Tuesday , 20 November 2018
Breaking News
Home / Breaking News / Butuh Intervensi Pemerintah Agar Kalangan Milenial Mampu Beli Rumah

Butuh Intervensi Pemerintah Agar Kalangan Milenial Mampu Beli Rumah

Ketua Kehormatan REI Lukman Purnomosidi dan Ketua DPD REI DKI Jakarta Amran Nukman saat jumpa media

BERITA PROPERTI – Agar kalangan milenial mau dan tertarik membeli properti, pemerintah harus turun tangan melalui kebijakan khusus, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Ketua DPD REI DKI Jakarta Amran Nukman menegaskan, perhatian pemerintah kepada generasi milenial sebetulnya sudah tampak dibeberapa sektor. Menurut dia, Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan sering mengatakan bahwa generasi milenial itu adalah tulang punggung ekonomi Indonesia masa depan.

Dilain pihak, kata Amran, ada riset yang mempublikasikan, akibat harga rumah tidak sebanding dengan pendapatan mereka, generasi milenial terancam tidak bisa memiliki rumah pada 2020! Padahal, generasi milenial jumlahnya sangat banyak, hanpir sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia saat ini.

“Mereka (kalangan milenial-red) perlu dibantu untuk memiliki hunian. Pemerintah sudah menyediakan program dan paket khusus bagi MBR, tapi kalangan milenial yang jumlah sangat banyak ini belum ada kebijakan khusus. Jadi, kami melihat bahwa perlu campur tangan pemerintah bagi kalangan milenial di sektor porperti,” ujar Amran.

Hal in, sambung Amran, menjadi perhatian pemerintah dan otoritas perbankan, bagaimana agar ada insentif atau paket-paket kebijakan perumahan untuk mereka. Sampai sekarang, dirinya mengaku belum melihat intervensi regulator menyentuh sektor perumahan bagi generasi milenial itu. Padahal ini mendesak dan harus ditindaklanjuti oleh regulator.

“Kebanyakan dari milenial, incomenya sudah di atas Rp 5 juta, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan subsidi perumahan dari pemerintah, sementara untuk membeli rumah komersial dengan harga Rp 300 –Rp500 jutaan pun sulit. Oleh sebab itu, supaya generasi milenial bisa memiliki hunian, sebaiknya diberi fasilitas membeli rumah semi MBR dengan harga Rp140 juta – Rp500 juta dengan 50% subsidi FLPP dan diberi keringanan PPN dan PPh,” ungkap Amran.

BACA JUGA :   PSR 2018, REI Optimis Bangun 250.000 Unit

Sementara itu, Ketua Kehormatan REI Lukman Purnomosidi mengusulkan kepada regulator untuk membuat formulasi,skim-skim baru bagi generasi milenial agar mereka mampu memiliki rumah sendiri. Meski sulit membeli rumah, katanya, kalangan milenial bisa diselamatkan dengan insentif khusus agar bisa membeli rumah dengan rentang harga Rp 200 juta hingga Rp 500 juta,

“Ini harus jadi program nasional. Mereka mampu kok mencicil Rp 3 juta hingga Rp 6 juta per bulan. Namun, harus diberi insentif supaya aware untuk membeli rumah. Generasi milenial ini perlu disentuh program subsidi supaya income mereka bisa dibelanjakan secara produktif. Tarik mereka membeli hunian yang bisa menjadi aset produktif bagi mereka. Kalau tidak, maka generasi milenial ini bisa menggerus devisa karena mereka cenderung lebih memilih traveling ke luar negeri,” ungkapnya.

Jumlah generasi milenial memang sangat signifikan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), generasi milenial pada 2020 akan mencapai 35% dari total populasi rakyat Indonesia atau sebanyak 75 juta jiwa.  Mereka juga menjadi pangsa terbesar dari angkatan kerja di Indonesia saat ini yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 22,5 juta orang.

BACA JUGA :   Tabungan BTN Perumahan Gandeng Intiland

Pada kesempatan sebelumnya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Soelaeman Soemawinata, mengatakan pemangku kebijakan dan pelaku usaha pembangunan perumahan harus memikirkan upaya penyediaan fasilitas hunian dengan pola kepemilikan bagi generasi milenial.

“Pelaku usaha pengembangan perumahan harus membuat inovasi dengan menyediakan hunian seharga Rp 400 juta-an hingga Rp 600 juta-an bagi generasi milenial. Hitungannya, rumah seharga itu dapat dibeli dengan cara mencicil kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulan selama 15 tahun,” ujar Soelaeman Soemawinata yang akrab dengan sapaan Eman.

Bagi kalangan ini, sambung Eman, diperlukan strategi khusus agar mau membeli properti karena selama ini gaya hidup mereka lebih banyak untuk traveling, atau hang-out di restoran dan kafe. Terlebih lagi, mereka belum memiliki rumah karena tidak memiliki tabungan yang cukup untuk bayar uang muka pembelian rumah.

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*