Tiga Kota Dalam Tiga Segmentasi Bisnis Properti | Property & Bank
Saturday , 16 December 2017
Home / Indeks Berita / Tiga Kota Dalam Tiga Segmentasi Bisnis Properti

Tiga Kota Dalam Tiga Segmentasi Bisnis Properti

jakarta-cityscape-1200x1920-wallpaperBERITA PROPERTI-Beberapa waktu lalu, sentiment positif di sektor properti memang terasa cukup banyak diberikan oleh pemerintah. Dari mulai penurunan suku bunga SBI dari 7,5 persen pada Desember 2015, turun menjadi 6,5 persen pada Agustus 2016. Kebijakan penurunan LTV, jika di awal posisinya untuk rumah pertama 30 persen, kedua 40 persen dan ketiga 50 persen. Saat ini pemerintah menurunkan menjadi  rumah pertama 15 persen, kedua 20 persen dan ketiga 25 persen. Sementara menyangkut pelaksanaan kebijakan Tax Amnesty, sekalipun belum berdampak besar, namun kondisi itu cukup memberikan satu tren peningkatan market di sektor properti yang ada di Jakarta dan sekitarnya. 

Jakarta sudah mulai “ bangkit “ sehingga para agen properti berani menaikan target marketing mereka hingga akhir Desember 2016. Sekalipun memang dari beberapa agen properti yang sempat kami wawancarai, peningkatan market yang terjadi saat ini masih lebih banyak di dukung oleh peran para investor. Sementara enduser belum secara maksimal memanfaatkan kondisi makro yang ada.

Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di Bandung. Di sini, justru bisnis yang terjadi lebih banyak pada sisi primary market. Kondisi ini seperti yang disampaikan Dosma Sibajat, Ass. Director ERA BANDUNG. Menurutnya sejak 2014 – 2016 kondisi properti di Bandung belum ada perubahan yang cukup significant. Dimana yang berkembang masih primary market sedangkan secondary market  masih sama. Beberapa contoh berikut bisa menjadi gambaran, betapa primary market begitu menarik beberapa bulan ini berkembang di Bandung.

Apartemen Soeta Sky Park yang dipasarkan oleh Ray White Central. Menurut Cliff Samuel, Prinsiple Ray White Bandung ( KOPO ). Sepanjang 2016, penjualan unitnya berjalan dengan sukses. Mulai dipasarkan 2015, sebanyak 175 unit habis dalam 3 bulan dengan harga 300 jutaan. Terus berlanjut pada tahun 2016, bulan April habis terjual 578 unit. Dan pada akhirnya saat ini sedang dipasarkan tower ke-2 sebanyak 500 unit. Kondisinya,   3 bulan dari Mei – Juli habis 50 persen  dengan harga 400 jutaan, Itu dari sisi apartemen, dari sisi perumahan, kondisinya juga sama, Adalah Sumarrecon Bandung, sebuah kawasan hunian yang di bangun di Gede Bage. Pada saat itu, Ray White Central Bandung (KALIPAH APO), seperti yang disampaikan oleh Arif Heryono, Prinsiple Ray White Central ( KAPILAH APO) Bandung. “ Saat launching kami diminta menjualkan 20 unit rumah dengan kisaran harga Rp2 Miliar. Dalam waktu singkat 20 unitt itu habis, karena kami membawa 60 calon pembeli aktif,” ujarnya.

Dari uraian diatas, kita melihat bahwa Bandung Timur dan Selatan sedang menjadi primadona lokasi di Bandung. Dimana lokasi sudah pasti dalam bisnis properti menjadi satu hal utama dalam menentukan pilihan. Bandung Timur, ada 2 hal yang menyebabkan lokasi ini menjadi magnet baru di kalangan pengembang dan konsumen. Pertama daerah ini secara konsep nantinya akan terintegrasi degan mulai dibangunnya 3 sarana transportasi dari mulai kereta api cepat, MRT dan LRT, begitulah Cliff Samuel menjelaskan. Sementara lanjut Arif Heryono, menariknya Bandung Timur, lebih karena lokasi ini secara infrastruktur telah siap. Sejak Pemerimtah Daerah membuat kebijakan tentang pengembangan di Bandung Timur, seakan lokasi ini menjadi magnet baru dikalangan peminat properti di Bandung dan sekitarnya. Sementara Bandung Selatan, ini merupakan gabungan dari wilayah Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Bale Endah, Soreang, dan Ketapang. Nantinya Bandung Selatan akan terwujud menjadi Metropolitan Bandung Raya.

Pengembangan sektor properti, memang tidak bisa dipisahkan antara Pemerintah Daerah, pelaku bisnis dan masyarat yang ada di suatu lokasi. Seperti Bandung misalnya, cara pandang Pemda dalam melihat kondisi yang ada, memang pada akhirnya membuka peluang yang menarik bagi banyak pihak. Ketika Bandung Utara sudah “ kurang mampu “ menampung pengembangan bisnis properti yang ada. Sebagai akibat dari kurangnya lahan untuk mengembangan yang berakibat pada tingginya harga lahan yang ada di Bandung Utara, maka Pemda mulai mencari alternative lokasi yang masih mungkin bisa di kembangkan.

Kondisi itupun terjadi pada daerah Jakarta dan Bekasi. Kebijakan Pemda DKI Jakaarta yang melarang pembangunan dan pemanfaatan lokasi kawasan industri didalam Kota Jakarta, pada akhirnya memang membuat Bekasi sebegai lokasi alternative yang dekat Jakarta menjadi pilihan yang paling menguntungkan. Tidak heran beberapa kawasan industri yang ada di Bekasi menunjukan kinerja yang cukup baik dalam hal pengembangan kawasan industrinya.

Dalam kaca mata Ellen May, Pakar Saham dari Ellen May Institute. Ketika melihat fundamental dari saham-saham yang bergerak di sektor kawasan industri. Ada dua hal yang mesti di perhatikan  pertama masalah landbank dari kawasan tersebut dan rencana pengembangan bisnisnya. Hal itu memang sejalan dengan bisnis kawasan industri yang memang memasarkan lahan menjadi core utamanya.  Itulah yang pada akhirnya membuat saham – saham seperti Kawasan Industri Jababeka, Kawasan Industri Delta Mas dan Kawasan Industri Bekasi Fajar menjadi saham – saham yang patut diperhitungkan di tahun 2016 dan memasuki tahun 2017.

Ketiga lokasi tersebut memang menjadi alternative pilihan perusahaan yang mengalihkan pabriknya dari kawasan industri yang semula ada di Jakarta namun karena “ terkena “ kebijakan zoning mengharuskan mereka untuk memindahkan pabriknya ke kawasan industri di daerah Bekasi.

Pada akhirnya memang kita melihat bahwa tahun 2016 kondisinya sudah bisa di katakana mulai menunjukan sedikit peningkatan di Bandung 2015. Hanya memang peningkatan yang terjadi masih bersifat sporadis dengan menyesuaikan kondisi daerah yang ada. Namun semua yakin bahwa dengan adanya beberapa sentiment positif, termasuk tindak lanjut pelaksanaan tax amnesty, semua pihak yakin hahwa tahun 2017 menjadi awal kebangkitan sektor properti yang selama ini belum  menunjukan tren peningkatan layaknya di tahun 2012-2013. Semoga dengan adanya penyaluran dana dari hasil tax amnesty ke bisnis properti pada tahun 2017 mendatang sektor properti di Indonesia akan lebih cepat menunjukan performa terbaiknya setelah beberapa waktu tertidur panjang .

Share artikel ini dengan teman

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*