Wednesday , 21 November 2018
Breaking News
Home / Properti / Okupansi Pasar Hotel Menurun, Apa Penyebabnya?

Okupansi Pasar Hotel Menurun, Apa Penyebabnya?

ILUSTRASIPROPERTI – Surat Edaran Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) yang berlaku sejak Desember 2014 lalu, tentang Pembatasan Kegiatan Pertemuan/Rapat di Luar Kantor mengakibatkan dampak yang cukup signifikan di pasar perhotelan pada kuartal 1 dan 2 tahun 2015.

Menurut laporan Colliers International Property Consultant, okupansi hotel mengalami penurunan akibat adanya larangan dari pemerintah untuk mengadakan rapat maupun acara lainnya di hotel diluar kondisi ekonomi yang sedang menurun.

Namun supply hotel ke depannya masih cukup tinggi, terutama didominasi oleh hotel bintang empat. Pada kuartal kedua 2015 ada kurang lebih 212 tambahan pasokan hotel baru yaitu hotel Ibis Harmoni yang menambah angka kumulatif pasokan kamar dengan kategori hotel bintang 3 yakni sebanyak 7,435 kamar.

Sedangkan untuk kategori hotel bintang 4 pasokan baru berada di area TB Simatupang yang berjumlah 296 kamar dari Aston dan 184 kamar dari Veranda Hotel. Keduanya merupakan hotel baru yang memiliki kontribusi untuk total kategori hotel bintang 4 menjadi 12,749 kamar.

Sampai akhir tahun 2015, Colliers melihat penambahan pasokan untuk hotel bintang 4 ada 21,77% YoY atau terdapat kurang lebih 2,500 kamar baru. Sedangkan untuk hotel bintang 3 Colliers mengantisipasi pasokan kamar baru sebanyak 2,200 kamar dalam periode yang sama. Pada kategori hotel bintang 5 sendiri hanya ada 1000 pasokan kamar baru tahun ini.

Dari pihak developer sendiri juga mengatakan okupansi pasar hotel menurun sejak diberlakukannya SE Menteri PNRB No.11/2014 tersebut. Wahyu Sulistio selaku Vice Director HRD GA & Corporate Communications Metland yang ditemui di sela-sela acara Buka Puasa Bersama Metland Jum’at(3/5/2015) lalu, mengatakan okupansi hotel milik Metland di Bekasi menurun  40% dari 70%.

“Untuk hotel milik Metland yang ada di Bali ada penurunan namun tidak terlalu dalam fluktuasinya”, ujar Wahyu. Namun ia berujar jika hal ini terjadi akibat ritme dari wisatawan yang datang. Ferry Salanto mengatakan, kedepan dengan adanya pengkajian ulang tentang peraturan Menteri PANRB tersebut dapat memberikan jalan keluar bagi para pengusaha perhotelan di berbagai wilayah di Indonesia.

Menanggapi hal ini, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi  ,Yuddy Chrisnandi mengatakan Kementerian PANRB bersama Kemendagri dan BPKP saat ini tengah mensinkronkan juknis pelaksanaan SE No.11/2014 tersebut dan akan segera diterbitkan, tanpa berniat mencabut larangan rapat di hotel,”tegas Yuddy. (Uji)

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*