Perizinan Masih Berbelit, REI Optimis Target Tercapai | Property & Bank
Sunday , 21 January 2018
Home / Breaking News / Perizinan Masih Berbelit, REI Optimis Target Tercapai

Perizinan Masih Berbelit, REI Optimis Target Tercapai

Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata (dua dari kanan) saat kunjungan ke Kota Maja, Banten. Tampak (ki-ka) Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Sumadi Karya dan Ciputra.

BERITA PROPERTI – Sebagai organisasi pengembang yang telah memproklamirkan menjadi Garda Terdepan dalam Membangun Rumah Rakyat, Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) optimistis mampu mencapai target pembangunan 200 ribu unit rumah rakyat hingga akhir tahun ini. Asosiasi pengembang tertua di Indonesia ini bahkan yakin bisa melampaui target tersebut.

Ketua Umum DPP REI Soelaeman Soemawinata yang ikut meninjau pengembangan Kota Baru Maja, Banten bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Founder Ciputra Group Ciputra, Sabtu (18/11) lalu mengatakan optimismenya atas pencapaian REI dalam membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut.

Menurut data sementara yang dihimpun DPP REI, hingga November 2017, jumlah rumah yang sudah dibangun anggota REI di seluruh Indonesia mencapai 168 ribu unit. Angka itu di luar 14 ribu unit Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) yang dibangun DPD REI DKI Jakarta. “Kami optimis target itu tercapai, bahkan mungkin bisa terlampaui karena belum semua daerah memberikan data riil yang komplit,” kata Soelaeman yang akrab disapa Eman dalam keterangan resmi.

Ia mencontohkan, kawasan Maja yang dikunjungi pada saat itu, Ciputra Group telah selesai membangun tak kurang dari 6.000 unit rumah MBR yang dikembangkan di Citra Maja Raya. Jumlah tersebut, kata Eman, belum dimasukkan dalam data REI. Selain itu, masih ada proyek Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) di Tangerang sebanyak 2.000 unit yang juga belum masuk data.

“Jadi, masih banyak anggota kami yang membangun rumah rakyat namun belum melapor, terutama di Banten dan Jawa Barat. Padahal kedua daerah ini merupakan lumbung pasokan rumah bersubsidi. Di Jawa Barat dilaporkan baru terbangun 16 ribu unit, padahal ada satu developer yang tahun ini bangun sampai 25 ribu unit, ini juga belum masuk data, sehingga di Jawa Barat saja potensi pasokan diperkirakan hampir 40 ribu unit,” jelas Eman.

Lebih lanjut diungkapkan Eman, khusus untuk di Jawa Barat dan Banten yang jumlah pengembang dan proyeknya banyak sekali, pihaknya sudah membuat metode untuk menyisir data perusahaan per perusahaan, supaya tidak ada yang terlewatkan. Sementara untuk daerah lainnya pendataan tetap dari masing-masing DPD.

Disamping masih belum lengkapnya laporan ke kantor pusat REI, lambannya proses akad kredit oleh perbankan di sejumlah daerah, kata Eman, juga menjadi salah satu faktor yang menghambat realisasi penyediaan rumah bagi MBR. Seperti misalnya, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat, sehingga dibutuhkan dukungan dari perbankan untuk menyelesaikan permasalahan ini.

“Sesuai komitmen REI dari awal, kami secara rutin terus memonitor pembangunan rumah untuk MBR di daerah-daerah. Sedikitnya dua kali sebulan kami lakukan kunjungan ke daerah, sehingga mendengar dan melihat langsung persoalan yang dihadapi anggota REI. Hal ini kami lakukan karena REI punya posisi strategis untuk berkarya mendukung program-program strategis di bidang perumahan dan permukiman, khususnya Program Nawa Cita yang diusung pemerintahan Presiden Joko Widodo,” tegas alumni Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Oleh karena itu, sambung Eman, pihaknya berharap pemerintah pusat maupun daerah memberikan dukungan bagi pengembang dalam membangun rumah untuk MBR, terutama terkait masalah perizinan yang saat ini masih berbelit-belit. Meski pemerintah pusat sudah menerbitkan sejumlah regulasi untuk penyederhanaan perizinan, namun kondisi di mayoritas daerah belum banyak berubah khususnya untuk perizinan rumah rakyat.

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*