Monday , 14 October 2019
Home / Nasional / Ekonomi / Rapor Sejumlah Emiten Merah, Picu Penurunan Kinerja IHSG Sepanjang Mei

Rapor Sejumlah Emiten Merah, Picu Penurunan Kinerja IHSG Sepanjang Mei

Turunnya kapitalisasi pasar indeks kali ini lebih merupakan fase. (poto kompas.com)

EKONOMI – Penurunan curam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama bulan Mei 2019 tak dapat dilepaskan dari kondisi kinerja keuangan emiten selama kuartal I 2019. Sementara efek perang dagang, hanya merupakan efek lanjutan dari akhir tahun lalu, yang tak kunjung rampung.

“Saham-saham dari emiten utama seperti properti, agrikultur hingga tambang tak terlalu bagus selama kuartal I,” kata Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, dilansir Kontan, Jumat (10/5). Menurut Teguh, wajar bila kurang bagusnya kinerja emiten mendorong para investor untuk keluar lebih dahulu dari bursa dan membuat IHSG memerah.

BACA JUGA :   ASAKI Targetkan Menjadi Produsen Keramik Terbesar Keempat Didunia

Kondisi tersebut membuatnya teringat momen 2015 lalu ketika harga indeks menghujam hingga level 5.000. Namun kondisi saat itu tidak bisa disamakan dengan kondisi kini. Peraih gelar S1 Jurusan Statistika, Universitas Padjadjaran, Bandung ini menyebut, saat itu kondisi makro ekonomi Indonesia sedang dalam keadaan tidak baik.

“Waktu itu semua saham anjlok. Kalau saya amati beda dengan sekarang yang anjlok hanya yang besar seperti ASII, HMSP, BBRI, BMRI, BBCA dan lain-lain. Sedangkan yang menengah dan kecil bagus-bagus saja,” terang pakar saham kelahiran Cirebon 1986 ini. Hal itu berbeda dengan kondisi saat ini.

“Kondisi ekonomi makro kita saat ini, masih baik dengan inflasi yang stabil di level rendah, sehingga tingkat pengangguran diklaim pemerintah di level paling rendah sepanjang sejarah,” jelasnya. Sehingga Teguh menilai turunnya kapitalisasi pasar indeks kali ini lebih merupakan fase.

BACA JUGA :   Ketika Laksa Nyonya Sudah Jadi Menu Andalan Kuliner Hotel

Dia menyebut, bila indeks sudah menyentuh level terendah di sekitar 6.000 maka potensi rebound dapat terjadi. Teguh memberikan pandangan lain soal kinerja emiten yang ia sebut kurang baik sepanjang kuartal I lalu. Menurut dia, kinerja emiten yang tertekan di kuartal pertama merupakan transisi ekonomi.

“Aktivitas ekonomi kita sedang mengalami transisi dari ekonomi konvensional menuju digital,” jelasnya. Untuk jangka panjang, hal ini bisa memicu perusahaan-perusahaan dengan aktivitas perniagaan konvensional amat rawan terdisrupsi, hingga akhirnya memengaruhi harga saham perusahaan serta indeks secara keseluruhan.

“Bisa kita lihat dari emiten yang listing di bursa. Hanya sedikit yang bisa menyesuaikan transisi ekonomi ini,” tukasnya. Dia menyebut emiten seperti perbankan, ritel, hingga penyedia layanan telekomunikasi adalah emiten-emiten yang dengan segera dapat melakukan penyesuaian dan merasakan nikmat transisi ekonomi tersebut.

BACA JUGA :   Modernland Apresiasi Agent Property Berprestasi Pasarkan Jakarta Garden City

Sedangkan emiten-emiten yang tak berhubungan langsung dengan kebutuhan primer masyarakat disinyalir mengalami perlambatan kinerja. “Apalagi struktur ekonomi kita masih ditopang oleh aktivitas konsumsi. Bukan ekspor apalagi investasi,” bilang pendiri situs Value Investing pertama di Indonesia ini.

Ia berharap perusahaan rintisan berbasis penyedia jasa layanan digital dapat segera listing di bursa. Bila hal tersebut terealisasi maka kecil kemungkinan indeks akan terpapar sentimen dan transisi aktivitas ekonomi tersebut. “Itu akan sangat membantu dan mendorong lebih lagi indeks domestik kita,” pungkasnya. (Artha Tidar)

Check Also

OYO Dekos

Bidik Pasar Indekos, Oyo Hotel Targetkan 10.000 Kamar Tahun Ini

PERHOTELAN – Pasar kost-an di Indonesia terus bergeliat. Di Asia, pemanfaatan co-living space atau indekos …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 164

Klik Disini
close-link