Rabu, 28 Desember 2011 - 14:23:00 WIBIndustri Properti Indonesia
Diposting oleh : reporter
Kategori: EDISI TERBARU - Dibaca: 210 kali
Tweet


MENGGELIAT DI 2011 MELESAT DI 2012
Krisis di Eropa dan Amerika menurut pemain di sektor properti tak banyak berpengaruh. Dukungan fundamental ekonomi yang kuat membuat Indonesia mampu bertahan.
Kondisi perekonomian Indonesia pada 2011 ini menunjukkan prospek yang menggembirakan, saat beberapa negara maju sibuk membenahi perekonomiannya, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif. Bank Indonesia memperkirakan sampai akhir tahun pertumbuhan akan mencapai 6,5%.”Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2011 ini diperkirakan mencapai 6,5%,” ujar Difi A Johansyah, Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI.
Pertumbuhan tersebut, disebabkan adanya dukungan permintaan domestik yang masih kuat dan kinerja ekspor yang terjaga.Sementara dari sisi produksi, sektor-sektor yang diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah sektor industri, sektor transportasi dan komunikasi, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Tak terkecuali dengan sektor properti yang memberi andil tidak kecil.
Melihat capaian ini, Menteri Keuangan Agus Martowardoyo optimis pada 2012 mendatang pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa digenjot menjadi 6,7%. Hanya saja harapan itu, oleh beberapa pengamat bakal mendapat kendala yang cukup berarti dari dampak perekonomian global, terutama akibat krisis ekonomi di belahan benua Eropa yang masih berkepanjangan.
Bahkan dalam sebuah riset terbaru yang diluncurkan Knight Frank Prime Global Forecast diungkapkan bahwa harga properti di dunia diperkirakan bakal turun pada 2012. Hal itu terjadi setelah selama dua tahun ini sejak 2010 pasar properti hunian di dunia memanas, terutama kawasan Asia. Kendati demikian masih ada harga properti yang bakal melonjak.
Kate Everett-Allem, International Residential Research di Knight Frank, mengungkapkan bahwa di sela ketidakpastian ekonomi dunia, ternyata masih ada kenaikan harga properti. “Dan itu terdapat di hampir setengah dari kota yang dimonitor, seperti di London, Paris, Moskow, Nairobi, dan Kuala Lumpur.”
Hal ini, lanjutnya berasal dari kekurangan pasokan dan diperhebat oleh aliran modal dari kawasan yang bergolak di dunia. Sebab bagi orang kaya, properti masih jadi incaran investasinya selain produk keuangan lainnya. Dan ini dikuatkan oleh pendapat kepala riset Knight Frank, Liam Bailey, yang meyakini para investor mencari sarana investasi yang aman. Dan itu ada di bidang properti.
PROPERTI INDONESIA INCARAN ASING
Pendapat ini ada benarnya. Lucy Rumantir Chairman Jones Lang LaSalle – Procon memaparkan bahwa, kondisi perekonomian Indonesia saat ini memiliki daya tarik bagi investor asing. Tak heran bila hal ini berdampak positif bagi perkembangan properti Indonesia, terutama di kota-kota besarnya. “Kecemasan penurunan ekonomi global akibat lambatnya pemulihan ekonomi Amerika dan Eropa tidak secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan pasar properti dalam negeri.”
Besarnya pangsa pasar dalam negeri yang ditunjang pertumbuhan kalangan ekonomi menengah dan derasnya perkembangan investasi asing yang masuk, bukan tidak mungkin akan membawa properti Indonesia mengalami masa keemasan seperti pertengahan tahun 90-an.
Hal ini dikuatkan dengan pendapat Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle – Procon, yang melihat penurunan BI rate membuat bank ikut menurunkan suku bunga. Akibatnya penjualan kondominium baru selama periode Juli-September mengalami peningkatan yang cukup berarti, yaitu sekitar 17% atau 2.300 unit. Suatu jumlah yang cukup besar.
Dengan demikian, total penjualan kondominium baru dalam sembilan bulan pertama tahun 2011 saja, sudah mencapai 6.000 unit dibandingkan tahun lalu yang secara keselurahan hanya mencetak penjualan sebanyak 3.760 unit,“kata Anton. Tren peningkatan penjualan kondominium di dalam kota, selain akibat menguatnya daya beli kalangan menengah juga sebagai solusi bagi mereka mendekati pusat-pusat aktivitas sehari-hari.
Bukan hanya itu. Menurut Anton lagi, dampak perkembangan ekonomi juga dirasakan pasar pusat perbelanjaan sewa di Jakarta. Permintaan untuk menambah jumlah outlet membuat tingkat hunian mal meningkat dari 85% di awal tahun menjadi 88% di bulan September.
Prospek pertumbuhan bisnis ritel ini tidak dimanfaatkan oleh pemain lokal saja, investor asing juga melihat besarnya peluang dan potensi dari pertumbuhan kalangan menengah Ibukota, seperti yang dilakukan oleh Lotte Departement Store dari Korea baru-baru ini.
- WATERFRONT CITY SUPERBLOCK PERTAMA DI INDONESIA
- SEMARAK INDONESIA PROPERTY&BANK AWARD 2011
- PERPADUAN SEMPURNA ANTARA KEMEWAHAN DAN VIEW SPEKTAKULER
- Pengembang Raksasa, yang Visioner_Edisi 74
- Geliat Bisnis Nahkoda Muda Gapuraprima_Edisi 73
Isi Komentar :