Tuesday , July 7 2020
Home / Breaking News / Anggota Watimpres Dan Bos Mayapada Grup Borong Saham Benny Tjokro

Anggota Watimpres Dan Bos Mayapada Grup Borong Saham Benny Tjokro

Dato Sri Taher
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Dato Sri Tahir, yang juga bos Grup Mayapada, lewat emiten propertinya yakni PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), menjalin kesepakatan pembelian saham dua perusahaan milik Benny Tjokrosaputro (Benny Tjokro). (poto duta.co)

EKONOMI – PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), emiten properti milik keluarga Dato’ Sri Tahir menjalin kesepakatan pembelian saham dua perusahaan milik Benny Tjokrosaputro (Benny Tjokro). Kesepakatan itu diteken MPRO dengan PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO) pada Jumat (13/12).

MPRO berencana menjadi pemegang 49,99% saham PT Mandiri Mega Jaya, dengan melakukan pembelian sebagian saham milik MYRX. Mandiri Mega Jaya saat ini berstatus sebagai anak usaha Hanson International. Berikutnya, MPRO juga bakal menjadi pemegang 49,99% saham PT Hokindo Properti Investama dengan membeli sebagian saham milik RIMO.

BACA JUGA :   IPBA XI dan Liputan Negeri Sakura

Hokindo Properti Investama merupakan anak usaha RIMO. Suwandi, Direktur dan Corporate Secretary PT Maha Properti Indonesia Tbk dalam keterbukaan informasi pada Selasa (17/12,) tak menyebutkan berapa nilai transaksi pembelian saham tersebut.

Maklum, setelah kesepakatan pembelian, pihak penjual dan pembeli akan menyusun perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) saham berdasarkan nilai hasil appraisal yang ditetapkan oleh kantor jasa penilai publik (KJPP). Setelah itu, barulah para pihak meneken akta jual beli saham Mandiri Mega Jaya dan Hokindo Properti Investama.

Untuk kepentingan transaksi ini, MPRO berencana menggelar penawaran umum terbatas (PUT) dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Atau dengan skema tanpa HMETD (private placement). Namun, dalam keterbukaan informasi tersebut juga tidak disebutkan kapan PUT akan digelar.

BACA JUGA :   Ini Dia, Bos Pemasaran dan Operasional Crown Group di Indonesia

Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952 adalah bos Mayapada Group. Ia merupakan ‘langganan’ daftar orang terkaya di Tanah Air versi Majalah Forbes, beberapa tahun belakangan. Pada 2019, Forbes mendaulat Tahir sebagai orang terkaya ke-7 di Indonesia. Nilai kekayaan yang ada di kantongnya mencapai US$4,8 miliar pada tahun ini.

Bila dibandingkan tahun lalu, peringkat Tahir turun, namun pundi-pundi kekayaannya meningkat dari sebelumnya US$4,5 miliar. Bahkan, Tahir kerap mengungguli mertuanya, salah satu taipan nasional, Mochtar Riady yang kekayaannya ‘cuma’ US$2,3 miliar pada 2018.

Dikendalikan keluarga Tahir, MPRO merupakan emiten yang tergolong pendatang baru di bursa saham lantaran baru listing pada 9 Oktober 2018. Perusahaan itu dikendalikan keluarga Tahir. Per 30 November 2019, Dato’ Sri Tahir yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini memiliki 16,998% saham MPRO.

BACA JUGA :   Fasilitas Umum dan Infrastruktur Harus Ramah Bagi Penyandang Disabilitas 

Putranya, Jonathan Tahir menguasai 33,995% saham. Sementara anak perempuannya, Jane Dewi Tahir mengempit 8,499% saham MPRO. Grace Dewi Riady dan Dewi Victoria Riady juga sama-sama memiliki 8,499% saham MPRO. Lalu, ada nama Raymond dan Michael Putra Wijaya, yang masing-masing punya 4,249% saham MPRO.

Satu-satunya institusi yang tercatat sebagai pemegang saham MPRO adalah Wing Harvest Limited dengan kepemilikan 13,865%. Sementara investor publik dengan kepemilikan di bawah 5% hanya punya 1,147% saham MPRO. Pengumuman serupa turut disampaikan oleh PT Hanson International Tbk (MYRX).

Melalui keterbukaan informasi kepada BEI, Hanson juga menyampaikan rencana menjual sahamnya atas PT Mandiri Mega Jaya kepada PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO). Jumlah saham yang akan dijual mencapai 49,99%.

BACA JUGA :   Surabaya Bisa Jadi Pilot Project Pembiayaan Mikro

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa (17/12), Hanson International mengungkapkan bahwa penjualan sebagian kepemilikan saham dalam Mandiri Mega Jaya untuk memenuhi kewajiban kepada pihak ketiga sekaligus untuk recovery Hanson.

Mengintip laporan keuangan MYRX, tercatat pada kuartal III-2019 perusahaan mengalami penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga 57,44% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 77,61 miliar. Sementara itu, jumlah liabilitas tercatat mencapai Rp 4,4 triliun.

Jumlah ini naik 18,92% dibanding periode serupa tahun lalu (year on year). Total liabilitas ini terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 3,59 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp 814,71 miliar. MYRX memiliki utang jangka pendek kepada beberapa pihak.

BACA JUGA :   Gyproc Luncurkan Tiga Produk Inovatif Terbaru

Mereka adalah PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) sebesar Rp 296,06 miliar, PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) sebesar Rp 64 miliar, PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) sebesar Rp 67,6 miliar, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) sebesar Rp 55 miliar dan PT Bank MNC International Tbk (BABP) sebesar Rp 22,66 miliar.

Selain pinjaman bank jangka pendek, Hanson International memiliki pinjaman individual jangka pendek, dengan nilai total Rp 2,45 triliun. Sementara itu, saldo pinjaman individual jangka pendek Mandiri Mega Jaya mencapai Rp 63,75 miliar. (Artha Tidar)

Check Also

Teknologi pra cetak

Pemanfaatan Teknologi Pra Cetak Untuk Rusun Persingkat Waktu Pembangunan

PROPERTI – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Perumahan mendorong pemanfaatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 172

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link