Rabu, 28 Desember 2011 - 15:30:45 WIBRekomendasi Proyek Medan
Diposting oleh : reporter
Kategori: BERITA UMUM - Dibaca: 230 kali
Tweet


Griya Albania dan Grand Algeria, Medan
HUNIAN TERJANGKAU DI KAWASAN BERKEMBANG
Pertumbuhan Kota Medan yang sangat pesat, membuat kebutuhan perumahan di Ibukota Sumatera Utara itu cukup tinggi. Kota seluas 265,10km2 itu, kiranya sudah makin padat dengan menampung penduduknya yang sudah hampir 3 juta.
Dengan kondisi tersebut, Kota Medan sepertinya tidak mungkin lagi menjadi daerah yang layak untuk hunian. Sama halnya dengan kota besar lainnya, maka daerah-daerah yang berada dipinggir kota Medan seperti Deli Serdang menjadi pilihan yang selanjutnya mesti dikembangkan.
Potensi ini dilirik oleh Arief Makmur Nasution, SE. pengembang lokal yang mengusung bendera PT. Rivegamora dan PT. Araban Makmur Semesta. Sejak tahun 2008 lalu, ia sudah mengembangkan perumahan Griya Albania. Lokasinya strategis di kawasan bisnis Medan karena merupakan akses utama bandar udara Kuala Namo yang saat ini sedang dalam tahap penyelesaian.
Griya Albania seluas 1,5 hektar, lokasi Jl. Bersama Letda Sujono Medan dibangun bertahap mulai tahap 1 hingga tahap 3. Hingga kini semua fasilitas umum dan sosial sudah tersedia dan telah dimanfaatkan oleh penghuni, seperti Mesjid Al-Makmur, jalan paving block serta air PDAM, PLN, Security dan kebersihan.
Respons masyarakat terhadap Griya Albania sangat baik. Sejak dikembangkan tahun 2008, dari total rumah 85 unit hanya tersisa 3 unit yang sedang dipasarkan. Oleh karena itu, rencananya ia akan mengembangkan Tahap 4 sebanyak 200 unit tahun 2012 ini. Minat konsumen tinggi selain akses tol dekat, juga di sekitar kawasan sudah ada sekolah, rumah sakit serta pasar modern dan tradisional. Dulu kawasan ini belum berkembang sama sekali. Alhamdulillah, sekarang dengan pertumbuhan yang cepat, menjadi kawasan bisnis yang bernilai, prospektif, cerah di masa mendatang. Sebagai contoh, harga tanah di kawasan yang sebelumnya masih di Rp 200.000/m2, kini melonjak tajam hingga Rp 700.000 per m2,” tegas Arief.
Nama Griya Albania sendiri, terinspirasi dari nama kawasannya sendiri Kelurahan Bantan, Kota Medan. Albania adalah singkatan dari Alam Bantan Indah. Menurut Jaka Utama Medan 1999 ini, ide nama perumahan itu diperolehnya sesaat setelah ia menunaikan Sholat Ashar. Oleh karena itu, tak heran jika ia begitu yakin dan optimis mengembangkan tim pemasaran proyek pertamanya tersebut.
Baginya, mengembangkan Griya Albania bukan pekerjaan yang mudah. Ia mengembangkan kawasan ini mulai dari nol. Kawasan itu awalnya masih sangat terbelakang dan dikenal kumuh serta daerah rawan yang jarang disentuh. Namun, sejak Griya Albania berdiri, terlihat sangat jauh perubahannya. Ia juga bersinergi dengan Pemerintah setempat dan warga dengan merangkul pemuda lokal sebagai tenaga keamanan, kebersihan maupun sebagai pekerja bangunan.
Selain Griya Albania, Wakil Sekjen REI-SU ini juga mengembangkan Grand Algeria pada akhir 2009 seluas 2,2 hektar terletak di Deli Serdang sebanyak 160 unit rumah, hingga kini 85 unit rumah sudah terbangun. Perumahan ini lengkapi dengan beberapa fasilitas seperti ruko, kolam renang, mesjid. Ia proyeksikan, Grand Algeria akan menjadi yang terfavorit di kawasan tersebut. Meski harga terjangkau, bahan bangunan tetap dipertahankan, misalnya keramik 40x40, plafon gypsum, kuda-kuda baja ringan, teras granit dan batu alam. Dengan harga Rp 130 juta – Rp 203 jutaan, kiranya di pinggiran Medan sudah hampir tidak ada rumah dengan spesifikasi tersebut, dan walaupun di Deli Serdang namun akses Grand Algeria hanya 3 km ke Tol Bandar Selamat Medan, dan ke Merdeka Walk pusat kota cuma + 9km, ” jelas Arief.
Lokasi Grand Algeria atau Alam Gambir Indah, berada di kawasan bisnis Jl. Gambir Pasar VIII PS Tuan yang juga menjadi akses utama koridor bandar udara Kuala Namo. Rencana pemindahan bandara utama dari Polonia ke Kuala Namo membuat kawasan ini menjadi bernilai. Kenaikan harga rumah dilokasi ini juga cukup tinggi. Konsumen yang membeli type 37/84 seharga Rp 100 juta pada tahun 2009, memasuki tahun 2011 lalu harga rumah tersebut sudah menjadi Rp 135 juta. Efektif, Nilai investasi ini tentu akan semakin meningkat tatkala bandar udara sudah beroperasi nantinya. Demikian juga dengan ruko, saat penjualan perdana Rp 285 juta, kini ditawar seharga Rp 450 juta.
Tapi, sayangnya pemerintah tidak melihat ini sebagai sesuatu yang menarik. Pemerintah harus cepat menyelesaikan Bandara Kuala Namo karena kebutuhan yang sudah mendesak, terutama jalur transportasi menuju ke sana. Tapi entah karena faktor apa, harusnya target operasi tahun 2012, sepertinya akan sulit terealisasi,” kata Arief.
Menurutnya, jatuh-bangunnya developer tergantung dari kebijakan pemerintah. Sebagai Locomotive of Growth, industri propeti harusnya juga didukung pemerintah pusat dan daerah dalam rangka mendukung MP3EI. Contoh, bandara Polonia yang tak layak tampung dan berada di jantung Kota Medan, dianggap kurang menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang dan warga Medan. Dengan pindahnya bandara ke Kuala Namo, otomatis akan membuka kawasan ‘Kota Baru’ sehingga mengurangi backlog, malah mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan masyarakat terutama di Sumatera Utara. Posisi Bandara Polonia saat ini juga membuat developer tidak bisa mengembangkan hunian vertikal ditengah kota,” ujar Alumni S1 Manajemen FE-USU ’94 ini. Edisi 78
- Rekomendasi Proyek Apartemen Sky Terrace
- Rekomendasi Proyek 1Park Residence
- Rekomendasi Proyek myHome Apartment
- Emiten BSDE
- Fenomena Rusunami di Ibukota Jakarta
Isi Komentar :