Sunday , 20 August 2017
Home » Nasional » Ekonomi » Optimistis di Tengah Ketidakpastian

Optimistis di Tengah Ketidakpastian

Tahun 2014, pertumbuhan aset perbankan syariah diperkirakan masih akan melambat seiring dengan kondisi perekonomian global yang belum menentu. Namun, kalangan para pelaku optimistis bahwa aset perbankan syariah akan tetap mengalami peningkatan.
Tahun 2013 lalu, pertumbuhan aset perbankan syariah hanya berada diangka Rp244 triliun. Padahal, sebelumnya aset perbankan syariah ditargetkan bisa menembus di angka Rp250 triliun. Tidak tercapainya target tersebut lebih dipengaruhi belum pulihnya kondisi global, yang berdampak pada perlambatan ekonomi di Indonesia.
Kendati demikian, Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Edy Setiadi mengaku, tahun ini aset perbankan syariah bisa menyentuh di angka Rp257 triliun. “Pertumbuhan aset perbankan syariah tahun ini masih melambat yang ditargetkan di angka pesimisnya itu di Rp257 triliun,” tukas usai diskusi Ekonomi Syariah yang digelar Jurnalis Ekonomi Syariah (JES), di Hotel Sofyan, Jakarta, awal Maret 2014.
Selain itu, adanya persaingan antarbank untuk meningkatkan Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I hingga BUKU IV, juga membuat pertumbuhan aset perbankan di tahun 2013 lalu tidak sesuai dengan target sebelumnya yakni Rp250 triliun. Karena itu, industri perbankan syariah perlu didorong dan ditopang oleh induk usahanya melalui penyuntikan dana. Dan, perbankan syariah juga harus bisa melebarkan kantor cabangnya melalui jaringan yang sudah ada pada induknya.
Guna meningkatkan performa kesehatan industri perbankan syariah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana akan mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) yang mewajibkan bank syariah untuk menyampaikan penilaian mandiri (self assessment) kepada regulator.
“Sekarang ini paradigma dalam penilaian kesehatan bank syariah akan berubah. Kalau dahulu tidak ada kewajiban kepada bank syariah untuk menyampaikan self assesment terhadap tingkat kesehatannya,” ujar Edy Setiadi.
Menurutnya, peraturan OJK tersebut rencananya akan dikeluarkan pada awal April 2014. Namun, pada prinsipnya, saat ini industri perbankan syariah tidak mengalami kendala serius terkait dengan kesehatan perusahaan.
“Saat ini penilaian bank syariah itu sudah menggunakan rating, semi rating. Nanti ke depannya akan full rating. Jadi, peningkatan penilaian bank syariah dengan risk based rating, maka mereka akan semakin paham menilai dirinya sendiri,” tukasnya.
Maka dengan demikian, nantinya OJK tidak hanya membandingkan aset mereka hanya dengan sesama bank syariah, tetapi juga dengan bank konvensional. “Apakah rasio kecukupan modalnya (CAR) sudah cukup atau belum, ini merupakan tantangan bagi bank syariah untuk lebih baik lagi,” paparnya.

Artikel Terkait

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*