Tuesday , September 29 2020
Home / Indeks Berita / Bak Buah Simalakama, Kepala Negara Menghadapi Pandemi Covid-19

Bak Buah Simalakama, Kepala Negara Menghadapi Pandemi Covid-19

Ida Bagus Kade Perdana

KOLOM – Para Kepala Negara di dunia dihadapkan pada persoalan yang sangat pelik dan pilihan yang sulit. Bagaikan makan buah simalakama dengan adanya wabah penyakit multi dimensional virus covid 19 corona yang sudah banyak menelan korban manusia tanpa ampun dan tanpa pandang bulu.

Mengingat wabah penyakit ini bersifat multi dimensional dampaknya menjadi sangat luas pengaruhnya membuat terganggunya kehidupan social masyarakat. Sehingga secara langsung berpengaruh tidak kondusif ter-hadap aktivitas perekonomian yang cenderung menjadi stagnan ada yang mengatakan dunia sekarang sedang menghadapi resesi ekonomi bahkan mungkin cenderung bisa mengarah kepada depresi ekonomi hebat lebih dahsyat daripada depresi besar yang terjadi pada tahun 1930 bila wabah penyakit multi dimensional virus covid 19 corona tidak segera bisa dituntaskan.

BACA JUGA :   Berharap Corona Cepat Tuntas, Makin Cepat Akan Semakin Bagus

Depresi besar atau zaman malaise adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis  di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahu 1929. Depresi yang terjadi diawali dengan terjadinya peristiwa Selasa Hitam yaitu peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tanggal 24 Oktober dan mencapai puncak terparahnya pada tanggal 29 Oktober 1929. Depresi ini memporak porandakan ekonomi baik ekonomi Negara Industri maupun Negara berkembang.

Pemerintah Amerika Serikat berusaha mengatasi dan menanggulangi kondisi dengan menciptakan lapangan pekerjaan kisaran tahun 1939 dan tahun 1944. Akhirnya banyak orang yang mendapat pekerjaan kembali akibat terjadinya perang dunia ke dua  yang sekaligus mengakhiri depresi besar dimaksud.

BACA JUGA :   Sebanyak 1.679 Sekolah dan 179 Madrasah Direhabilitas Pada Tahun 2019

Resesi ekonomi dapat dipahami bahwa telah terjadi kelesuan ekonomi sebagai kondisi yang menggambarkan telah terjadinya dimana produk domestic bruto (PDB) mengalami penurunan  atau pertumbuhan ekonomi yang riil bernilai negative selama dua kuartal secara berturut turut atau lebih dari satu tahun. Kelesuan atau kemerosotan ekonomi yang disebut resesi mengakibatkan penurunan secara simultan pada setiap aktivitas di sector ekonomi seperti yang terjadi sekarang banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat dari ketiadaan lapangan pekerjaan, merosotnya investasi dan keuntungan perusahaan.

Tentu hal ini akan menimbulkan efek domino pada masing masing kegiatan ekonomi yang mengakibatkan merosotnya daya beli masyarakat yang membuat harga harga terus menurun berimbas pada turunnya keuntungan perusahaan dampak dari resesi ekonomi yang terjadi yang sering kali diindikasikan menurunnya harga harga yang disebut dengan deflasi atau sebaliknya terjadi inflasi dimana harga harga produk  atau komoditas dalam negeri  mengalami peningkatan secara tajam.

BACA JUGA :   Ada Peluang di Tengah Pandemi, Sektor Bisnis Yang Masih Berpotensi

Jika resesi ekonomi berlangsung dalam jangka waktu lama tidak segera dapat diatasi bisa bertransformasi menjadi depresi ekonomi menuju pada kebangkrutan ekonomi atau ekonomi kolaps. Apabila kondisi dan situasi seperti ini yang akan terjadi maka sudah pasti akan tidak mudah situasi bertambah sulit, memerlukan beaya yang besar dan memakan waktu lama untuk melakukan recovery ekonomi tentu kita berharap tidak berkembang menjadi masalah social dan politik yang bisa menimbul-kan kekacauan menjadi terganggunya tingkat stabilitas keamanan nasional. Membuka peluang yang bisa ditunggangi oleh anasir anasir anti Pancasila dan pihak pihak yang menghendaki hancurnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tentu hal ini tidak boleh terjadi kita berharap semua pihak  mengapresiasi keutuhan dan keberadaan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 bahkan harus lebih maju dari sebelumnya.

BACA JUGA :   Ada Peluang di Tengah Pandemi, Mencari Potensi Bisnis Yang Bisa Dikerjakan

Sebagaimana dunia pernah mengalami Depresi Besar atau Great Depression adalah periode kelesuan ekonomi dan pengangguran secara besar besaran pada tahun 1929 hingga masa sebelum Perang Dunia ke dua. Dikutip dari situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK) depresi ekonomi merupakan suatu keadaan ekonomi yang ditandai oleh menurunnya harga, menurunnya daya beli, dan jumlah penawaran yang jauh melebihi permintaan.

Kondisi ini juga bisa menghadirkan angka pengangguran meningkat secara tajam dan dunia usaha mengalami kelesuan yang mengarah kepada likuidasi perusahaan (depression). Akibat dari depresi besar membuat pengangguran membengkak di AS yang awalnya 3,2% langsung terjun bebas menjadi 24,9% pada tahun 1933. Di AS terjadi pengangguran sebanyak 15 juta orang  hampir setengah jumlah bank mengalami bankrupt.

bersambung ke halaman berikutnya….

Check Also

Repower

Repower Serahkan Hadiah Program PASTI REAL Bernilai Miliaran Rupiah

PROPERTI – PT Repower Asia Indonesia Tbk, (REAL) membuktikan komitmen kepada para pemegang saham dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 173

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
cover majalah
close-link