Wednesday , August 5 2020
Home / Indeks Berita / Andalkan Penjualan Melalui Online, Pengembang Makin Kelimpungan

Andalkan Penjualan Melalui Online, Pengembang Makin Kelimpungan

ppdpp
Pada tahun 2019 penyaluran FLPP yang dilakukan PPDPP mencapai 113,04% dengan nilai mencapai Rp7,545 triliun untuk 77.835 unit rumah

PROPERTI – Pengembang hunian subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menjadikan penjualan secara online (daring) sebagai satu-satunya jalan guna menyelamatkan diri menghadapi pandemi Covid-19. Namun langkah tersebut dinilai masih sulit dilakukan secara optimal.

Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Ari Tri Priyono menyebut kini penjualan daring jadi satu-satunya jalan bagi pengembang untuk bisa mendapat aliran kas. “Masalahnya MBR agak sulit kalau diminta pilih rumah secara daring,” jelasnya pada Minggu (17/05/2020).

BACA JUGA :   Jadi Stimulus Pembiayaan Perumahan, Bank BTN Siap Jadi Mitra BP Tapera

Ancaman bagi pengembang MBR bertambah besar mengingat banyaknya pemutusan hubungan kerja dari karyawan-karyawan kelas menengah bawah. Hal ini membuat banyak konsumen yang gagal bayar dan setop mengangsur.

“Ini berat sekali, sudah penjualan menipis, konsumen yang ada gagal bayar, calon konsumen baru kriterianya diperketat oleh bank, leher pengembang makin tercekik,” ungkap Ari. Ia mengatakan, apabila kondisi ini terus berlanjut, pengembang juga terpaksa harus gulung tikar, gagal bangun, dan melakukan PHK.

BACA JUGA :   130 Pengembang Ikuti Dialog REI Dan Lemhanas

Padahal, harapannya pengembang sebagai sektor padat karya dan memiliki multiplier effect, terus berjalan dan tak sampai melakukan PHK pada karyawan dan pekerjanya.

Hal serupa diungkap Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Daniel Djumali. Dia mengatakan penjualan secara daring sudah dilakukan sejak lama oleh para pengembang, termasuk pengembang rumah subsidi. Strategi penjualan tersebut juga akhirnya menjadi andalan di tengah pandemi akibat adanya aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

BACA JUGA :   Olympic Mulai Serah Terima Gudang Pintar Sentul

“Namun, konsumen menengah umumnya tetap melakukan peninjauan lokasi. Ini dilakukan saat finishing dan proses closing unit yang akan dibeli,” ungkapnya. Ia mengatakan, dengan pengembang dan konsumen yang bisa beradaptasi dengan kondisi, permintaan dan kebutuhan rumah menengah bawah dan subsidi masih tetap banyak.

Ia mengakui jika demand produk itu tetap ada, meski mengalami penurunan dibandingkan dengan tanpa wabah. “Rumah menengah atas permintaannya mengalami penurunan yang signifikan sampai 30 – 49 persen. Sedangkan rumah MBR turun kurang lebih 30 persen,” ungkap Daniel.

BACA JUGA :   Hadir Di Megabuild Expo Indonesia Jayaboard Perkenalkan Inovasi Baru

Selain pengembang, Asosiasi Pengusaha Indonesia menyatakan bahwa pengembang hunian bersubsidi yang diperuntukkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah paling rentan terkena dampak virus corona. Pernyataan ini disampaiakan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi Sanny Iskandar.

“Dalam situasi saat ini, dunia usaha pengembang properti bervariasi dan kalau kita perhatikan yang ada di perusahaan MBR ini banyak, ini yang kita khawatirkan, bukan berarti yang non-MBR kita enggak khawatir, akan tetapi MBR ini lebih rentan terhadap cashflow-nya,” ujar Sanny, Kamis (14/5/2020).

BACA JUGA :   Tiap Tahun, Harga Properti Di Cikarang Naik 25%

Dalam catatan, banyak pengembang yang menggarap hunian MBR. Anggota Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) tercatat 6.210 dan kurang lebih 5.200 di antaranya adalah pengembang menengah bawah yang bermain di perumahan bersubsidi. Belum lagi ditambah dari keanggotaan Apersidan Himperra serta keanggotan pengembang hunian MBR lainnya.

Ketika melihat kondisi yang sulit ini, Sanny mengatakan bahwa salah satu upaya yang bisa membantu arus kas pengembang MBR adalah rekstrukturisasi kredit dan kebijakan yang tepat sasaran. Apalagi, pada saat yang bersamaan kegiatan konstruksi maupun penjualan rumah menurun drastis.

BACA JUGA :   Ciputra Group Groundbreaking Citra Living

Belum lagi, perusahaan telah merumahkan karyawannya tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Apabila kondisi ini berlanjut, dampak PHK akan dialami perusahaan pengembang. “Ini yang kita khawatirkan. Kami harap pemerintah beri perhatian ke para pengembang ini,” katanya.

Sekretaris Apindo Eddy Hussy menambahkan bahwa pengembang MBR dapat dikatakan sama dengan usaha mikro, kecil, dan menengah. Pengembang yang membangun program sejuta rumah ini membutuhkan insentif dalan realisasi KPR yang saat ini masih mengalami kendala di lapangan.

BACA JUGA :   BSD City Menuju Integrated Smart Digital City  

“Jika konsumen beli rumah,  prosesnya lambat atau kriteria ketat dari bank. Bank makin selektif dan menolak sehingga mereka [pengembang MBR] penjualannya terganggu. Saat Covid-19 ini harus ada relaksasi khusus supaya betul-betul bisa KPR, rumah terjual, arus kas berputar, toh kenyatannya masih terbatas,” pungkasnya. (Artha Tidar)

Check Also

AMG

Di Tengah Pandemi, Pemakaman Islam Al Azhar Tambah Hewan Kurban

UMUM – Di tengah pandemi Covid-19, penyelenggaraan penyembelihan kurban di pemakaman Islam Al Azhar, Karawang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 172

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link