Friday , 6 December 2019
Home / Nasional / Ekonomi / Ekonomi Stabil, Pengamat : Waktu Yang Tepat Perusahaan Properti Untuk IPO

Ekonomi Stabil, Pengamat : Waktu Yang Tepat Perusahaan Properti Untuk IPO

Bursa Efek
Tren suku bunga pinjaman yang terus menurun, faktor pentingnya perusahaan properti melakukan IPO adalah loan to value (LTV) diperlonggar dan asing makin mudah memiliki aset properti di Indonesia. (Foto : stocks.asia)

EKONOMI – Industri co-living kini memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan, khususnya residensial dengan harga di bawah Rp 800 juta dan memiliki pendapatan berulang atau tetap seperti pendapatan pasif atau passive income setiap bulannya.

Edwin Sebayang, analis MNC Sekuritas mengungkapkan tren ini bagus karena backlog atau defisit ketersediaan akan tempat tinggal/rumah mencapai 300.000-400.000 unit per tahun. Sehingga, menurutnya kebutuhan masyarakat akan hunian seperti hotel maupun properti berkonsep co-living, masih sangat besar.

BACA JUGA :   AD Realty Selenggarakan Topping Off The Royal Olive Residence

“Perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri, berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal dan konsep co-living, karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus,” bilangnya dalam siaran pers, Rabu (20/11).

Edwin menambahkan apabila dilihat secara rata-rata year to date kinerja emiten properti terbilang masih lumayan bagus. Namun, hal itu juga harus didasari oleh kinerja fundamental perusahaan tersebut. Andai ada perusahaan properti berencana melakukan IPO, saat ini dinilai sebagai waktu yang tepat.

Selain tren suku bunga pinjaman terus menurun, faktor lain yang menjadi pemicu adalah loan to value (LTV) diperlonggar dan asing makin mudah memiliki aset properti di Indonesia. “Sektor properti ke depannya diperkirakan akan bergairah. Kalau mau IPO saat ini, sangat tepat karena kondisi ekonomi sedang stabil,” bebernya.

Aspek keberhasilan dari perusahaan properti yang ingin IPO, lanjutnya, ditentukan dari cara emiten meraih pendapatan atau revenue saat kondisi penjualan lesu. Selain itu, investor melihat valuasi, besaran size IPO, portofolio proyek properti yang berada di pusat keramaian hingga harga yang dimainkan oleh pelaku industri.

BACA JUGA :   Eman : Tingkatkan Sinergi Untuk Sejuta Rumah

“Hunian co-living jika berada di daerah industri, wilayah perdagangan, dekat sekolah itu sangat bagus. Beberapa emiten fokus membangun di kawasan industri, perdagangan dan bisnis serta sekolah yang dekat dengan sarana transportasi kereta api atau Transit Oriented Development (TOD) karena strategis untuk mobilitas,” katanya.

Salah satu konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living yang banyak diminati masyarakat urban mulai banyak pengembang atau pengelola yang melirik. Salah satunya, pemain bisnis co-living yang sudah lama berkecimpung yakni PT Hoppor International atau dikenal Kamar Keluarga.

CEO Kamar Keluarga Charles Kwok menjelaskan ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga (KK). Pertama, pilar KK BOT (build operate transfer), dimana pihaknya membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

BACA JUGA :   Pemerintah Beri Sentimen Positif, Emiten Properti Optimistis Hingga Akhir Tahun

Pilar kedua yaitu KK Aset yang membantu para mitra mencari, membangun, mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) memuaskan, dan mendukung pertumbuhan ekonomisektor properti di Indonesia. Lalu yang ketiga, KK Operator dengan mengelola secara penuh seluruh lahan yang dijadikan kos atau bisnis lainnya.

Pilar keempat yaitu KK Development yakni perusahaan bertindak sebagai ahli membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini yang mampu mendorong generasi milenial memiliki properti milik sendiri. Terakhir, pilar kelima adalah KK Vertikal.

Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan. “Konsep yang kami tawarkan ini tentu saja membuat mitra-mitra kami dapat memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan cepat karena semua pihak mendapatkan profitnya,” ujar Charles.

BACA JUGA :   Kementerian PUPR Ingatkan Developer Soal MBR

Konsep co-living yang telah dijalankan oleh Kamar Keluarga ini memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap, dan harga yang terjangkau. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, Kamar Keluarga telah memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi strategis dan dekat dengan sarana TOD. “Potensi industri ini sangat besar dan hal ini membuat kami berkembang dengan pesat serta membuat seluruh mitra kami menikmati manfaat dari passive income yang ada,” kata Charles. (Artha Tidar)

Check Also

SMF

SMF Siap Kucurkan FLPP Rp3,7 Triliun di 2020, 25% Dari Total Penyaluran

KEUANGAN – PT Sarana Multigriya Finansial Persero (SMF) siap kucurkan pembiayaan Rp3,7 triliun pada 2020 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 166

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
Cover Property&Bank edisi 166
close-link
INFO LEBIH LANJUT KLIK DISINI!
close-link