Sunday , 18 August 2019
Home / Indeks Berita / Menjaga Pertumbuhan Bisnis Yang Sustain

Menjaga Pertumbuhan Bisnis Yang Sustain

Hery Gunardi, Direktur Bisnis Dan Jaringan Bank Mandiri

BANKIR – Lahir di Kota Raflesia, Bengkulu, 26 Juni 1962, Hery Gunardi sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang bankir. Setelah Hery menyelesaikan studinya di University of Oregon, Amerika Serikat, dengan gelar Master of Business Administration, Hery bergabung di Bank Bapindo di tahun 1991 dan saat ini dikenal sebagai bankir senior dengan segudang pengalaman dan menduduki posisi Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri.

Hery merintis karier di bidang perbankan sebagai tim Pengembangan Produk & Promosi pada bagian Research dan Pengembangan di Bank Bapindo, Kemudian Hery sempat menjadi Analis Kredit Bermasalah. Setelah itu, Hery menduduki posisi sebagai  Kepala Sub Bagian Sindikasi Surat Hutang, Divisi Treasury sejak 1996 sampai 1998 di bank Bapindo. Hery juga pernah menjadi Core Team Merger Bank Mandiri pada tahun 1998. Hery dan tim terlibat dalam mempersiapkan foot print cabang Bank Mandiri serta mempersiapkan integrasi produk 4 Bank anggota merger (BBD, BDN, Exim, dan Bapindo). Sejak itu karier Hery di Bank Mandiri kian bersinar.

Saat manajemen Bank Mandiri mendirikan perusahaan asuransi dengan AXA Perancis, Hery dipercaya membidaninya sebagai Direktur Project  pada 2002 hingga akhirnya AXA Mandiri resmi beroperasi pada Desember 2003. Hery Gunardi pula yang pertama menduduki jabatan Direktur di PT AXA Mandiri Financial Services hingga 2006.Ditangannya, AXA Mandiri langsung mencatat profit pada tahun pertama. Padahal pada Business Plan profit akan diperoleh di tahun ketiga. Ia juga mampu melakukan roll out bisnis AXA Mandiri di 500 cabang dalam waktu hanya 1 tahun.

Prestasi demi prestasi terus mengiringi karier penggemar olah raga Golf, sepeda statis, tenis meja dan badminton ini. Tak heran Hery beberapa kali dipercaya memegang posisi Komisaris Utama di sejumlah anak usaha Bank Mandiri, menjadi SVP Wealth Management, EVP Jakarta Networks, SEVP Consumer Finance, hingga kemudian menduduki jabatan Direktur di Bank Mandiri sejak 2013.

Pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Micro & Retail Banking, Direktur Micro & Business Banking, Direktur Consumer Banking, Direktur Distributions, saat ini Hery menduduki posisi Direktur Bisnis & Jaringan sejak 2018. Berbagai prestasi telah diraih, seperti membawa Bank Mandiri menjadi Best Indonesia Private Banking dari Asia Private Banking selama tiga tahun beruturut-turut sejak 2016, menjadi the Best Service Excellence selama 7 tahun berturut-turut dan sederet prestasi-prestasi bergengsi lainnya.

Disela sela kesibukannya yang sangat padat, Hery menyempatkan menemui Property&Bank untuk sebuah wawancara khusus di kantornya. Penampilannya terlihat segar dan awet muda. Ditemani teh hangat dan snack, dengan ramah ia menjawab sejumlah pertanyaan kami. Berikut petikan wawancaranya:

Ditengah kesibukan rutinitas, Anda tetap terlihat segar dan awet muda. Apa rahasianya?

Ha ha ha, Alhamdulillah. Saya juga cukup rutin berolahraga. Saya dan teman-teman kantor dua kali seminggu mengikuti spinning class (Hery memperlihatkan foto diri di handphone sedang menggunakan sepeda statis di kantornya-red). Selain itu saya juga main golf dan tenis meja.  Dan terpenting kuncinya selalu bersyukur atas semua yang diterima.

Sebagai Direktur Bisnis & Jaringan, bisa dijelaskan apa saja tupoksinya?

Saya mengelola Jaringan Bank Mandiri yang terdiri dari 12 Regional, 84 Area dan 4.469 Cabang. Selain menjadi point of service, Cabang juga menjadi point of Sales bagi berbagai macam produk seperti Tabungan, Giro, Deposito, Kredit Mikro, Kredit UKM, Kredit Konsumer, produk transaction, mutual fund hingga Bancassurance. Sebagai direktorat terbesar di Bank Mandiri, harus menata, menuntun dan memastikan seluruh Region mampu berjalan di koridor yang tepat sehingga mampu mendeliver target dengan baik.

Selain mengelola Jaringan, Saya juga membawahi beberapa Group Produk diantaranya Distribution Strategy, Wealth Management dan Private Banking, Transaction Banking Retail Sales, Retail Deposit & Product Solutions, dan Strategic Marketing & Communication.

Disamping itu, Saya juga dipercaya untuk menjadi Direktur Pembina bagi Perusahaan Anak, diantaranya, Mandiri International Remittance Sdn. Bhd., PT AXA Mandiri Financial Services, PT Mandiri Utama Finance, dan PT Mandiri Manajemen Investasi dan Mandiri Investment Management Singapore.

Bagaimana kinerja bisnis Bank Mandiri saat ini?

Data : Bank Mandiri

Kinerja Bank Mandiri paruh pertama tahun 2019 semakin solid dengan pertumbuhan yang lebih sustain. Laba konsolidasi tumbuh 11,1% mencapai Rp13,5 triliun, kualitas kredit yang semakin membaik dengan NPL gross 2,59% turun 54 bps dari tahun lalu. Ini didorong oleh pertumbuhan bisnis yang lebih sustain, terlihat dari pertumbuhan rata-rata Kredit bank only 12,1% YoY atau mencapai Rp 690,5 Trilliun pada Juni 2019.

Bagaimana strategi Bank Mandiri meraih laba?

Pencapaian laba bersih Bank Mandiri dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan bunga sebesar 8.95% YoY menjadi Rp 44,5 triliun dan penurunan biaya CKPN sebesar 21,28%. Selain itu juga diiringi dengan perbaikan kualitas kredit dan pengendalian biaya operasional yang berhasil kami tekan hingga tumbuh terkendali di single digit.

Perbaikan kualitas juga mempengaruhi. Penurunan NPL gross menjadi 2,59% disebabkan oleh pengendalian manajemen risiko dan perbaikan kualitas kredit di hampir seluruh segmen bisnis. Rasio NPL gross tersebut merupakan angka terendah sejak triwulan III 2015.

Apa strategi pertumbuhan Bank Mandiri saat ini?

Kami lebih mengutamakan sustainabilitas jangka Panjang. Pengukuran kinerja tidak semata-mata diukur dari angka akhir periode (ending balance), melainkan menggunakan saldo rata-rata (average balance). Ini terbukti efektif. Terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) rata-rata 6,8% secara YoY dan kredit rata-rata perseroan secara bank only yang tumbuh cukup baik 12,1% YoY.

Bidang apa yang mendukung pertumbuhan di Bank Mandiri?

Data : Bank Mandiri

Ada dua segmen utama, yakni Corporate dan Retail yang berfokus pada kredit micro dan consumer. Per Juni 2019, pembiayaan segmen Corporate secara bank only tumbuh rata-rata 21,2% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp338,4 triliun, segmen micro banking secara bank only tumbuh rata-rata 23,6% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp110,4 triliun, dan kredit consumer secara bank only tumbuh rata-rata 9,0% dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp87,3 triliun.

Untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan, kami juga berupaya menjaga komposisi kredit produktif dalam porsi yang signifikan, yakni 77,4% dari total portofolio kredit Bank Mandiri dengan penyaluran kredit investasi mencapai Rp242,3 triliun dan kredit modal kerja mencapai Rp319,3 triliun.

Bagaimana peran Bank Mandiri dalam hal penyaluran Kredit?

Bank Mandiri berkontribusi dalam pembangunan nasional khususnya dalam pembangunan infrastruktur, hingga Juni 2019 penyaluran kredit ke sektor tersebut mencapai Rp203,4 triliun per Juni 2019 lalu dengan pertumbuhan mencapai 22,6%. Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan kepada 7 sektor utama yakni transportasi (Rp 39,6 triliun), tenaga listrik (Rp 43,9 triliun), migas & energi terbarukan (Rp 37,2 triliun), konstruksi (Rp 17,2 triliun), Jalan tol (Rp 17,1 triliun), telematika (Rp 22,6 triliun), perumahan rakyat & fasilitas kota (Rp 10,9 triliun), dan infrastruktur lainnya (Rp 14,7 triliun).

Kami juga turut serta dalam mendukung usaha pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), dimana pada Januari-Juni 2019, total KUR disalurkan mencapai Rp 10,54 triliun dengan pertumbuhan mencapai 27,4% yoy atau sekitar 42% dari target tahun 2019 dengan jumlah penerima sebanyak 138.090 debitur. Sebesar 51,0% dari nilai tersebut atau Rp 5,4 triliun telah disalurkan kepada sektor produksi, yakni pertanian, perikanan, industri pengolahan dan jasa produksi.

Bagaimana Anda melihat industri perbankan kedepan?

Dengan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan yang positif hingga akhir tahun nanti, kami cukup optimis dapat membukukan target pertumbuhan kredit di kisaran 10%-12%. Selain itu, turunnya BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%, akan menambah ruang likuditas ditengah ketatnya likuiditas di semester I ini. Namun kami terus berupaya untuk memperkuat pendanaan agar dapat terus tumbuh secara berkelanjutan dan berkualitas.

Langkah penguatan pendanaan dilakukan antara lain melalui peningkatkan dana murah untuk menjaga rasio CASA tetap diatas 60%, pengendalikan pertumbuhan biaya operasional, serta penyaluran kredit yang lebih prudent baik di segmen Wholesale maupun Retail.

Persaingan suku bunga di tengah ketatnya likuiditas begitu tinggi. Bagaimana dengan Bank Mandiri?

Data : Bank Mandiri

Pada triwulan II 2019, total Dana Pihak Ketiga (bank only) secara rata-rata tumbuh 6,8% yoy, atau secara konsolidasi mencapai ending balance Rp843,2 triliun. Didorong oleh pertumbuhan tabungan bank only secara rata-rata 5,1% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp342,6 triliun, Giro konsolidasi tumbuh 7,2% yoy mencapai Rp200,2 triliun, dan pertumbuhan Deposito bank only secara rata-rata 15,1% yoy  dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp300,4 triliun.

Pada semester I tahun ini, Bank Mandiri juga telah menerbitkan surat utang melalui program Euro Medium Term Notes (EMTN) dalam denominasi dolar AS senilai USD 750 juta. Surat utang  bertenor 5 tahun dan kupon 3,75% itu sendiri merupakan upaya memperkuat struktur pendanaan jangka panjang.

Bagaimana dengan likuditas Bank Mandiri?

Permodalan dan likuiditas kami saat ini berada pada situasi yang sangat baik. Kami juga mengapresiasi kebijakan Bank Indonesia melalui pelonggaran Giro Wajib Minimun (GWM) kemarin karena memberikan ruang yang cukup bagi perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit.

Bagaimana strategi Bank Mandiri meningkatan DPK?

Bank Mandiri akan terus meningkatkan kualitas layanan bagi nasabah yang diwujudkan melalui kemudahan bertransaksi lewat jaringan online. Saat ini nilai transaksi online mencapai Rp552 triliun atau tumbuh 8,8% yoy yang didorong oleh transaksi mobile banking yang mencapai Rp202 triliun. Tercatat, Mandiri Online kini telah memiliki 2,52 juta aktif user dengan pencapaian nilai transaksi secara signifikan mencapai Rp317,9 triliun atau tumbuh 123% yoy.

Bagaimana Bank Mandiri melihat perkembangan fintech?

Data : Bank Mandiri

Fintech saat ini berkembang begitu cepat. Namun, Bank Mandiri tidak melihat itu sebagai Kompetitor, namun melihat sebagai peluang untuk co-opetition dan collaboration. Bank Mandiri melalui anak perusahaannya Mandiri Capital Indonesia, berinvestasi dibeberapa fintech seperti Amarta, Investree, Koinworks, dsb. Fintech ini mampu menjadi perpanjangan tangan untuk menjangkau customer yang belum bankable.

Terakhir, bisa Anda jelaskan tentang terjadinya berkurang dan bertambahnya rekening nasabah Bank Mandiri  beberapa waktu lalu?

Hasil investigasi menunjukkan adanya log error dari sistem replikasi yang tidak ditampilkan oleh dashboard sistem replikasi tersebut, sehingga ketidaksempurnaan replikasi data tidak terdeteksi selama proses switch over. Dalam hal ini dapat dikonfirmasikan bahwa tidak ada dana nasabah yang hilang atau berpindah, namun insiden ini adalah kesalahan penampilan saldo saja. Seluruh keluhan nasabah dapat ditangani dengan baik dan tidak ada indikasi penarikan dana nasabah dalam jumlah yang tidak wajar. Ini menjadi pelajaran bagi kami untuk terus melakukan improvement memperkuat system IT.

Check Also

Incar Dana Rp 355,5 miliar, Bhakti Agung Tawarkan Harga IPO Rp 150-200 per Saham

PASAR MODAL – Perusahaan properti PT Bhakti Agung Propertindo berencana mencari pendanaan dari pasar modal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit Edisi Terbaru

Majalah Property&Bank
Edisi. 162

Pesan Sekarang!
close-link