Friday , 6 December 2019
Home / Nasional / Ekonomi / BUMN Ramai-ramai Garap Properti

BUMN Ramai-ramai Garap Properti

Investasi di sektor properti Tanah Air kian menggiurkan. Selain menawarkan prospek pasar cukup cerah, nilai asetnya juga terus merangkak naik. Tak ayal, sejumlah perusahaan dan anak usaha BUMN pun kian serius menggarap hunian, komersial, hotel, kondotel, hingga perkantoran.
Masuknya perusahaan yang notabene sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bisnis properti sebenarnya bukan hal baru. Seperti kita ketahui, sejak belasan tahun silam tak sedikit perusahaan plat merah terutama BUMN karya yang sudah berkecimpung dalam industri properti. Hanya saja kiprah mereka salama ini tak banyak diketahui khalayak ramai, lantaran belum secara serius menggarap properti yang dikomersilkan.
Kala itu, sejumlah BUMN karya hanya membangun gedung atau kantor untuk kepentingan sendiri dan hanya terdapat satu perusahaan yang fokus menggarap bisnis properti, yakni Perumnas. Padahal, tidak sedikit di antara mereka yang memiliki lini bisnis di sektor properti seperti Wijaya Karya dan Adhi Karya.
Seiring makin tingginya kebutuhan pasar dan terus berkurangnya ketersediaan lahan pengembangan properti baru oleh developer swasta di kota-kota besar seperti Jakarta, maka mereka (BUMN-BUMN) sadar bahwa bisnis properti masih sangat menggiurkan untuk digarap. Sementara, aset lahan cukup luas yang mereka dimiliki selama ini dibiarkan begitu saja, tanpa menghasilkan apapun.
Kesadaran itulah yang seolah melecut kinerja BUMN dengan membentuk anak usaha di sektor properti untuk memaksimal aset-aset lahan tidur menjadi bangunan komersil, seperti hotel, apartemen, dan perkantoran. Tujuannya, tidak lain untuk meningkatkan pendapatan perseroan di luar bisnis inti (core business) perusahaan induk.  
Maraknya perusahaan pelat merah yang menggarap bisnis properti sebagai upaya memaksimalkan aset bagi pendapatan perseroan, seiring dengan kebijakan Menteri BUMN, Dahlan Iskan tentang upaya pembenahan kinerja seluruh BUMN di Tanah Air. Dimana, mereka dituntut berkinerja baik dengan perolehan laba tinggi, sehingga dapat berkontribusi besar bagi pendapatan negara.
Terkait hal itu, pada awal 2011 Dahlan Iskan sempat melontarkan keninginannya untuk membentuk BUMN khusus di bidang properti. Sayang, keinginan itu hingga kini belum terwujud. Meskipun demikian, upaya memaksimalkan aset lahan bisa berjalan sesuai harapan. Kini hampir semua perusahaan dan anak usaha BUMN semakin mantap menggarap berbagai proyek properti hunian, perhotelan, dan perkantoran. Total aset proyek yang digarap sejak 2013 hingga beberapa tahun ke depan pun terbilang cukup fantastik, mencapai Rp31 triliun.
Perusahaan dan anak usaha BUMN inti meliputi PP Properti dengan proyek senilai Rp 19,8 triliun, Adhi Persada Properti (Rp 6 triliun), Perumnas (Rp 2,28 triliun), Waskita Karya (Rp 1,8 triliun), Angkasa Pura (AP) Properti (Rp 800 miliar), Jasa Marga Properti (Rp 500 miliar), dan PTKA Properti (Rp 200 miliar).
Strategic Bussiness Development PT Angkasa Pura I (AP I) Widodo Marmer, mengungkapkan AP I terjun ke bisnis properti dengan membentuk PT AP Properti antara lain untuk memanfaatkan lahan yang menganggur (idle), sekaligus untuk transformasi perusahaan dan meningkatkan pemasukan setelah pendapatan dari sektor navigasi terpangkas. “Dalam bisnis ini, kami juga bersinergi dengan BUMN lainnya,” kata Widodo Marmer, seperti dikutif beberapa media belum lama ini.
Dia menambahkan, sinergi dengan BUMN lain bisa berupa kerja sama teknis, seperti konstruksi. Namun, bisa pula dalam bentuk pemasaran dan keuangan. “AP I membentuk AP Properti untuk membangun hotel dan kondotel di sejumlah kota,” tutur dia.
Widodo menjelaskan, nilai proyek yang digarap AP Properti pada 2013 hingga beberapa tahun ke depan sekitar Rp 800 miliar. Proyek tersebut berlokasi di Bali. Sedangkan proyek lainnya digarap melalui AP Hotel, di antaranya Bandara Djuanda (Surabaya), Bandara Hasannudin (Makassar), dan I Gusti Ngurah Rai (Bali). Di sektor hotel, anak usaha BUMN ini menargetkan 1.000 kamar dalam tiga tahun pertama. Pada 2014, AP Hotel juga berniat membangun hotel di Bandara Sepinggan, Rawasari, Banjarmasin, dan Manado.
Direktur Utama PT PP Tbk Bambang Triwibowo mengungkapkan, sektor properti di Tanah Air masih sangat menjanjikan. “Itu sebabnya, kami antusias masuk ke bisnis properti, selain bisnis konstruksi yang selama ini digeluti,” papar dia.
Bahkan, pihaknya memisahkan divisi properti menjadi anak usaha tersendiri, yakni PT PP Properti. Anak usaha tersebut bakal menggarap proyek senilai Rp 19,8 triliun dalam beberapa tahun ke depan. “Kami optimistis bisa mengembangkan sektor properti menjadi lebih baik,” ucapnya.
Proyek yang digarap PP Properti, tersebar di berbagai kota dengan beragam jenis, mulai hunian, komersial, hingga perkantoran. Proyek itu terdiri atas Grand Kamala Lagoon Bekasi senilai Rp 11 triliun, proyek apartemen Tanjung Duren Jakarta Rp 3 triliun, dan proyek mixed use Grand Sungkono Lagoon Surabaya Rp 5 triliun. Selain itu, Bukit Permata Puri Semarang senilai Rp 146 miliar dan Gunung Putri Bogor Rp 750 miliar.

Check Also

Unggul Telak Atas Joko, Totok Lusida Pimpin REI Pusat Hingga 2022

NASIONAL – Sesuai prediksi sejumlah pihak, Totok Lusida memenangkan pemilihan Ketua Umum DPP REI periode …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 166

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
Cover Property&Bank edisi 166
close-link
INFO LEBIH LANJUT KLIK DISINI!
close-link