Friday , 18 October 2019
Home / Nasional / Ekonomi / DPK Bank BTN Tumbuh 22,61 %

DPK Bank BTN Tumbuh 22,61 %

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan pencapaian dana pihak ketiga  perseroan pada semester I 2014 tumbuh cukup signifikan diatas rata-rata industri dalam negeri. Pertumbuhannya mencapai 22,61% dibanding posisi yang sama tahun 2013. Semester I 2014 dana pihak ketiga Bank BTN mencapai Rp.101,345 Triliun atau meningkat perolehannya dibanding posisi yang sama 2013 sebesar Rp.82,656 Triliun. Sementara pertumbuhan rata-rata industri dalam negeri sekitar 12,36%. Pertumbuhan dana pihak ketiga Bank BTN melampaui rata-rata industri.
“Industri perbankan pada tahun ini mengalami sejumlah tekanan. Tekanan terbesar datang dari kenaikan biaya dana yang merupakan imbas dari ketatnya likuiditas dan naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Disamping itu kondisi perekonomian nasional juga mengalami perlambatan. Dalam kondisi seperti ini bank cenderung berhati-hati terutama dalam menyalurkan kredit agar tidak terjebak pada kredit macet,” jelas Maryono, Direktur Utama Bank BTN pada acara buka puasa bersama dengan sejumlah awak media di Jakarta, Senin 21 Juli 2014.
Maryono mengatakan, berdasarkan kinerja semester I 2014 kredit dan pembiayaan yang disalurkan Bank BTN mencapai Rp.106.584 Triliun. Kredit ini mengalami pertumbuhan 16,61% dibanding posisi yang sama tahun 2013 yang sebesar Rp.91,403 Triliun. Komposisi kredit tersalur masih 88,07% pada housing loan atau sekitar Rp.93,870 Triliun. Sementara sisanya 11,93% disalurkan pada non housing loan yang mencapai Rp.12,714 Triiliun.
Meskipun dalam kondisi likuiditas yang cukup ketat, Perseroan masih dapatkan meningkatkan interest income sebesar Rp.6,467 Triliun naik dari posisi yang sama tahun 2013 sebesar Rp.5,188 Triliun. Interest expense tercatat sebesar Rp.3,791 Triliun. Sementara other operating income sebesar Rp.390 Milyar dan other operating expense sebesar Rp.Rp.2,324 Triliun. Laba bersih Bank BTN tercatat sebesar Rp.539 Milyar.
Perseroan berhasil menurunkan rasio LDR dari 110,58% pada semester I 2013 menjadi 105,17% pada semester I 2014. Bank BTN berada dalam kondisi likuiditas yang sangat kuat. Khusus untuk rasio tentang LDR  (loan to deposit ratio)  perseroan, dijelaskan oleh Maryono  tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi likuiditas Bank BTN.
“Dalam formula perhitungan LDR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, tidak memasukkan komponen sumber dana Perseroan lainnya seperti obligasi, pinjaman berjangka waktu panjang dan sumber dana lainnya. Bisnis perseroan perlu didukung oleh dana jangka panjang. Untuk melihat kondisi likuiditas Perseroan, Bank BTN  menggunakan perhitungan Loan to Funding  rasionya hanya sebesar 89% yang berarti masih berada dalam rentang normal. Apalagi jika melihat secondary reserve Bank BTN per 30 Juni 2014 masih diatas Rp.8 Triliun, maka dapat dikatakan Bank BTN dalam kondisi likuiditas yang sangat aman,” tegasnya.  
Bank BTN tetap akan menyalurkan pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan menengah kebawah atau subsidi.  Perseroan akan tetap menjadi eksekutor terbesar untuk program pemerintah di bidang perumahan. Ini karena track record Bank BTN selama ini telah membuktikan sepanjang sejarah kebijakan pemerintah tentang program rumah rakyat, Bank BTN selalu menjadi pemimpin dengan kontribusi lebih dari 95%. Ini sejarah dan fakta yang tidak bisa dipungkiri karena telah terbukti dan bermanfaat bagi rakyat banyak.
“Bank BTN akan tetap fokus pada pembiayaan perumahan, termasuk pembiayaan perumahan non subsidi untuk   memperkuat posisi sebagai market leader KPR. Termasuk pengembangan kredit non perumahan bermargin tinggi secara selektif,” ungkap Maryono yang didamping oleh Direksi Bank BTN lainnya.   
Komposisi KPR bersubsidi per 30 Juni 2014 sebesar 34,11% atau Rp.31,174 Triliun naik dibanding posisi yang sama tahun 2013 sebesar 29,50% atau Rp.26,966 Triliun. Sementara untuk KPR non subsidi sebesar 46,12% atau Rp.42,155 Triliun naik dari posisi yang sama tahun 2013 sebesar 37,79% atau Rp.34,539 Triliun. Kredit selebihnya tersalur untuk mendukung konstruksi sebesar 14,22% atau Rp.12,995 Triliun dan sisanya 8,26% untuk kredit terkait perumahan sebesar Rp.7,456 Triliun.
Bank BTN sejak awal berdiri telah didesign pemerintah sebagai bank perumahan. Ini dapat dilihat dari bisnis utamanya yang diharapkan mendukung program pemerintah dalam bidang perumahan nasional. Padahal nama Bank BTN sejak lahir adalah Bank Tabungan Negara. Tetapi core businessnya adalah pembiayaan perumahan.
“Sejak awal berdiri Bank BTN memang sudah dikondisikan seperti sekarang. Bank BTN selalu menjadi andalan pemerintah untuk pemenuhan rumah rakyat. Oleh karena itu dalam business plan perseroaan sangat jelas bahwa Bank BTN fokus pada bisnis housing bank. Kami sudah siap dengan seluruh infrastruktur, SDM dan teknologi untuk mendukung bisnis sebagai housing bank,” tegas Maryono.

Check Also

Kadin Properti

Sektor Properti Nasional Perlukan Keselarasan Regulasi dan Insentif Fiskal

INDUSTRI – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung program pemerintah dalam memajukan sektor properti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 164

Klik Disini
close-link