Property & Bank

Kebutuhan Rumah Tetap Tinggi, Bank BTN Konsisten Berikan Solusi

Realisasi Program Sejuta Rumah 2021
Warga melintas di depan rumah sederhana

Propertynbank.com – Pandemi Covid-19 yang telah melanda sejak dua tahun lalu, sepertinya tak mampu menyurutkan minat masyarakat untuk tetap memiliki hunian. Adanya himbauan agar tetap berada dalam rumah guna meminimalisir penyebaran virus Covid-19, menjadi salah satu fakor pendorong sehingga rumah menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi.

Hal ini tercermin dari data yang dikeluarkan oleh JLL Indonesia yang menyebutkan, penyerapan dan minat pasar terhadap rumah tapak, masih cukup tinggi selama pandemi. Adanya program pemerintah seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan relaksasi Loan to Value (LTV), mendorong respon positif dari masyarakat terhadap produk-produk baru yang diluncurkan oleh pengembang. Disamping itu, berbagai promosi dan penawaran cara pembayaran yang fleksibel juga ikut mendorong tingginya penjualan rumah tapak.

“Beberapa kawasan perumahan yang sebelumnya tidak aktif pun ikut berkontribusi dalam memasarkan produk-produk mereka. Kawasan perumahan dengan fasilitas lengkap dan sudah berkembang menjadi daya tarik pembeli. Kelanjutan insentif PPN untuk pasar properti diharapkan dapat meningkatkan sentimen positif di sektor perumahan,” ujar Head of Advisory JLL Indonesia Vivin Harsanto.

Setali tiga uang, tetap tingginya minat masyarakat terhadap hunian juga dirasakan oleh Rumah123.com merupakan bagian dari 99 Group. Dalam Property Outlook 2022 situs marketplace tersebut, terjadi peningkatan pencarian properti sepanjang tahun 2021 lalu. “Pencarian properti terus bertumbuh, dan menjadi sinyal positif pemulihan pasar nasional sepanjang tahun 2021,” jelas Deputy CEO 99 Group Indonesia Wasudewan.

“Tren pasar properti tanah air berhasil menunjukkan perubahan pasar ke arah positif. Data internal 99 Group mencatat pencarian properti di portal Rumah123.com dan 99.co sebanyak 270 juta dengan 46 persen di antaranya merupakan pengunjung baru. Porsi penambahan pencari properti baru ini merupakan sinyal positif akan pemulihan pasar dengan meningkatnya permintaan dari konsumen,” ungkap Wasudewan.

Kebijakan Yang Mendukung

Salah satu faktor yang membuat masih tingginya minat pembelian hunian atau properti secara umum adalah karena didukung oleh berbagai program dan kebijakan dari pemerintah. Misalnya dengan diperpanjangnya insentif fiskal berupa pajak pertambahan nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah (DTP).

Kepastian ini didapatkan setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, secara resmi telah menerbitkan PMK 6/2022 yang mengatur tentang pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) rumah ditanggung pemerintah (DTP) untuk sektor perumahan pada tahun 2022. Insentif ini diharapkan efektif meningkatkan daya beli masyarakat dan mendukung sektor perumahan dengan efek pengganda yang besar ke perekonomian nasional.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, insentif PPN rumah DTP juga sejalan dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2022 yang berfokus pada penciptaan lapangan kerja dengan tetap melanjutkan penanganan kesehatan dan perlindungan masyarakat. Namun demikian, besaran insentif PPN DTP untuk properti di tahun 2022 berbeda dengan tahun tahun lalu. Penyerahan rumah tapak atau unit hunian rumah hingga Rp2 miliar akan diberikan insentif PPN DTP sebesar 50 persen dari sebelumnya di tahun ini yang diberikan sebesar 100 persen.

“Sementara itu, untuk penyerahan rumah tapak atau unit hunian rumah mulai dari Rp2 miliar hingga Rp5 miliar akan diberikan insentif PPN DTP sebesar 25 persen dari sebelumnya di tahun ini yang diberikan sebesar 50 persen,” tegas Febrio Kacaribu.

Bank BTN Konsisten Salurkan KPR

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) yang merupakan pemain utama dalam menyediakan akses pembiayaan rumah bagi jutaan rakyat Indonesia, juga ikut merasakan tetap tingginya minat dan permintaan terhadap hunian di masa pandemi Covid-19. Bank BTN menjadi solusi bagi masyarakat Indonesia untuk pembiayaan perumahan.

Dalam Paparan Kinerja Keuangan Bank BTN Tahun 2021 yang disampaikan Selasa (8/2/2022) lalu, Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo mengatakan, penyaluran kredit menjadi penopang utama laba bersih Bank BTN pada tahun 2021 lalu yang melonjak 48,3% dibanding tahun 2020. Bank BTN membukukan laba bersih Rp2,37 triliun pada tahun 2021, sedangkan tahun 2020 sebesar Rp1,6 triliun. Kenaikan laba bersih ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 5,66%, dari Rp260,11 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp274,83 triliun pada tahun 2021 (year on year/yoy).

bank btn konsisten
Kegiatan akad KPR BTN

“Pertumbuhan kredit Bank BTN menjadi sinyal bahwa sektor perumahan cukup tangguh dalam melewati masa krisis ekonomi akibat pandemi. Pembiayaan pemilikan rumah tetap mengalir sekalipun daya beli konsumen relatif turun. Ini terbukti dari penyaluran kredit perseroan tahun 2021 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 dan berada di atas rata-rata kredit industri perbankan pada kisaran 5,24%,” ujar Haru.

Menurut Haru, berbagai insentif yang diberikan Pemerintah berhasil menjaga daya beli konsumen sehingga permintaan kredit rumah tetap meningkat. Haru juga optimistis, pada saat ekonomi semakin pulih, dan pandemi berlalu sepenuhnya, permintaan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dapat meningkat lebih tinggi lagi. “Kinerja positif yang diraih Bank BTN ini tidak terlepas dari dukungan semua stakeholder terutama Pemerintah,” tuturnya.

Oleh karena itu, imbuh Haru, Bank BTN dengan pengalaman yang panjang dalam menyalurkan KPR, akan terus memberikan kualitas pelayanan kredit yang lebih baik dan cepat kepada masyarakat.

“Bank BTN menerapkan strategi all out dengan mengoptimalkan seluruh kanal distribusi untuk penyaluran KPR. Bank BTN akan terus menggiatkan kerjasama dengan developer, para agen properti serta menyelenggarakan akad secara massal di seluruh Kantor Cabang Bank BTN. Untuk memperlancar proses penyaluran KPR Bank BTN tak segan melakukan upaya jemput bola,” ujar Haru.

Selain itu, sambung Haru, Bank BTN juga berupaya untuk ikut mengembangkan ekosistem perumahan dengan melibatkan berbagai pihak serta mendorong terbentuknya developer-developer baru. Bank BTN akan mengarah kepada green banking salah satunya bagaimana menyediakan rumah yang ramah lingkungan. Ekosistem perumahan yang telah diciptakan Bank BTN akan mempermudah perseroan dalam berkolaborasi mengurangi angka backlog perumahan yang masih tinggi.

“Membangun dan mendorong ekosistem perumahan sebenarnya adalah membangun pusat peradaban. Saya yakin bahwa apa yang kita lakukan ini memberikan letak dan dasar-dasar secara kemanusian bagi masyarakat sekitar dan menjadikan rumah sebagai pusat peradaban bagaimana sebuah keluarga dibentuk, komunikasi dan tentu akan menghasilkan generasi mendatang yang lebih baik dan itu berasal dari rumah,” ujar Haru.

Telah Salurkan KPR Untuk 5 Juta Keluarga

Bank BTN secara resmi melayani pembiayaan kredt rumah bagi masyarakat pada tahun 1976 silam.  Penugasan langsung diterima Bank BTN dari Pemerintah, melalui Surat Menteri Keuangan nomor B-49/MK/I/1974. Pada 10 Desember 1976, Bank BTN untuk pertama kalinya, menyalurkan kredit perumahan pada 9 debitur di daerah Tanah Mas, Semarang.

Hingga saat ini, Bank BTN telah mengucurkan pembiayaan senilai Rp 352 triliun dan mewujudkan rumah impian ke lebih dari 5 juta keluarga di Indonesia. Pencapaian tersebut tidak lepas dari upaya Bank BTN yang senantiasa menghadirkan program maupun produk  yang inovatif yang tidak hanya membantu masyarakat tapi juga seluruh stakeholder sektor properti.

“Inovasi tersebut terus berkembang sesuai dengan dinamika perkembangan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat di era digitalisasi serta trend di sektor properti. Saat ini, Bank BTN siap menerapkan digitalisasi ekosistem pembiayaan perumahan,” tegas Haru.

Dari keseluruhan pembiayaan KPR senilai Rp 352 triliun, sebanyak lebih 76% mengalir ke segmen KPR Subsidi sementara sisanya mengalir ke segmen KPR non subsidi. Dengan pencapaian tersebut, tak heran Bank yang dulunya bernama Postpaarbank ini telah menjadi kontributor utama pada Program Sejuta Rumah Pemerintah dengan kontribusi rata-rata 60% per tahunnya baik untuk pembiayaan kepemilikan maupun kredit konstruksi bagi developer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *