Sunday , November 29 2020
Home / Breaking News / Apresiasi PEN, APERSI Minta Kebijakan Kemudahan Untuk Rumah MBR

Apresiasi PEN, APERSI Minta Kebijakan Kemudahan Untuk Rumah MBR

rumah sederhana
Pembangunan rumah sederhana

PROPERTI – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) menyatakan sangat antusias dan menyambut baik untuk segera direalisasikannya usulan dalam program baru PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional). APERSI juga sangat mengapresiasi program-program yang sangat membantu ditengah pandemi Covid-19 itu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP APERSI Daniel Djumali mengatakan, sejumlah kebijakan pemerintah yang diharapkan dapat mendorong laju perekonomian, terutama industri properti. Daniel menjelaskan, sektor properti membutuhkan program restrukturisasi dan relaksasi kredit yang lebih jelas dan terukur. Selain itu, diperlukan optimasi Regional Processing Center (RPC) dan penyederhanaan proses verifikasi dokumen konsumen, sehingga bisa segera terbit persetujuan KPR perbankan.

BACA JUGA :   Ikut Festival Indonesia Di Moscow, Stand Triniti Dinamik Menarik Perhatian Pengunjung

“Kami juga mengalami kesulitan dalam memasarkan rumah karena hampir tidak bisanya konsumen khususnya karyawan kontrak dan wiraswasta maupun masyarakat yang bergerak di sektor UMKM, memperoleh KPR Subsidi. Dengan begitu maka masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak dapat memiliki rumah karena adanya aturan, baik dari perbankan maupun pemerintah yang dalam hal ini adalah Kementerian PUPR,” ujar Daniel kepada propertynbank.com, Senin (19/10).

Oleh karena itu, sambung Daniel, perlunya adanya relaksasi dan percepatan kredit dari perbankan untuk merealisasikan pembangunan perumahan terutama untuk rumah subsidi bagi MBR dan rumah menengah bagi masyarakat. Disamping itu, kesulitan penyambungan daya listrik PLN atau KWH meter, juga ikut mempersuit karena adanya short cashflow PLN akibat dari pandemi Covid-19.

BACA JUGA :   Salurkan Qurban ke 100 Masjid di Jakarta, Bank DKI Juga Punya Tabungan Qurban

Daniel juga menyoroti adanya persyaratan yang mengharuskan sudah pecahnya sertifikat unit rumah bagi rumah subsidi. Terlebih lagi, sebagian besar kantor Badan Pertanahan Negara (BPN) atau Agraria saat ini masih banyak yang tutup karena adanya aturan PSBB atau WFH. Akibatnya, proses pemisahan sertifikat unit sebagai salah satu persyaratan untuk akad KPR Subsidi bagi MBR jadi tersendat.

Dirinya juga berharap Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan (BPHTB) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bisa ditanggung pemerintah pusat. Lalu, Payment Holiday (bebas pembayaran angsuran pokok dan bunga untuk KPR maksimal Rp.500 juta) dimasa pandemi Covid-19. Kemudian penurunan tarif BPHTB bagi RS/RSS/Rumah Subsidi (BPHTB dari 5% menjadi 1%).

Sedangkan untuk Rumah Murah Smart home bagi masyarakat dibawah Rp.500 juta, dirinya mengusulkan BPHTB dari 5% menjadi 2%. Sedangkan penurunan tarif SSP-PPH Final dari 5% menjadi 2% untuk Rumah Murah Smart Home bagi masyarakat menengah bawah pasca normal baru dan protokol kesehatan dengan harga dibawah Rp.500 juta.

BACA JUGA :   Intiland Raih Dua Penghargaan Bergengsi

Untuk Bunga Kredit Konstruksi rendah bagi pengembang  rumah subsidi bagi MBR dan rumah dibawah Rp.500 juta. Daniel menegaskan APERSI yang beranggotakan 3.000 pengembang, mayoritas mengembangkan perumahan menengah dan menengah bawah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah/ MBR, dalam rangka mendukung Program Pembangunan Sejuta Rumah.

“Sektor properti terutama perumahan menengah dan menengah bawah mempunyai dampak ganda (multiflier effect) terhadap lebih dari 170 sektor industri/ekonomi lainnya, mulai dari pasir, batu kerikil, semen, batako, batu bata, besi, kayu, kabel, saklar, alumium, baja ringan, genteng, cat, kaca, kusen, industri pintu, engsel,  keramik lantai, sanitair, lampu, hingga dapur, kompor, TV, AC, Kulkas, furniture dan yang paling penting menyerap banyak sekali tenaga kerja langsung maupun tidak langsung yang sangat dibutuhkan masyarakat disaat pandemi Covid-19 ini,” ungkap Daniel.

BACA JUGA :   Munas REI ke 16 Resmi Di Buka, Peserta Heningkan Cipta Untuk Ciputra

“Rumah merupakan kebutuhan dasar utama bagi masyarakat work from home, apalagi rumah sesuai protokol kesehatan, pasca new normal baru, hingga menuju smart home bagi masyarakat terutama masyarakat menengah dan menengah bawah atau masyarakat berpenghasilan rendah,” pungkas Dainel.

Check Also

Intiland Luncurkan Klaster DUO di Talaga Bestari, Harga Mulai Rp 700 jutaan

PERUMAHAN – PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD) berkolaborasi dengan PT Quanta Land Indonesia (Quanta …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 174

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link