Thursday , 29 June 2017
Home » Breaking News » PUPR Bangun Rumah Apung Di Semarang

PUPR Bangun Rumah Apung Di Semarang

Rumah baca Tambaklorok yang diresmikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono

Rumah baca Tambaklorok yang diresmikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono

BERITA PROPERTI-Balitbang PUPR kembangkan teknologi bangunan apung dengan sentuhan berbagai treknologi ramah lingkungan.

Wajah sumringah terlihat jelas dari warga Tambaklorok, Semarang Jawa Tengah pada akhir November lalu. Perkampungan padat  yang berada di pesisir pantai utara Jawa tersebut akhirnya memiliki fasilitas umum berupa balai warga dan rumah baca yang mengapung di atas tambak yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Peresmian fasilitas ini langsung dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono dan ini merupakan prototipe pertama di Indonesia.

Rumah apung ini memiliki konsep bangunan ramah lingkungan, mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi dan tidak mencemari lingkungan.Kebutuhan listrik dipenuhi dengan menggunakan panel tenaga surya dengan kekuatan 1.000 watt.Alasan digunakan teknologi listrik tenaga surya, karena daerah Tambaklorok merupakan daerah dengan intensitas sinar matahari yang tinggi. Untuk itu cocok dimanfaatkan sumber listrik dari tenaga surya.

Selain itu sisi efesiensi dari konsep bangunan apung ini tidak menggunakan pondasi sehingga lebih murah 40 persen. Bangunan apung ini berdiri di atas poton berukuran 10 x 14 meter tersebut dapat bertahan hingga 50 tahun. Sementara untuk dindingnya menggunakan bahan bata ringan sehingga tidak mengurangi kestabilan. Atap menggunakan bahan bambu pilihan yang sudah diawetkan dan kusen jendela serta pintu menggunakan bahan aluminium karena lebih ringan.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, dalam bangunan ini juga dipasang destilator yang dapat mengubah air laut menjadi air bersih dan untuk pembuangan menggunakan Biofil yang merupakan teknologi Balitbang.Terdiri dari 2 lantai, pad lantai dasarnya digunakan untuk balai warga dengan luas 128 meter persegi dan dilengkapi dengan fasilitas dua kamar mandi yang masing-masing luasnya 6 meter persegi. Untuk lantai dua digunakan untuk rumah baca dengan luas 72 meter persegi dan sudah dilengkapi 300 buku untuk anak-anak dan remaja.

Rumah apung tersebut berdiri di atas poton berukuran 10 x 14 meter tersebut dapat bertahan hingga 50 tahun. Sementara untuk dindingnya menggunakan bahan bata ringan sehingga tidak mengurangi kestabilan. Atap menggunakan bahan bambu pilihan yang sudah diawetkan dan kusen jendela serta pintu menggunakan bahan aluminium karena lebih ringan.

Basuki menambahkan, disamping rumah apung, Kementerian PUPR pada tahun ini telah menyelesaikan desain penataan kawasan Tambaklorok. “Tahun ini sedang dilelang dan mudah-mudahan 2017 akan dikerjakan fisiknya, drainasenya kita perbaiki semua, semoga kawasan Tambaklorok ini menjadi kawasan yang sehat dan menjadi kawasan nelayan yang bisa dicontoh daerah lain,” tuturnya.

Menteri Basuki juga mengapresiasi para peneliti Balitbang yang sudah membangun rumah apung ini dengan baik.Sementara itu Kepala Balitbang dalam laporannya mengatakan selain rumah apung, sistem modular apung lainnya yang dikembangkan Balitbang yaitu jembatan pejalan kaki apung di Cilacap, dan pemecah gelombang apung di Bali. Teknologi rumah apung ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif untuk kawasan lain  seperti Tambaklorok yang rentan terhadap banjir, kenaikan air laut, dan penurunan tanah.

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*