Sunday , 22 September 2019
Home / Indeks Berita / Jangan Lagi Wait and See, Kini Saatnya Industri Properti Berlari

Jangan Lagi Wait and See, Kini Saatnya Industri Properti Berlari

Alvin Andronicus
Direktur Marketing Paramount Land, Alvin Andronicus

INSPIRASI – Sebagai seorang profesional yang expert di bidang pemasaran properti, Alvin Andronicus memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menganalisa bisnis properti. Dia juga dikenal memiliki pergaulan yang luas dengan jaringan yang tidak terbatas sehingga dimana pun dirinya berkarir, Alvin menjadi sosok yang menyenangkan ketika berdiskusi, terlebih membahas seputar industri properti.

Bagi seorang Alvin Andronicus, industri properti sangat dinamis dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu. Begitu juga perjalanan karir Alvin dalam kancah bisnis properti yang ia geluti saat ini. Ya, Alvin yang dikenal begitu lama sebagai profesional di Agung Podomoro Group, kini menempati pos baru dan bergabung dengan Paramount Land.

Dijumpai di ruangan kantornya yang baru, kawasan Gading Serpong, Alvin masih dengan gaya dan sikap yang sama, penuh keakraban. Menurut dia, bisnis properti selalu memberikan tantangan yang berubah-ubah. Jadi tidak ada istilah nya bisnis properti itu lebih mudah dan gampang, karena setiap pelakunya harus mengikuti dinamika pasar. Karena terus dibutuhkannya bisnis properti, maka Alvin yakin akan terus berlari dan semangat menjalani bisnis ini.

BACA JUGA :   Paramount Land Gelar Block Party @ Latigo Village dan Menteng Village

“Bisnis properti merupakan indikator pergerakan ekonomi. Pembangunan yang dilakukan sangat melekat dengan pembangunan properti sebagai kebutuhan dasar. Sampai kapanpun Indonesia bertumbuh dan berkembang, maka pembangunan itu sangat terkait dengan pengembangan yang dilakukan developer dalam membangun kawasan baru,” ujar Alvin.

Meski begitu, Alvin mengakui industri properti mengalami kondisi yang tidak menguntungkan dalam tiga tahun terakhir. Semua orang yang punya aset properti menjualnya sehingga membuat pasar properti seken jadi hancur. Yang penting bisa terjual dan mendapatkan uang. Tidak masalah meskipun waktu membeli seharga Rp 1 milyar, lalu jual Rp 750 juta, yang penting uang kembali.

Akibatnya, tak sedikit developer yang menjalankan strategi dengan menurunkan grade dan type rumah yang dibangun. Hal ini semata dilakukan agar perusahaan tetap jalan dan melakukan transaksi penjualan. Penyebabnya adalah daya beli yang menurun dan semakin merosotnya minat masyarakat untuk berinvestasi di properti.

BACA JUGA :   Sentul City Gelar RUPLSB, AKN Jadi Wakil Presdir

“Padahal masa itu merupakan time to buy bagi masyarakat karena bisa mendapatkan properti yang bagus namun dipasarkan dengan harga yang rendah dari sebelumnya. Jadi tetap ada sisi positifnya dengan adanya perlambatan bisnis properti beberapa waktu lalu, terutama bagi mereka yang bisa memanfaatkan situasi,” ujar Alvin.

Namun seiring dengan usainya pelaksanaan pemilihan presiden dan memutuskan siapa pemenangnya, Alvin yakin industri properti akan kembali bergerak dan mengalami pertumbuhan. Mereka yang selama ini memilih untuk memarkirkan uangnya di bank sebagai deposito atau tabungan, diharapkan kembali melirik properti sebagai investasi.

“Pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya agar dana-dana masyarakat yang parkir tersebut dapat digunakan untuk sektor rill dengan menurunkan BI rate misalnya. Begitu juga dengan developer sudah mulai melakukan sejumlah aktifitas dan menjadi tantangan bagi developer misalnya dengan jemput bola. Buat apa lama-lama diparkir uangnya,” ucap Alvin berseloroh.

BACA JUGA :   Fokus Penjualan Lahan, Laba MTLA Meningkat Sebesar 109 Persen

Alvin mengakui saat ini investor sudah mulai mencari-cari informasi kembali seputar properti. Ini menandakan potensi pasar ini sudah bergerak. Jadi developer sudah tidak bisa lagi beranggapan saat ini masih wait and see, karena waktunya sudah lewat. Calon pembeli sudah mulai muncul kembali dan ini merupakan kesempatan.

“Paramount Land juga sudah mulai mengatur strategi kembali dalam menghadapi kebangkitan properti kali ini. Segmen pasar yang digarap disaat kondisi belum begitu baik beberapa waktu lalu adalah harga di bawah Rp 1 miliar, maka kini harus kembali fokus ke segmen awal diatas Rp 1 miliar. Kami rancang lagi untuk membentuk pasar baru yang disebut blue ocean,” jelas Alvin.

Pasar yang blue ocean, sambung Alvin, merupakan pasar yang lebih banyak tantangan dan sektor real juga mulai bergerak di blue ocean tersebut. Di pasar ini, harga properti sudah sangat beragam dan cukup tinggi. Paramount Land, ungkap dia, harus terus bergerak dan tidak bisa lagi berhenti di kawasan yang sudah mulai jenuh.

BACA JUGA :   Jakarta Garden City Kian Agresif

Meskipun begitu, kejenuhan pasar yang dikuatirkan akan terjadi di kawasan Serpong, dapat diatasi dengan strategi memanfaatkan konsumen yang loyal. Mereka bisa mengajak keluarga atau saudara untuk bergabung dan membeli properti di Serpong. Jadi masih mempunyai potensi dan secara prinsip strategi marketing adalah mampu melakukan strategi baru di pasar blue ocean.

Lalu, apa yang menjadi keunikan produk properti yang dikembangkan oleh Paramount Land? Alvin mengatakan, saat ini pihaknya sedang menyiapkan sebuah kawasan hunian rumah tapak dengan dua lantai. Hunian ini nantinya akan didampingi oleh taman tematik dan ini menjadi keunikan sendiri dan yang pertama di kawasan Gading Serpong.

“Kami menyadari bahwa manusia sebagai penghuni kawasan ini butuh fasilitas yang berhubungan dengan alam. Oleh karena itu, kami hadirkan taman tematik seluas 3 hektar ini dimana di dalam nya ada Natura Park dan taman terbuka. Ini hal yang baru dan kebutuhan masyarakat yang back to nature,” ungkap Alvin.

BACA JUGA :   Pengurus DPP Apersi 2016-2020 Dikukuhkan

Dengan adanya taman tematik ini, penghuni tidak perlu lagi harus memiliki taman di depan atau belakang rumahnya. Ini juga menjadi sebuah tantangan bahwa masyarakat tidak lagi harus mempunyai rumah dengan halaman yang besar. Yang penting ada dua kamar dan itu sudah cukup. Keluar rumah langsung nikmati suasana di sekeliling nya.

“Ini bisa menjadi sebuah tren terlebih lagi karena pengembangan lahan yang semakin sempit, harga lahan juga semakin mahal. Apalagi kalau bicara kaum milenial, dengan harga Rp 300 jutaan saja mereka sudah tidak tertarik mau beli. Kita harus menyadari bahwa properti itu bukan barang yang murah,” ujar Alvin.

Lebih jauh Alvin menegaskan, hingga akhir tahun 2019, Paramount Land sudah menyiapkan empat proyek terbaru dan segera diluncurkan, berupa hunian dengan taman tematik dan kawasan komersial. Hunian selanjutnya adalah segmen menengah dengan harga mulai Rp 2 miliar. Pengembangan kawasan terus dilakukan karena terus meningkatnya penghuni kawasan.

BACA JUGA :   200 Pengembang Dengan 1.000 Proyek Properti Akan Hadir di IIPEX 2019

“Saat ini Gading Serpong sudah dihuni oleh 85.000 orang. Makin lengkapnya fasilitas akan menjadi nilai tambah bagi kawasan dan memberikan keuntungan kepada masyarakat. Tahun depan, kami juga sudah mempunyai rencana untuk pengembangan selanjutnya. Jadi, optimisme Paramount Land kedepan adalah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, sehingga membuat Gading Serpong menjadi tempat tinggal menarik,” tegas Alvin.

Selain di Gading Serpong, Paramount Land juga melakukan pengembangan di Manado, Semarang dan Pekanbaru. Di Semarang dikembangkan tipikal rumah biasa dan tipikal rumah semi resort karena terletak diketinggian. Di Manado sedang dibangun Paramount Hills, yang juga merupakan hunian semi resort karena memiliki keunggulan view yang menarik.

Check Also

Hapus Pengurusan IMB Yang Rumit, Dorong Saham Properti Makin Menarik

EKONOMI – Harga saham properti mulai bergeliat pada perdagangan pada Rabu (18/9) pagi. Sejumlah regulasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit Edisi Terbaru

Majalah Property&Bank
Edisi. 163

Pesan Sekarang!
close-link