan infrastruktur penunjang di hampir seluruh kantor cabang BRI yang sudah ada.
Khusus KPR/KPA, apa saja kemudahan yang diberikan BRI?
Banyak fasilitas kredit untuk memudahkan nasabah dalam mengambil KPR/KPA, salah satunya kami memiliki program yang bernama KPR Extra BRI. Program ini, memungkinkan nasabah dapat mencicil utang hingga 20 tahun dengan bunga dan biaya kredit relatif ringan serta fleksibel, serta aman dalam penggunaan. Karena BRI merupakan Bank BUMN yang kinerjanya sudah diakui di mata nasional maupun international.
Selain itu, KPR BRI menawarkan 3 pilihan bunga menarik untuk pembelian rumah baru maupun rumah second melalui program KPR Extra BRI, yaitu 9,5% fixed 2 tahun pertama atau angsuran tetap 5 tahun pertama dengan bunga 9,75% fixed 3 tahun pertama dan cap 11% tahun ke 4 dan ke 5. Kemudian bunga flat dengan jangka waktu hingga 5 tahun dengan bunga 5,25% per tahun (jangka waktu fix 1 tahun), 5,75% per tahun (jangka waktu fix 2 tahun), 6,25% per tahun (jangka waktu fix 3 tahun), 6,75% per tahun (jangka waktu fix 4 tahun), dan 7,25% per tahun (jangka waktu fix 5 tahun).
Apa langkah dan upaya yang dilakukan untuk mempercepat penetrasi pasar KPR/KPA?
Selain menawarkan banyak kemudahan kredit, kami juga gencar melakukan kerjasama dengan pihak pengembang nasional. Hingga saat ini, sudah lebih dari 200 developer atau sekitar 400 proyek di seluruh Indonesia yang berhasil digandeng oleh BRI. Tidak hanya beskala besar, namun juga developer-developer lokal di masing-masing wilayah kerja BRI. Developer besar yang sudah bekerja sama antara lain, Ciputra Group, Lippo Group, Agung Podomoro Group, Pakuwon Group, Bakrie Group dan Summarecon Group.
Untuk menopang kinerja kredit, apakah uapaya penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) berjalan lancar?
Tentu saja, karena bagaimanapun kinerja penyaluran kredit yang prima tak akan lepas dari sejauh mana perseroan mampu meyakinkan nasabah agar tetap menyimpan dananya di BRI. Hingga kuartal ketiga 2011, kami berhasil meningkatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 20,50% atau menjadi Rp 309,71 triliun dari posisi sebelumnya Rp 257,02 triliun. Tabungan mendominasi 41,99% atau sekitar Rp 130,06 triliun sedangkan deposito sebesar 40,43% atau sekitar Rp 125,21 triliun.
Krisis ekonomi Amerika dan Eropa mulai meresahkan sejumlah kalangan, seperti apa tanggapan Anda dan bagaimana dampaknya terhadap industri perbankan?
Kondisi perekonomian secara global memang betul mengalami sejumlah kendala, namun saya tetap optimis bahwa prospek bisnis hingga akhir tahun masih cukup cerah. Dampak krisis ekonomi di Negara-Negara Eropa dan Amerika terhadap sistem perbankan nasional tidak terlalu signifikan. Di pasar modal mungkin agar bergejolak, tetapi sektor perbankan pada umumnya masih relatif aman. Ini, dibuktikan dengan angka-angka pencapaian kinerja hampir seluruh lini bisnis BRI, seperti DPK yang mengalami pertumbuhan cukup baik dan merata hingga di pedesaan. Tentu saja, kinerja yang baik ini akan mendorong perolehan Net Interest Margin (NIM) cukup tinggi, seperti yang dialami BRI hingga akhir kuartal ketiga 2011.
Tahun depan, berapapa optimise BRI di sektor kredit?
Untuk tahun 2012, kami memasang target pertumbuhan kredit dikisaran 20 - 23%. Angka ekspansinya masih harus melihat situasi ekonomi dan pendanaan kita seperti apa. Itu kita tetap pasang angka moderat di situ sambil terus memperbaiki kualitas aset, terutama di sektor ritel dan menengah yang memiliki tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) lebih tinggi. Namun demikian, di segmen mikro dengan portofolio total kredit mencapai 32% kuartal tiga 2011, maka di tahun depan kami tetap mematok target tinggi untuk pertumbuhan di segmen tersebut, yakni mencapai 30%.
Beberapa keputusan strategis sosok Sofyan Basyir terbukti berdampak baik terhadap kinerja PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI), Tbk. Kepemimpinannya sebagai Direktur Utama BRI dalam sepupuh tahun terakhir tidak hanya mengubah image BRI dari bank desa menjadi sejajar dengan bank-bank besar nasional. Bahkan, BRI kini sebagai satu-satunya bank yang meraih laba tertinggi selama lima tahun terakhir berturut-turut.
Hal itu tidak lain karena pria yang senang membaca ini bukanlah wajah baru di kancah perbankan nasional. Dia sudah malang-melintang di sektor ini sejak 1980 dengan bekerja di Bank Duta. Tak lama setelah itu, dia hijrah ke Bank Bukopin pada 1985.
Di Bank Bukopin ia menduduki beberapa jabatan manajerial, diawali sebagai kepala cabang, group head line of business, dan direktur komersial hingga direktur utama.
Keberhasilan mengelola BRI hingga menjadi besar tidak lantas membuat Sofyan lupa daratan. Menurutnya, sudah bagus di mata masyarakat tetapi akhir-akhir ini pihaknya terus mencoba memperkuat perseroan tidak hanya di desa, melainkan juga lini perkotaan.
Dulu BRI fokus di micro finance, sekarang mesti memperluas jangkauan karena segmen desa sudah “diserang” bank lain. Ia pun mengakui hal itu. Dia menilai BRI mampu menggali potensi yang ada di perkotaan karena sudah cukup mampu dari segi produk dan teknologi serta memiliki jumlah kantor yang memadai.
Dia pun menilai, perusahaan yang dikelolanya sangat layak untuk bersanding dengan bank lain di perkotaan. Orang desa sudah makin maju dan melek teknologi. Apalagi, banyak diantara mereka yang menyekolahkan anaknya ke kota. Tak urung, BRI ingin lebih mendekatkan diri dengan masyarakat di pedesaan dan perkotaan. Untuk itu, BRI harus selalu melakukan inovasi produk, seperti Visa, Mastercard, dan electronic banking (e-banking).
Siti Rahmani
24 Januari 2012 - 11:44:29 WIB
assalamualaikum war.wab.
sy mahasiswa semester akhir, saat ini tengah menyusun tugas akhir sy, yang mengambil penelitian di BANK BRI, saya membutuhkan penjelasan yang lebih dalam lagi mengenai inovasi prodak yang telah ada di BANK BRI. kiranya saya dapat dibantu. terima kasih.
usman azhar
10 Desember 2011 - 10:10:37 WIB
BRI YANG BERAWAL TUMBUH DARI DESA ,KINI MENJADI BANK BESAR DENGAN PERTUMBUHAN YANG SIGNIFIKAN,BAIK ITU ASSET,LABA,LOAN,SIMPANAN. DIDUKUNG JARINGAN KERJA BRI YANG LUAS DENGAN JUMLAH RIBUAN JUMLAH KANTOR LAYANAN,MAUPUN PENGUASAAN DIBIDANG IT PERBANKAN. MENJADIKAN BRI SOSOK PERBANKAN YANG TIDAK HANYA BESAR TAPI KOKOH DI FONDASINYA,SEHINGGA KEDEPANNYA BRI BISA MENJADI BANK BESAR DI ASIA . JUTAAN NASABAH MIKRO . TKS
Rey
16 Desember 2011 - 03:53:02 WIB
salut banget sama bapak soyfan,,beliau adalah sosok hebat yang mampu membawa BRI menduduki rate 1 dalam pemberian kredit... trims jg buat info yang diberikan di web ini..benar-benar membantu saya dalam penyelesaian tugas mata kuliah perbankan.. :)
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :