Saturday , September 26 2020
Home / Breaking News / Ceroboh, Manajemen Lama Asuransi Jiwasraya Blunder Beli Saham

Ceroboh, Manajemen Lama Asuransi Jiwasraya Blunder Beli Saham

jiwasraya
Dalam mengejar untung selangit, Jiwasraya terdahulu banyak menginvestasikan dana di aset berisiko tinggi (high risk). poto kaskus.co.id

HUKUM – Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko menyatakan model pemilihan investasi yang dilakukan oleh manajemen sebelumnya menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi keuangan perusahaan.

Dalam mengejar untung selangit, manajemen terdahulu banyak menginvestasikan dana di aset berisiko tinggi (high risk). Terlihat dari total aset yang diinvestasikan oleh manajemen lama. Hexana mencatat 22,4 persen dari total aset ditempatkan di saham bervaluasi rendah (undervalue) dan hanya 5 persen ada di saham LQ-45.

BACA JUGA :   BTN Terus Genjot Pembiayaan KPR Di NTT

Lalu, sebanyak 59,1 persen diinvestasikan di reksa dana saham. Hexana menyebut mayoritas reksa dana dikelola oleh perusahaan manajer investasi berkinerja buruk. Hanya 2 persen dana yang diinvestasikan di rekasa dana dan saham, resmi dikelola perusahaan manajer investasi berkualitas.

Ia memaparkan untuk saham, beberapa portofolio dimiliki Jiwasraya, yakni PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR), PT SMR Utama Tbk (SMRU), PT PP Properti Tbk (PPRO), dan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). “Jiwasraya banyak berinvestasi pada high risk asset mengejar high return,” ucapnya, pada Senin (30/12).

Rata-rata harga keempat saham itu bergerak merah. Mengutip RTI Infokom, harga saham Semen Baturaja sejak awal tahun hingga perdagangan terakhir hari ini (year to date/ytd) anjlok 74,6 persen. Namun, harga saham menguat sebulan terakhir hingga 12,38 persen dan sesi I hari ini naik 2,7 persen di level Rp456 per saham.

BACA JUGA :   Aktifitas CSR, Bank MAYORA Dukung Kegiatan HSDD

Sementara, harga saham SMR Utama terpantau melorot hingga 92,31 persen secara ytd. Harganya tak kunjung membaik di level Rp50 per saham. Hal yang sama terjadi di PP Properti, di mana harga sahamnya secara ytd turun 43,59 persen. Koreksi berlanjut, sebulan terakhir tercatat turun sebesar 4,35 persen.

Dan membaik pada sesi I ini dengan penguatan tipis 1,52 persen di level Rp67 per saham. PPRO merupakan anak usaha dari PT PP (Persero) Tbk, perusahaan milik negara yang bergerak di bidang perencanaan dan konstruksi bangunan. PPRO lebih fokus pada bisnis properti dan real estate.

Meski anak usaha BUMN, kinerja saham PPRO tak begitu baik. Pada 17 Februari 2017, sahamnya anjlok dari Rp1.300 ke Rp342 per lembar. Dan kini, sahamnya gagal terkerek ke angka Rp500. Padahal, ketika Jiwasraya membelinya pada 15 September 2016, saham PPRO berada di posisi Rp1.000 dan Jiwasraya memiliki 708,26 juta lembar saham.

Jiwasraya
Jiwasraya sedang dirundung masalah keuangan. (poto radarcirebon.com)

Artinya, nilai investasi Jiwasraya saat itu berkisar Rp708,26 miliar. Anehnya, meski sudah terjun bebas sejak Februari 2017 dan tak pernah ada pergerakan untuk naik lagi, Jiwasraya terus menambah kepemilikannya. Saat pertama kali investasi, kepemilikan Jiwasraya hanya Rp5,04 persen.

Sampai Desember 2016, porsi investasi Jiwasraya ditambah menjadi 7,73 persen atas PPRO. Ketika harga PPRO terjun bebas pada 17 Februari, kepemilikan Jiwasraya tercatat 7,76 persen. Lalu ditambah lagi menjadi 8,85 persen. Sejak Desember 2018, Jiwasraya mengurangi kepemilikan saham atas PPRO secara perlahan.

Per 23 Januari 2019, ia masih memegang 8,59 persen saham PPRO. Pada perdagangan 24 Januari 2019, harga saham PPRO hanya Rp155 per lembar. Jika saham yang dibelinya pada 2016 dilepas, Jiwasraya rugi minimal Rp600 miliar. Laporan negatif juga dialami saham lainnya.

BACA JUGA :   PUPR Optimis Program Sejuta Rumah Tahun Ini Tercapai

Termasuk saham Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten yang terus merah hingga akhir perdagangan sesi I hari ini. Tercatat, harga sahamnya secara ytd terkoreksi 40,98 persen, satu bulan terakhir turun 22,44 persen, dan sesi I 3,2 persen.

Selain itu, Hexana menjabarkan beberapa kepemilikan saham yang dibeli lewat instrumen reksa dana, berada di saham bervaluasi rendah. Seperti, PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), PT Pool Advista Finance Tbk (POLA), dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM).

Mengutip laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan saham Eureka Prima dan Pool Advista kini sedang diberhentikan sementara (disuspensi). Eureka Prima terkena suspensi sejak 2 Mei 2019 dan Pool Advista disuspensi pada 27 Desember 2019. Sisanya, saham Graha Andrasentra dan Trada Alam bergerak stagnan pada sesi I hari ini.

BACA JUGA :   Model Rumah Terbaru Dengan Keramik

Lebih detail, saham Graha Andrasentra sudah stagnan sejak awal 2019, sedangkan Trada Alam merosot hingga 70,59 persen secara ytd. Untuk Prima Cakrawala sendiri, harga sahamnya terus merosot sejak Januari 2019. Terpantau, secara ytd sahamnya melemah 75,79 persen, satu bulan terakhir 11,9 persen.

Dan sesi I ini turun 0,38 persen di level Rp1.295 per saham. Hexana menyorito langkah sembrono ini dilakukan manajemen lama karena perusahaan tak memiliki aturan ketat mengenai jumlah maksimal investasi yang bisa dimasukkan ke instrumen berisiko. Dan mayoritas aset finansial Jiwasraya kini sulit dijual karena harganya turun.

“Dengan kondisi pasar saat ini, mayoritas aset investasi tak liquid,” jelasnya. Tak heran, imbas langkah manajemen lama itu, Jiwasraya kini ‘buntung’. Hexana meyakini portofolio sahamnya turun dari Rp5,6 triliun menjadi Rp1,5 triliun dan reksa dana berbasis saham, turun dari Rp12,7 triliun, tinggal Rp4 triliun. (Artha Tidar)

Check Also

tukang BSPS

100 Tukang Bangunan Program BSPS di Sumsel Ikuti Sertifikasi

UMUM – Sebanyak 100 tukang bangunan yang akan ikut dalam Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 173

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
cover majalah
close-link