LOGIN
 
Senin, 30 Januari 2012 - 14:59:56 WIB
Risk Averse vs Loss Averse
Diposting oleh : reporter
Kategori: OPINI - Dibaca: 217 kali

Risk Averse vs  Loss Averse

Dalam teori portofolio modern, salah satu asumsi yang digunakan adalah risk aversion. Risk Aversion berarti investor akan memilih return yang lebih tinggi jika ada dua pilihan yang memiliki risiko yang sama atau investor akan memilih risiko yang lebih rendah jika dihadapkan pada dua pilihan yang memiliki return yang sama.

Sebagai contoh: Pilihan A bisa menghasilkan return 10% dengan tingkat risiko 7%, sedangkan pilihan B memiliki return 15% dengan risiko 7%. Maka investor yang rasional akan memilih B. Dalam contoh di atas, dapat dikatakan investor tsb adalah risk averse. Demikian pula sebaliknya jika pilihan C memiliki return 10% dan risiko 7%, dan pilihan D memiliki return 10% dan risiko 5%. Maka investor yang risk averse akan memilih D. Saya juga yakin bahwa Anda juga akan memilih B dan D jika dihadapkan dalam kondisi di atas. Investor yang risk averse akan meminta return yang lebih tinggi pada saat menghadapi risiko yang lebih tinggi.

Tetapi apakah investor pasti selalu bersikap rasional? Ternyata jarang sekali seorang investor bisa bersikap rasional. Salah satu penyebabnya adalah investor lebih cenderung loss averse dibandingkan risk averse.

Loss Averse adalah kondisi di mana investor tidak ingin mengalami kerugian sehingga investor tersebut bertindak secara tidak rasional. Mereka lebih memperhatikan kondisi untung atau rugi, mereka tidak memperhatikan besar kecilnya nilai untung ataupun rugi tsb. Beberapa tindakan yang mungkin diambil oleh investor yang loss averse antara lain:

1. Tetap mempertahankan investasi (misalnya saham) yang merugi meskipun tidak terlihat kemungkinan untuk balik ke harga pembeliannya, hal ini disebabkan investor tsb tidak ingin mengakui adanya kerugian.

2. Buru-buru menjual investasi yang menunjukkan keuntungan, karena takut keuntungan yang tidak direalisasikan bisa menghilang kembali.

3. Mengambil investasi yang berisiko tinggi dengan harapan untuk mengembalikan kerugian yang sudah terjadi. Sebagai contoh: pilihan E pasti menghasilkan return -20% (kerugian ), sementara pilihan F ada kemungkinan 50% menghasilkan return -50% dan kemungkinan 50% tidak rugi apapun. Karena loss averse yang tanpa disadari ada di kebanyakan investor, maka mereka lebih cenderung untuk memilih pilihan F. Apabila kita hitung expected return dari E adalah -20% dan expected return dari F adalah -25%. Investor rasional seharusnya memilih expected return yang paling tinggi, dalam contoh di atas adalah E, tetapi karena ada kepastian rugi di pilihan E, sementara pilihan F masih belum tentu rugi, maka cukup banyak investor memilih F. Dalam kondisi ini investor menjadi risk seeker, tidak lagi risk averse. Kondisi ini biasanya sering terjadi pada para penjudi dan spekulan.

4. House money effect: investor membedakan antara uang yang berasal dari kantong pribadi vs uang yang berasal dari keuntungan investasi. Investor yang baru saja mendapat keuntungan dari investasinya (misalnya transaksi saham) menganggap bahwa keuntungan tsb berasal dari uang pihak lain sehingga ia tidak merasa sakit jika uang tsb hilang kembali, akibatnya investor bisa bertransaksi secara berlebihan dan menjadi risk seeker.

Jadi penting sekali untuk menyadari apakah kita telah bertindak dengan rasional ataukah irasional tanpa sadar, karena tindakan yang irasional biasanya membawa hasil yang kurang baik. Sebelum Anda berinvestasi, lakukan analisis fundamental secara menyeluruh untuk menghindari tindakan loss averse di atas. Mungkin ada baiknya jika Anda juga memiliki seorang penasehat yang independen untuk mengingatkan Anda di saat tindakan yang diambil mulai kurang rasional. Semoga artikel singkat ini bisa bermanfaat bagi Anda.  Edisi 79

TOMMY ZHU, CWM, CFP®, AEPP®

Praktisi Keuangan & Pasar Modal

 

 


Berita terkait

0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2010 by propertynbank.com. All rights reserved.