Monday , 25 March 2019
Home / Bahan Bangunan / Desain Universal Simpati Pada Penghuni Disabilitas, Ini Pemenang DDA 2018

Desain Universal Simpati Pada Penghuni Disabilitas, Ini Pemenang DDA 2018

Para pemenang Dulux Designers Awards 2018 bersama juri

BAHAN BANGUNAN- Perusahaan cat premium dan pelapis global, AkzoNobel, resmi menetapkan empat pemenang kompetisi desain hunian universal Dulux Designer Awards (DDA) 2018. Kompetisi ini menjadi medium bagi arsitek dan desainer interior Indonesia menunjukan karya inovasi hunian dan potensi yang mereka miliki.

Oleh para juri, masing-masing pemenang dinilai berhasil menciptakan desain karya yang sesuai kriteria sebagai hunian bagi semua kalangan. Salah satu juri, Lea Aviliani Aziz menyebut, sejatinya tak mudah membuat desain hunian dengan luas bangunan yang terhitung kecil, yakni maksimal 45 meter persegi.

BACA JUGA :   Lebih 150 Brand Hadir Di Index Mozaik 2017

Karya mereka memenuhi kebutuhan semua penghuni dengan beragam kondisi tubuh dan usia. Keempat desain terpilih dinilai luar biasa. “Desain anak muda ini memang luar biasa, karena satu rumah bisa digunakan untuk semua umur dan kondisi fisik pemiliknya,” ujar Lea pada Senin (11/3), di Jakarta.

Hal senada disampaikan oleh juri DDA 2018 lainnya, Chairul Amal Septono, dari Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII). Alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini menerangkan, tren saat ini, orang yang memiliki kondisi fisik yang berbeda, tak mau dipandang aneh oleh sekitarnya.

Itu sebabnya, desain berperan penting untuk menyediakan akses yang sama bagi beragam kondisi fisik dan kesehatan setiap orang. Ada tujuh kriteria yang harus dipenuhi agar disebut hunian universal, yakni equitable, flexibility, simple, intuititive use, tolerance error, low physical effort, dan size and space for approach and use.

BACA JUGA :   Ingat, Awal Mei Indobuildtech Expo 2018 Digelar Di ICE BSD City

“Desain itu harus mementingkan pasar. Namun, faktanya orientasinya justru hanya pasar, bahkan kerap lupa ada pemakai yang harus diperhatikan kebutuhannya,” ujar pria yang akrab disapa Amal ini. Penilaian panel juri didasarkan pada konten desain, konten teknologi, penggunaan warna, dan solusi inovatif.

Penjurian terdiri dari dua kategori yakni Best Design dan Most Inspiring Design, untuk dua level berbeda, yaitu profesional dan mahasiswa. Dari kalangan profesional, terpilih sebagai Best Design adalah Lamin House, hasil rancangan Widia Amalia dan tim.

Desain Widia terinspirasi dari rumah adat panjang dan sambung menyambung, serta memadukan unsur tradisional lewat penggunaan kontruksi seperti rumah panggung dan warna kuning khas Dayak asal Kalimantan Timur. Tata letak, aliran udara, hingga kamar mandi dirancang memudahkan penghuni yang tak semua kondisi fisiknya normal.

BACA JUGA :   Conwood Kembangkan Rumah Tahan Gempa

Penggunaan hand rail di sejumlah dinding membuat orang yang sedang kurang sehat, tetap bisa beraktivitas mandiri. “Kami merancang agar tak ada satupun anggota keluarga yang terlupakan, meski dalam kondisi sakit. Desainnya tidak terlalu kuno,tapi tidak juga modern yang rumit, sehingga orang lanjut usia pun tetap nyaman,” katanya.

Sementara, peraih Most Inspiring Design dari kategori profesional adalah tim yang dipimpin Gery Novianto. Lewat konsep W-House, tim tersebut menawarkan solusi hunian yang tetap sehat meski berada di lahan yang cukup sempit.

“Kami terinpirasi dari kata universal. Tak cuma fungsi, tapi universal di segala medan. Ini berawal dari keresahan kami, atas kepadatan hunian di kawasan ibu kota. Kami tertantang bagaimana caranya menciptakan hunian yang sehat, dan manusiawi bagi penyandang disabilitas,” katanya.

BACA JUGA :   Dulux Perkenalkan Copper Orange Sebagai Tren Warna 2015

Dari kategori mahasiswa, peraih Best Design adalah Rumah Kita. Desain rumah yang dirancang gabungan tiga mahasiswa dari Universitas Mercubuana dan UGM itu menawarkan solusi mengelola lahan mati.

“Kami merancang hunian sehat dan nyaman di tempat lahan mati, serta liveable bagi semua kalangan, termasuk mereka yang menyandang disabilitas. Lagipula pada dasarnya, kita lahir ke dunia ini sebagai kondisi difabel, dan kelak, saat tua nanti juga kembali difabel,” ujar Landi Ismatullah.

Terakhir, peraih Most Inspiring Design dari kategori mahasiwa dimenangkan oleh desain Bale Alit. Desain ini dirancang sekumpulan mahasiswa Universitas Islam Indonesia. “Topiknya cukup challenging, karena universal itu enggak ada takaran pastinya,” ujar Moh. Ihsan Hermanta, inisiator tim.

BACA JUGA :   Dulux Dan Seniman Lokal Warnai Yogyakarta

Terkait kompetisi itu, Anastasia Tirtabudi, Head of Brand and Consumer Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia, berharap dari ajang desain ini, pihaknya bisa menyebarkan perubahan positif demi menanamkan nilai-nilai baru pada konteks sosial dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Kita paham ekspektasi masyarakat makin tinggi. Semakin sensitif arsitek, diharapkan semakin bisa menjawab kebutuhan hunian di masa datang. Mudah-mudahan ini memberi inspirasi dan ide, dan ditangkap idenya oleh pemerintah atau developer,” ujarnya. (Artha Tidar)

Check Also

Saumata Apartment Hadirkan Suites Premium, Hanya 104 Unit

BERITA PROPERTI-  PT. Sutera Agung Properti kembali menawarkan hunian eksklusif Saumata Suites. Pembangunan proyek yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Telah Terbit Edisi Terbaru

Majalah Property&Bank
Edisi. 157

Pesan Sekarang!
close-link