LOGIN
 
Senin, 30 Januari 2012 - 15:17:53 WIB
BAMBANG WIDJANARKO Business Director BNI Syariah
Diposting oleh : reporter
Kategori: BANKIR - Dibaca: 226 kali

BAMBANG WIDJANARKO  Business Director BNI Syariah

OPTIMIS DITENGAHKRISIS GLOBAL

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, perkembangan perbankan syariah khususnya Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) terbilang cukup pesat. Asetnya, meningkat tajam per Oktober 2011 (year on year/yoy) tembus di angka 48,10%, menjadi Rp 127,19 triliun yang merupakan pertumbuhan tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir. Ditambah dengan aset BPRS sebesar ± Rp 3,35 triliun, sehingga total aset per Oktober 2011 mencapai sekitar Rp 130,5 triliun.

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pada 2012, pertumbuhan aset perbankan syariah tetap akan berada dalam tiga skenario dari level pesimis sampai pada level optimis dengan kisaran growth dari 29% - 50%. Dampak makro ekonomi berupa krisis keuangan global yang cenderung melambatkan laju pertumbuhan ekonomi banyak negara di dunia, diprakirakan memiliki pengaruh minimal terhadap industri perbankan syariah nasional.

Hal itu antara lain karena eksposur portofolio pembiayaan perbankan syariah hampir 100% tersalurkan berupa pembiayaan usaha di sektor produktif (sektor riil), dimana konsentrasi pembiayaan perbankan syariah adalah sektor usaha domestik yang tidak terkait langsung dengan perdagangan luar negeri. Selain itu, ini pun seakan menjadi bukti yang tersaji di depan mata, bahwa perbankan syariah mampu menggerakkan ekonomi nasional.

Salah satu pelaku utama pada industri perbankan syariah di tanah air yang kini acap mendapat sorotan adalah BNI Syariah. Bagaimana dengan kinerja BNI Syariah pada 2011, apakah masih optimis menapaki tahun 2012? Hingga akhir triwulan ketiga tahun lalu, Bank Umum Syariah yang kini memiliki lebih dari 96 outlet ini berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp91,09 miliar. Padahal, saat spin off Juni 2010, BNI Syariah masih mengalami kerugian. Pencapaian laba itu didorong oleh pendapatan operasional yang meningkat hampir tiga kali lipat, menjadi Rp713,87 miliar pada September 2011 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp223,24 miliar. Kinerja ini meningkatkan laba operasional dari anak usaha PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk ini menjadi Rp117,26 miliar dibanding tahun sebelumnya yang merugi Rp20,2 miliar.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang kinerja perseroan, mulai dari kredit, dana pihak ketiga (DPK), hingga strategi dalam memompa kinerja usaha menjadi lebih kencang lagi, Business Director BNI Syariah, Bambang Widjanarko memaparkan hal itu secara gamblang kepada redaksi Majalah Property & Bank, berikut petikannya:

Berapa besar kredit yang telah disalurkan BNI Syariah pada 2011?

Sebelumnya perlu kami jelaskan, di bank syariah istilah kredit dikenal sebagai pembiayaan. Kinerja hingga akhir November 2011, perseroan telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp5,25 triliun atau meningkat 57,84% dibanding dengan periode sebelumnya Rp3,25 triliun. Sampai akhir tahun, diperkirakan masih terjadi penambahan penyaluran pembiayaan sebesar Rp100 miliar. Sementara, pembiayaan yang mengalami pertumbuhan cukup besar terjadi pada sektor consumer.

Apa saja yang menjadi penyebab pertumbuhan kredit cukup signifikan itu?

Selama ini pembiayaan BNI Syariah didominasi pembiayaan sektor perumahan. Sektor ini mengusai sekitar 50% dari total pembiayaan yang disalurkan. Untuk sektor ini, kita memiliki Kredit Pemilikian Rumah (KPR) yang dikenal dengan Griya iB Hasanah yang menjadi produk unggulan kami. Dari waktu ke waktu, produk KPR mengalami pertumbuhan cukup bagus karena didukung oleh layanan electronic financing origination yang memungkinkan persetujuan dari processing system KPR lebih cepat karena bisa dilakukan secara on line. Selain itu, bisa dikontrol dan termonitor secara baik sepanjang penyertaan dokumen yang dibutuhkan memang lengkap. Nah, inilah yang membuat

Griya iB Hasanah menjadi produk unggulan kita. Mengingat selama ini nasabah selalu menginginkan proses persetujuan pembiayaan perumahannya lebih cepat.

Selain Griya iB Hasanah, apakah BNI Syariah menyalurkan kredit ke sektor lain?

Tentu saja. Kita juga masuk ke sektor pembiayaan produktif terutama bidang ritel. Porsi pembiayaan ritel hampir mencapai 28% dengan jenis yang berbeda, mencakup perdagangan, peternakan, serta industri kecil dan menengah. Proses persetujuan pembiayaan bidang ritel pun terbilang cepat. Pasalnya, hampir di seluruh kantor cabang telah tersedia special analyst yang bisa menganalisa seluruh dokumen secara cepat. Dalam rangka mendukung percepatan proses akad pembiayaan, kami juga memberikan kewenangan kepada setiap pemimpin cabang untuk mengambil keputusan diterima atau tidaknya pengajuan oleh nasabah.

Pada level pembiayaan cukup besar, memang harus diputuskan oleh kantor pusat. Akan tetapi pada umumnya kita jarang memelihara kreditur dengan porsi pembiayaan besar. Selama ini pembiayaan dengan berskala besar, porsinya hanya sekitar 20% dari total pembiayaan yang kita salurkan.

Masih ada lagi. Selain Griya iB Hasanah dan ritel, kita juga mempunyai produk Hasanah Card, yaitu kartu pembiayaan syariah atau lebih dikenal dengan kartu kredit syariah. Sektor ini juga kita dorong terus dan pada 2011 diupayakan bisa menopang pencapaian target fee base income cukup signifikan. Malahan, pada tahun 2012 ini kita akan tingkatkan lebih besar lagi mejadi 200% atau tiga kali lipat dari sebelumnya. Produk ini sendiri sudah berjalan selama dua tahun, dimana pada 2011 ditargetkan mencapai 50 ribu pengguna dan insya Allah bisa tercapai.

Khusus KPR, skema kredit yang ditawarkan seperti apa?

Sementara ini kita lebih banyak menggunakan pembiayaan murabahah. Skema ini lebih banyak dipilih nasabah karena cukup menarik, dimana cicilan sejak pertama hingga selesai tetap sama. Selain itu, BNI Syariah juga mulai meluncurkan skema KPR yang mirip dengan yang ditawarkan bank lain pada umumnya, yaitu musyarakah mutanakishah. Dengan kedua skema ini, kita bisa menyesuaikan dengan tingkat rate (imbal hasil) yang berlaku di pasar. Kalau imbal hasil di pasar mengalami kenaikan, maka kita juga akan naikkan, begitu juga sebaliknya.

Segmen KPR yang dibidik lebih ke kalangan mana?

Pada dasarnya, pembiayaan KPR yang kita salurkan tidak dibatasi pada level tertentu. Karena itu pembiayaan yang ditangani bisa mencapai Rp3 miliar, bahkan hingga Rp5 miliar. Tetapi pada umumnya pembiyaan KPR yang kita tangani mayoritas berada di kisaran Rp200 - Rp500 jutaan. Saya kira, kredit KPR di bank mana pun mayoritas berada di kisaran angka tersebut.

Untuk mendukung pertumbuhan KPR, BNI Syariah telah bekerjasama dengan developer mana saja?

Nah, selain proses persetujuan cukup pesat, salah satu yang membuat Griya iB Hasanah berkembang cukup pesat adalah kita juga melakukan kerjasama dengan hampir seluruh pengembang besar yang memiliki reputasi bagus di mata nasabah. Seperti Agung Podomoro Land, Tbk, Sinar Mas Land, Tbk, Ciputra Land, Tbk, dan Summarecon Agung, Tbk.

Dalam menggenjot pertumbuhan KPR, selain bekerjasama dengan pengembang besar, upaya apa lagi yang dilakukan BNI Syariah?

Kita siapkan sales team untuk area-area yang memiliki jumlah peminat terhadap properti cukup tinggi. Dimana mereka akan bertugas melakukan pemasaran dan pendekatan terhadap nasabah lama maupun membuka peluang pasar baru. Tim tersebut selama ini menjadi andalan kita dalam membantu meningkatkan jumlah kreditur perumahan. Adanya sales team juga sangat membantu mengklasifikasikan pembiayaan properti per segmen, sehingga penyaluran pembiayaan bisa lebih seimbang antara level kecil, menengah, dan besar.

Sementara penetrasi pasar yang sudah berhasil dijangkau, pertama tentu wilayah DKI Jakarta yang hingga kini masih mendominasi sekitar 50% dari total pembiayaan KPR kita, selanjutnya di Jawa, Surabaya dan Semarang. Sementara Sumatera yang mencakup Padang dan Medan terus tumbuh dan pasarnya cukup bagus, meskipun size-nya relatif masih kecil dibanding Jakarta dan Jawa.

Belakangan pembangunan apartemen semakin booming, apakah BNI Syariah berminat membidik pasar properti vertical?

Sementara ini belum digarap dan kita masih fokus pada pembiayaan landed housing. Tapi kedepan seiring trend konsumen yang mulai melirik apartemen utamanya di Jakarta dengan kondisi kemacetan kian parah, kita pasti akan menggarapnya. Ini merupakan pasar potensial untuk kita kembangkan.

Karena itu, saat ini BNI Syariah tengah menjajagi kemungkinan untuk dapat masuk pada pembiayaan KPA (kredit pemilikan apartemen). Namun demikian, manajemen akan tetap hati-hati dalam menyalurkan dana ke segmen ini, dimana kita harus mempelajari jaminan keamanan dari status kepemilikan, seperti kejelasan strata title atau Hak Guna Bangun (HGB).

Bagaimana dengan kinerja DPK, apakah terjadi peningkatan signifikan?

Perkembangan DPK akan sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan yang disalurkan. Karena pada umumnya LDR perbankan syariah termasuk BNI Syariah sudah mencapai 100%. Namun pertumbuhannya sendiri belakangan ini masih berkisar di angka 16% dari Rp5,17 triliun menjadi Rp6 triliun. Hal itu terjadi karena kami ingin meningkatkan komposisi dana murah. Perseroan memang tidak terpacu untuk menumbuhkan DPK karena rasio pinjaman dana terhadap pinjaman (finance to deposit ratio/FDR) sudah tergolong tinggi.

Proyeksi bisnis BNI Syariah pada 2012 seperti apa?

Pada tahun 2012 masih tetap optimis, karena Indonesia itu kalau kita lihat memiliki pasar domestik cukup tinggi dengan jumlah konsumen sangat besar. Ini merupakan faktor pendukung utama perkembangan perbankan nasional khususnya bank syariah. Kita memahami dan menyadari bahwa kondisi krisis di Eropa dan Amerika Serikat, mungkin sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap kinerja ekonomi di dalam negeri. Karena itu walaupun optimis, tetap berhati-hati dalam menggarap pasar dan kita hanya akan membiayai sektor-sektor bisnis yang tidak terkena dampak krisis.

Di internal kami sendiri masih memasang target pertumbuhan cukup optimis. Untuk DPK, misalnya, kita mentargetkan pertumbuhan antara 25-30% dengan komposisi dana murah, mencakup giro dan tabungan sekitar 55%, selebihnya adalah deposito. Ini namanya CASA. Supaya murah dan pricing kepada nasabah bisa bersaing dengan bank-bank lain, maka pada tahun 2012 komposisinya akan dijaga di atas 50%. Jadi, kita lebih mengejar kualitas, bukan total asset. Nah, bila target pertumbuhan sebesar 30%, maka DPK tahun ini akan mencapai sekitar Rp8 – 9 triliun.

Sementara pembiayaan ditargetkan tumbuh hingga 40%. Untuk menopang pertumbuhannya, kita akan mengarah ke sektor ritel consumer yang lebih serius dan fokus. Sedangkan pembiayaan skala besar, kita akan lebih banyak turut serta dalam kredit sindikasi di sektor-sektor yang memang lebih aman dari dampak krisis, seperti batu bara atau infrastruktur.

Untuk mencapai target-target tersebut, apa saja strateginya?

Banyak strategi yang akan digunakan dalam mempermudah pencapaian target. Salah satunya, kita akan memperkuat marketing comunication baik dengan cara below the line maupun above the line, seperti iklan di media massa, aktif dalam pameran atau expo, dan berbagai aktifitas lain yang dapat mendekatkan kepada masyarakat. Kita juga menyelanggarakan layanan gerak, menyediakan sejumlah kendaraan untuk melayani nasabah dengan cara mendatanginya ke tempat-tempat keramaian, seperti mal, pertokoan, lokasi bazaar atau event tertentu yang berskala besar. Jadi, kedua cara promosi itu akan dimanfaatkan seoptimal mungkin.

Selain itu, untuk mendapatkan dana murah, kita juga melakukan pedekatan kepada institusi dengan menawarkan bisnis model pengelolaan dana cash manajemen sesuai kebutuhan. Institusi tersebut bisa perusahaan, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lain sebagainya. Bahkan kita juga melakukan pendekatan kepada komunitas-komunitas masyarakat, seperti kelompok pencinta fotography, ibu-ibu pengajian, atau group masyarakat yang aktif pergi umroh.

Berapa rencana penambahan outlet dan kantor cabang di tahun ini?

Penambahan fasilitas outlet dan kantor cabang ini sangat tergantung pada ketersediaan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, khususnya di level manajer. Pada tahun 2011, kita menambah 10 uotlet, 38 kantor cabang pembantu dan saat ini sudah lebih dari 100 outlet. Mungkin, kita akan menambah jumlahnya seperti tahun lalu tetapi itu pun sebenarnya sudah cukup membantu melakukan penetrasi pasar BNI Syariah.

Disamping itu, juga bekerjasama dengan BNI melalui program syariah office channeling, dimana hampir seluruh kantor cabang utama maupun pembantu BNI dapat melayani transaksi syariah. BNI sendiri sampai saat ini telah memiliki lebih dari 1.000 outlet dan kantor cabang.

Kendala yang akan dihadapi pada 2012 selain krisis Eropa dan Amerika?

Kalau kendala-kendala lain bukan hanya 2012 saja tetapi pada tahun-tahun sebelumnya juga terjadi, yakni terkait masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah. Istilah-istilah yang digunakan dalam operasional perbankan pun masih sulit dimengerti. Bayangkan, hingga kini hanya sekitar 30% diantara mereka yang sudah aware terhadap bank berbasis syariah, selebihnya masih awam dan lebih suka berhubungan dengan bank konvensional. Tak heran, bila market share syariah di Indonesia hingga saat ini masih relatif kecil, tidak lebih dari 4%.

Untuk meningkatkan market share menjadi lebih besar lagi, mau tak mau kita harus meningkatkan frekuensi dari kegiatan sosialisasi kepada masyarakat. Kemudian kita juga masih membutuhkan dukungan regulasi atau kebijakan dari pemerintah yang dapat mendorong perkembangan dan pertumbuhan perbankan syariah, seperti penempatan dana haji di bank-bank syariah.

Dan jika dana haji bisa tetap di perbankan syariah, maka akan sangat membantu pertumbuhan DPK. Karena itu kami meminta agar tidak dipindahkan ke sukuk milik pemerintah. Kita bisa memberikan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat calon haji dengan memberikan dana talangan, sehingga meskipun belum memiliki dana yang cukup namun mereka sudah bisa mendapkan quota keberangkatan.

Di tengah kesibukan sebagai banker, bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Jadi gini, perhatian terhadap keluarga dan pekerjaan memang harus seimbang dan pemberian porsinya tidak boleh timpang. Saya menyadari bahwa profesi sebagai banker banyak menyita waktu, artinya lebih banyak di kantor, mengunjungi klien, costumer atau nasabah di luar rumah.

Pada hari kerja, misalnya, sebagai upaya menghindari kemacetan Jakarta, rata-rata saya harus berangkat dari rumah pada pukul 5.30 WIB, kemudian pulang kerja sekitar pukul 20.00 WIB. Nah, sebagai langkah penyeimbangnya saya upayakan untuk makan malam bersama keluarga sepanjang tidak ada kegiatan kantor. Meskipun hanya satu jam, kegiatan itu saya usahakan betul bisa terlaksana agar dapat bertemu dengan keluarga dan anak-anak.

Selain itu, pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu) diupayakan untuk bisa bersama dengan cara makan malam atau aktifitas lain yang melibatkan seluruh unsur keluarga. Pokoknya, kita sudah jadwalkan ada jam-jam khusus berkumpul dengan keluarga dan dibuat lebih berkesan serta bermakna, bahkan sengaja mengambil waktu cuti pada saat anak-anak libur sekolah. Jadi kami lebih mengedepankan kualitas pertemuan dibanding kuantitas.

Seperti apa dukungan keluarga terhadap karir yang Anda jalankan?

Alhamdulillah, keluarga sangat mendukung pekerjaan yang saya jalankan selama ini. Contoh, saya kan sering berpindah tempat tinggal karena tuntutan pekerjaan dan keluarga merasa tidak bermasalah, bahkan dengan senang hati mereka ikut pindah. Misalnya, kalau kita dimutasi oleh manajemen ke tempat tertentu, terus istri atau anak tidak mau pindah kan menjadi repot. Nah, keluarga kebetulan selalu bersedia menemani kemana pun saya pergi dan ini jelas merupakan salah satu bentuk support yang cukup berharga. Edisi 79


Berita terkait

0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2010 by propertynbank.com. All rights reserved.