Tuesday , 11 December 2018
Breaking News
Home / Apa Kabar / Ramai Ramai Melirik Pasar Kalangan Milenial

Ramai Ramai Melirik Pasar Kalangan Milenial

Cover Majalah Property&Bank Edisi 154, November 2018

APA KABAR – Assalamualaikum ww, Apa kabar pembaca yang mulia. Edisi ini kembali kami menemui ruang baca Anda. Semoga, apapun masalah dan rintangan yang menghadang, mampu Anda selesaikan dan semua berujung sukses, aamiin.

Pembaca, edisi ini kami sengaja mengupas soal para milenial yang kini menjadi target utama para pengembang yang  sedang memasarkan produknya. Para milenial yang lahir pada 1980 – 2000, kini sudah mulai memasuki usia produktif. Baik bekerja di sektor formal, juga di sektor informal. Mulai bisnis star-up memasarkan baju dan makanan, sampai pengusaha pakaian jadi.

BACA JUGA :   Arwana, 25 Tahun Konsisten Dan Komitmen Membangun Negeri

Para kaum milienal inilah yang diyakini bakal menjadi target pembeli properti terbesar beberapa tahun ke depan. Mereka diperkirakan bakal menjadi motor penggerak ekonomi daIam negeri serta mendorong perkembangan tren industri sektor propeti baik masa sekarang dan pada periode mendatang. Ada 3 tipe milenal yang saat ini menjadi Initial Target Market (ITM) ini. Milenial yang masih tahap menempuh pendidikan (student millennials), pekerja (working millennials) dan berkeluarga (family millennials). “Merekalah kelak yang akan mendominasi 34 persen populasi masyarakat Indonesia pada 2020 nanti,” tutur Maryono, Dirut Bank BTN.  Pembaca, boleh jadi besarnya ITM dari para milineal ini yang membuat para pengembang bersemangat rame rame membidik mereka sebagai pasar yang gurih.

Bagian lain yang tak kalah menarik dan kami ulas dalam bentuk wawancara adalah soal pasar modal. Sebagai akibat mismatch dalam industri properti yang berjangka panjang namun dibiayai dengan  sumber dana jangka pendek, membuat sering kali pengusaha properti kesulitan menjalankan usahanya. Ini disebabkan bisnis ini masih sangat mengandalkan pembiayaan dari perbankan. Sementara itu, perbankan juga setengah hati mengucurkan dana dengan mematok bunga tinggi. Akibatnya terjadi kekurangan modal yang cukup besar.

BACA JUGA :   Empat Langkah Besar Pengembang WKR

Ambil contoh untuk pembiayaan rumah bersubsidi saja, hanya untuk membangun 900 ribu unit rumah dengan asumsi harga rumah sederhana sekitar Rp100 juta per unit maka kebutuhan dana untuk menyediakan perumahan mencapai Rp90 triliun per tahun. Padahal pemerintah hanya menganggarkan Rp20 triliun dalam APBN. Ada selisih Rp70 triliun yang harus ditutupi sumber pendaaan lain.

Di tengah kondisi ketatnya likuiditas perbankan saat ini, industri properti perlu mencari alternatif pembiayaan lain, salah satunya lewat pasar modal. Sayangnya, tidak banyak yang tahu bagaimana strategi agar sukses mendulang dana murah dari pasar modal. Sengaja, kami ulas paparan salah satu pakar sekaligus trader di bursa saham dalam bentuk tanya jawab, agar pembaca lebih mudah mencernakannya.

BACA JUGA :   Sentra Timur Ground Breaking Tower Sapphire

Bagian lain, kami juga menurunkan wawancara dan liputan menarik ditengah menguatnya mata uang paman Sam. Saat laporan ini dicetak, dollar sudah bertengger di atas angka Rp15 ribu. Gejolaknya diramalkan masih terjadi sampai menjelang Pemilu mendatang. Beberapa kalangan sudah melakukan gerakan dalam menjaga rupiah tetap stabil. Yang baru adalah dicanangkan oleh Lukas Bong, Ketua Umum AREBI terpilih yang menawarkan ide, jual dollar dan beli property. Seperti apa ide dan konsep Lukas Bong? Bagaimana pria ini menjalankan organisasi broker property di tengah kondisi bisnis properti yang belum bersahabat? Bagaimana pula sinergi Lukas dalam merangkul banyak agen property yang jumlah kini kian bertambah besar? Ikuti laporannya dalam edisi ini. Salam.

Pemimpin Redaksi Property&Bank
Ir. H. Indra Utama

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*