Sunday , 17 November 2019
Home / Indeks Berita / Sikapi Kuota FLPP BTN Habis, Himperra DKI Desak Peran Serta Bank Lain Ditingkatkan

Sikapi Kuota FLPP BTN Habis, Himperra DKI Desak Peran Serta Bank Lain Ditingkatkan

Sekjen DPP Himperra Ary Priyono (kiri) dan Ketua DPD Himperra DKI Jakarta Aviv Mustaghfirin (kanan)

RUMAH RAKYAT – Pembiayaan merupakan hal yang paling utama dalam industri properti, terutama untuk pembangunan rumah sederhana bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Maka, ketika muncul kabar bahwa kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang dikucurkan oleh Bank BTN dinyatakan habis, praktis membuat pengembang kalang kabut.

Tak heran jika kabar tersebut membuat pengembang perumahan sederhana kuatir, karena selama ini pembiayaan perumahan murah itu didominasi oleh Bank BTN. Hingga bulan Juli 2019 lalu saja, Bank BTN telah  menyalurkan pembiayaan perumahan untuk Program Sejuta Rumah sebanyak 503.974 unit dengan nilai kredit sebesar Rp 43,64 triliun.

BACA JUGA :   Adonara Gandeng Room Today Simasindo

“Dengan adanya polemik habisnya kuota FLPP di Bank BTN ini, maka kami berharap agar bank-bank lain bisa mengambil bagian dan porsi lebih banyak untuk penyaluran FLPP. Apalagi untuk pembiayaan KPR, bukan hanya pilihan pengembang tapi juga harus menjadi pilihan pembeli rumah itu sendiri. Karena terkait dimana dia menabung dan lebih mudah saat ikut KPR,” ujar Ketua DPD Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) DKI Jakarta Aviv Mustaghfirin, disela-sela Workshop Pembiayaan Perumahan KPR, di Jakarta, Rabu (4/9) kemarin.

Di workshop tersebut, lanjut Aviv, pihaknya berharap agar bank-bank lain juga bisa mengambil peran dalam penyaluran kredit perumahan khususnya rumah sederhana, karena Himperra mayoritas anggotanya, sekitar 80% adalah pengembang rumah sederhana. Di Indonesia selama ini hanya Bank BTN yang fokus dan berperan dalam pembiayaan perumahan.

BACA JUGA :   Intiland Tutup Atap Praxis Surabaya

“Harus ada dukungan dari beberapa bank, tidak hanya satu atau dua bank saja. Bank BTN masih memegang 90% dana FLPP. Ke depan porsi atau kuota untuk bank-bank lain harus ditambah. Bank lain seperti Bank Mandiri sebenarnya sudah minta porsi ditambah namun tidak diberikan,” ujar Aviv seraya menambahkan pada workshop tersebut menghadirkan narasumber dari Bank BTN, Bank Mandiri, BNI Syariah dan Artha Graha.

Habisnya kuota FLPP dari Bank BTN, menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Himperra Ary Priyono, diakui banyak menimbulkan masalah. Ia mencontohkan salah satu anggotanya di Cilegon, Banten, terpaksa mengembalikan semua berkas dan dokumen kepada calon pembeli karena tidak bisa akad kredit. Padahal unit-unit rumah sudah dibangun 100% karena menjadi persyaratan utama pengajuan FLPP.

BACA JUGA :   Untuk Bedah Rumah Di Nganjuk, Pemerintah Alokasikan Rp 5,5 M

“Ini kan pasti sangat merugikan pengembang karena mengeluarkan biaya. Perumahan dengan FLPP ini beda dengan rumah komersial yang bisa indent terlebih dulu. Kami harus bangun dulu agar bisa mendapatkan kucuran FLPP. Belum lagi masih banyak aturan-aturan perbankan yang saat ini makin menyulitkan pengembang khususnya Himperra,” tegas Ary Priyono.

Ary mengakui masih banyak sekali permasalahan yang harus dihadapi pengembang saat ini. Belum lagi aturan PPJB yang dinilai sangat memberatkan pengembang. Dirinya heran kenapa pemerintah harus masuk ke hal-hal tersebut dengan sangat detil. Pemerintah semata-mata hanya mendengarkan semua keluhan konsumen, tanpa mau tau permasalahan pengembang.

“Kita berharap kedepan bisnis ini akan lebih baik karena pemerintahannya sudah baru, anggota parlemennya juga baru dan yang paling penting harus ada kementerian khusus yang menangani perumahan rakyat, agar lebih fokus,” ujar Ary Priyono.

Check Also

Bank DKI Annual Report

Sukses Jalankan Keterbukaan Informasi, Bank DKI Raih Annual Report Awards

KINERJA BANK – Bank DKI berhasil meraih tempat kedua dalam Annual Report Award 2018 pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 165

Klik Disini
Cover Majalah Property&Bank edisi 165
close-link
INFO LEBIH LANJUT KLIK DISINI!
close-link