Senin, 30 Januari 2012 - 15:29:44 WIBDESI ARIANTI Vice President of Tourism HIPMI
Diposting oleh : reporter
Kategori: EKSEKUTIF - Dibaca: 191 kali
Tweet


Belakangan industri pariwisata dan hospitality mengalami pertumbuhan signifikan, meskipun masih jauh tertinggal oleh negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pertumbuhan ini seiring dengan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang terus bertambah dalam tiga tahun terakhir dan pada 2011 mencapai hampir 7,7 juta orang.
Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan sekitar 8 juta wisman. Untuk mencapai target ini tentu dibutuhkan dukungan seluruh stakeholder di industri tersebut utamanya infrastruktur pendukung yang memadai, seperti akses menuju destinasi, alat transportasi, dan sistem publikasi menyeluruh.
Bila infrastruktur tersebut tersedia dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi di daerah bersangkutan yang digerakkan oleh sektor bisnis turunan seperti hospitality dan entertainment, dipastikan akan semakin kencang. Perputaran bisnis tutrunannya pun akan melaju lebih cepat lagi.
Seperti apa optimisme kalangan dunia usaha, khususnya sektor pariwisata dan hospitality dalam menjalankan bisnisnya tahun 2012 ini? Vice President of Tourism, Agribusiness, Marine Affair and Fisheries Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Desi Arianti mengungkapkan beberapa potensi bisnis turunan sektor itu termasuk berbagai tantangan dan kendala yang dapat menghambat laju pertumbuhannya, berikut petikannya:
Kabarnya Anda mulai membuka bisnis café resto di sekitar wilayah Kemang, Jakarta Selatan, seperti apa perkembangannya?
Ya, saya sejak satu setengah tahun terakhir mulai membuka bisnis café resto di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, tepatnya di Jl. Bangka Raya XI, No. 3A, namanya D’Spice Resto&Café. Sejak pertama saya buka, antusiasme masyarakat cukup tinggi karena sebelumnya saya memang sudah mengembangkan bisnis catering. Jadi banyak pelanggan lama yang juga tertarik untuk sekedar kongko atau santai sambil menikmati berbagai menu masakan nusantara yang disajikan reto kami.
Segmen pasar yang dibidik lebih ke family, anak muda, dan group. Harga-harga menu masakan dan minuman yang ditawarkan juga relatif terjangkau, rata-rata berkisar antara Rp10 ribu – Rp100 ribuan per porsinya. Nasi goreng buntut balado, misalnya, hanya kami jual seharga Rp 35 ribu per porsi. Angka ini, jelas lebih murah dibanding kompetitor yang membuka usaha di sekitar kami. Karena itu, tak sedikit diantara mereka yang memilih merayakan pesta ulang tahun dirinya atau putra putrinya di D’Spice.
Apakah bisnis yang Anda geluti merupakan salah satu upaya untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan industri pariwisata?
Jelas, ini adalah sebagai bentuk kepedulian dan dukungan saya terhadap kemajuan industri pariwisata di Indonesia karena usaha resto dan café merupakan bagian dari bidang hospitality yang sangat penting untuk tumbuhkembangnya industri tersebut. Hotel, resto dan café, serta entertainment adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari industri pariwisata.
Mengingat, semua turis baik asing maupun lokal dimana pun pasti membutuhkan fasilitas berlibur yang nyaman, mudah, dan murah. Wong tujuannya juga berlibur dan santai dalam rangka menghilangkan kepenatan selama masa kerja, masak sekadar mencari makan atau tempat kongko saja susah. Kalau tempat wisatanya seperti itu, ya nggak bakal ada yang bersedia datang.
Menurut Anda, apakah bisnis hospitality di Indonesia cukup potensial?
Untuk Indonesia, besar sekali potensinya. Sebenarnya Negeri ini kan amat kaya dengan destinasi wisata unik dan menarik, namun masih banyak yang belum digarap secara serius sehingga multiplayer effect-nya terhadap kegiatan ekomomi belum menonjol, seperti halnya kawasan Bali.
Belakangan, memang mulai bermunculan tempat-tempat wisata di beberapa daerah yang memawarkan pesona dan keindahan tak kalah menariknya dengan Pulau Dewata. Nah, ini saya rasa akan dapat mendorong perkembangan bisnis hospitality di dalam negeri. Industri ini sangat menunjang pertumbuhan tempat wisata dimana pun.
Sejauh mana peran industri hospitality dalam menunjang pariwisata nasional?
Sangat besar. Mungkin, jika tidak ada hotel, café, resto, atau entertainment, turis tidak akan bersedia mengunjungi destinasi yang kita miliki, meskipun menawarkan eksotisme keindahan yang luar biasa. Jika fasilitas itu tersedia lengkap, kemungkinan besar warga asing yang datang ke Indonesia tidak sekedar bisnis semata, melainkan juga sebagai leisure yang sarat dengan berbagai fasilitas liburan memadai, mudah, murah, dan nyaman.
Nah, untuk menyediakan kelengkapan fasilitas tersebut menjadi tugas kita bersama. Selain itu, pemerintah dan seluruh elemen bangsa wajib mengkampanyekan detinasi-destinasi wisata menarik yang kita miliki, termasuk aneka kekayaan masakan khas nusantara, seperti nasi goreng, pisang goreng, bahkan rendang. Kan sayang bila keunikan budaya atau kekayaan asli yang kita miliki seperti itu kemudian diklaim oleh orang lain(baca: diambil negara lain).
Perkembangan industri hospitality di tempat-tempat wisata luar Bali, seperti apa?
Seiring dengan mulai bermunculannya destinasi wisata, seperti Wakatobi, Raja Ampat, dan Pulau Komodo, saya lihat banyak sekali hotel berdiri di sekitarnya, meskipun tidak persis di area wisata. Itu terjadi karena sedikit banyaknya pemerintah sudah serius dan belakangan sudah mulai menggalakan Cinta Negeri Sendiri, dimana masyarakat didorong untuk menikmati liburan di dalam negeri.
Hal itu pasti membuka potensi devisa bagi negara yang signifikan, khususnya daerah dimana terdapat tempat wisata. Tetapi amat disayangkan, investor yang membangun hotel dan fasilitas lainnya kebanyakan adalah asing. Pengusaha lokal sendiri, belum memiliki keberanian menggarap sektor pariwisata dalam negeri. Ini menjadi tantangan bagi kami, sebagai salah satu bagian dari komunitas pengusaha nasional.
Infrastruktur apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan industri hospitality?
Tergantung kondisi daerah bersangkutan. Pulau Komodo, misalnya, dari Jakarta untuk bisa sampai ke destinasi ini harus terbang terlebih dahulu ke Flores, setelah itu kita menyeberang dengan kapal laut dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Nah, agar lebih gampang dijangkau oleh turis, maka dibutuhkan sarana transportasi yang memadai, seperti menambah jadwal penerbangan oleh sejumlah airline, bila perlu terdapat penerbangan yang langsung ke lokasi, catatan airport-nya juga harus tersedia. Jika tidak, speed boat sebagai alat untuk penyeberangan harus diperbanyak.
Selain itu, hotel sebagai tempat tinggal juga penting untuk disediakan. Saat ini di Pulau Komodo belum tersedia penginapan yang memadai. Setiap pengunjung atau turis yang datang ke sana, terpaksa harus menginap di Flores yang memang sudah menyediakan fasilitas hotel sejak lama untuk kepentingan bisnis, tetapi itupun masih terbatas jumlahnya.
Apakah pemerintah menyadari bahwa ketersediaan fasilitas tersebut sangat penting dalam mengembangkan industri pariwisata?
Saya kira pemerintah sudah sangat memahami hal itu. Tetapi maksud saya, bahwa hal-hal demikian harusnya sudah menjadi perhatian pemerintah sejak dahulu kala. Ingat, pemerintah pun harus lebih fokus dan serius, bila ingin mengembangkan destinasi wisata yang baru menjadi lebih bagus. Jadi, jangan sampai turis merasa kecewa dengan minimnya fasilitas pendukung, padahal detinasinya memang sangat menarik dikunjungi.
Sebagai perbandingan, belum lama ini saya berlibur ke Puket, Thailand, mereka ternyata jauh lebih siap dalam mengembangkan industri pariwisatanya. Selain berbagai fasilitas pendukungnya memang benar-benaLS
- BAMBANG WIDJANARKO Business Director BNI Syariah
- Euphoria Investment Grade
- Risk Averse vs Loss Averse
- APARTEMEN MENCORONG KPA MENURUN
- Refleksi dan Evaluasi Kinerja Akhir Tahun 2011
Isi Komentar :