Tuesday , August 4 2020
Home / Indeks Berita / Di Saat Normal Saja Kinerja Bankir Belum Kinclong, Apalagi Kondisi Saat Ini

Di Saat Normal Saja Kinerja Bankir Belum Kinclong, Apalagi Kondisi Saat Ini

Ida Bagus Kade Perdana

KOLOM – Pada beberapa tahun lalu Indonesia mengalami kemerosotan nilai tukar rupiah dan Index Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam. Kemudian ada yang mengkhawatirkan Indonesia akan terseret dan terperangkap kedalam krisis ekonomi. Namun beruntung inflasi terkendali dan terjaga pada kisaran yang rendah pada waktu iti. Juga posisi cadangan devisa yang cukup memadai untuk impor beberapa bulan kedepan.

Dengan demikian dapat disimpulkan krisis ekonomi terjadi bila perubahan ekonomi berlangsung dengan cepat. Ditandai dengan turunnya nilai tukar mata uang rupiah dan harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi tak terbendung lagi. Bila krisis ekonomi ini diikuti dengan penurunan secara simultan pada pada setiap aktivitas di sektor ekonomi seperti ketenaga kerjaan, investasi dan keuntungan perusahaan.

BACA JUGA :   Memaknai Hari Raya Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid – 19

Diikuti dengan turunnya harga harga (deflasi) sehingga memicu kelesuan ekonomi atau tercipta kemerosotan dimana Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan. Atau mengalami pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut turut atau lebih dari satu tahun. Jika resesi tidak segera dapat diatasi dengan cepat sehingga berlangsung lama. Tentu akan bisa berubah menjadi depresi ekonomi maka tidak terelakan membuat terciptanya kebangkrutan ekonomi atau ekonomi kolaps. Tentu akan menjadi sulit dan mengorbankan waktu, tenaga, materi dan pikiran dalam upaya memperbaiki dan melakukan pemulihan ekonomi dari depresi berat kedalam situasi ekonomi agar kembali berjalan normal bahkan diharapkan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnnya.

Dalam keadaan normal saja selama pemerintahan Jokowidodo periode pertama sampai dengan sebelum terjadinya penyebaran krisis wabah penyakit virus Covid 19 Corona (C19C). Kemampuan para bankir nasional diragukan kehandalannya dalam menampllkan performan kinerja perbankan nasional. Dimana masih belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan sebagai agen pembangunan.

Dalam upaya mewujudkan mimpi Presiden Jokowidodo disaat kampanye pemilihan umum pilpres pada periode pertama menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar 7%. Apalagi disaat situasi diluar suasana biasa (extra ordinary) dampak dari tamu yang tidak diundang yang tidak pernah diharapkan kehadirannya. Tanpa diharapkan tidak dinyana dan tidak diduga tiba tiba hadir dari kota Wuhan China. Tamu yang tidak diundang ini kehadirannya sangat menggemparkan dan menggegerkan masyarakat dan para pemimpin negara negara didunia.

BACA JUGA :   Dinilai Potensial, Korporasi Asal Malaysia Incar Saham Bandara Kertajati

Kelimpungan tidak berdaya menghadapi serangan yang mendadak dan mematikan. Datang secara tiba tiba yang telah banyak merenggut nyawa manusia. Telah menyerang sekitar 1,4 juta penduduk dunia dengan menewaskan 150 ribuan manusia dari duaratusan negara merasakan akibat yang sama dimana Amerika Serikat mengalami kepanikan dan negara sekelas Italia nyaris putus asa. Mengingat sangat mengerikan pembawa bencana penyebaran wabah krisis penyakit berupa virus C19C dengan content krisis multidimensial.

Sebagaimana yang dikatakan menteri keuangan RI Ibu Sri Mulyani Indrawati hasil dari pertemuan summit virtual G.20 menteri menteri keuangan dengan gubernur bank sentral dan Chief Leader G.20 menyepakati sebagai situasi yang ada sekarang diluar suasana biasa (extra ordinary) dan harus dihadapi dengan cara yang serupa dalam situasi extra ordinary. Untuk mengatasi situasi extra ordinary sudah  banyak yang mengeluarkan paket kebijakan extra ordinary yang merupakan kombinasi antara fiscal dan moneter dan relaksasi disektor keuangan.

BACA JUGA :   Ge-RAM Pertanyakan Putusan MA Terkait PT KA

Dengan adanya situasi extra ordinary menteri keuangan Ibu Sri Muyani memprediksi ekonomi In donesia dalam keadaan terbaik hanya bisa tumbuh hanya 2,4%  dan dalam situasi terburuk bisa minus 0,4% bila ini terjadi penggambaran yang sangat berat dan susah semoga tidak sampai menimbulkan masalah sosial  politik dan keamanan yang bisa menjadi bencana bagi keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk mencegah dan segera memulihkan perekonomian nasional. Maka Presiden Jokowidodo mengeluarkan paket kebijakan extra ordinary dengan menyediakan anggaran stimulus fiskal untuk perlindungan sosial & stimulus ekonomi menghadapi dampak C19C dengan toral Rp.405,1 Triliun tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 dengan rinciannya :

  1. Rp.75 triliun untuk bidang kesehatan.
  2. Rp.110. triliun untuk sosial safety net.
  3. Rp.70,01 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR.
  4. Rp.150 triliun untuk pemulihan ekonomi nasional (termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan serta pembeayaan untuk UMKM dan dunia usaha).

Keberadaan penanganan kebijakan makro ekonomi sejak dipisahkan pada tahun 2011 dimana makro prudensial masih berada ditangan Bank Indonesia (BI) sedangkan mikro prudensial ditangani oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan adanya pemisahan ini banyak yang berpendapat bahwa tugas BI menjadi semakin ringan siapapun yang akan menjadi Gubernurnya. Tentu akan bisa lebih ringan dalam upaya menciptakan kinerja yang lebih baik dan kinclong. Dengan mengingat tugas pengawasan bank dan lembaga keuangan non bank sudah beralih ke OJK. Sehingga diharapkan lebih berkemampuan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, positif, kondusif, efisien dan efektif dalam semua kebijakan moneternya.

BACA JUGA :   Bersiap Sambut The New Normal, Pelaku Bisnis Harus Segera Berinovasi

Bermuara pada kemampuan menjaga stabilitas nilai mata uang rupiah, sistem keuangan dan inflasi serta mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sudahkan BI kinerjanya seperti yang telah diharapkan. Rasanya belum sepenuhnya dicapai seperti yang diharapkan banyak pihak. Dimana bunga bank masih lebih tinggi dari bunga bank anggauta negara Asean lainnya. Apalagi bila dibandingkan dengan negara Jepang yang sudah menganut sistem bunga negatif.

Rasanya di Indonesia menjadi mustahil. Benarkah mustahil nantinya menerapkan bunga negatif sebagaimana negara Indonesia yang bukan negara kapitalis mestinya lebih punya potensi kearah itu menganut sistem bunga negatif. Mudah mudahan tidak menjadi mustahil kedepan Indonesia bisa menerapkan sistem bunga negatif.

BACA JUGA :   Merek, One Of The Most Important Things In Property Business

Baru baru ini BI telah menurunkan bunga acuan BI 7DRRR dalam kisaran 4,75%. Menurut hemat kami mengingat inflasi telah berada dikisaran 3% mampukah BI menurunkan BI 7DRR dalam suasana extra ordinary ini dikisaran 3,5%. Kebijakan penurunan dan kenaikan BI 7DRRR sebagai bunga acuan BI tidak jarang momentumnya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar dalam negeri. Sering tidak independen dan tersandera oleh kebijakan The Fed. Semoga kedepan bisa disesuaikan apalagi sekarang kita terperangkap diluar suasana biasa (extra ordinary).

Nilai mata uang rupiah kendatipun telah terjadi penguatan dibawah Rp.16.000,- menjadi Rp.15.700,- per US$ itu hanya bersifat sementara. Kendatipun BI telah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) ke level 5,5% untuk bank konvensional dan ke level 4% untuk bank syariah. Namun itu dirasakan masih terlalu tinggi dalam keadaan kita berada dalam situasi extra ordinary seperti sekarang ini sedang berkecamuknya krisis penyakit wabah virus C19C.  Dimana para bankir terperangkap dalam jebakan situasi extra ordinary yang mencekam.

BACA JUGA :   Pembangunan Rusunawa Universitas Brawijaya Malang Selesai dan Siap Dihuni

Bersumber dari adanya krisis wabah penyakit C19C yang bersifat multi dimensi yang ada kandungan  virus krisis ekonomi yang dahsyat. Dengan kondisi seperti ini agar kiranya gubernur BI Verry Warjiyo berani mengambil langkah kebijakan extra ordinary dengan menurunkan GWM ke level nol persen supaya likuiditas bertambah sebagai stimulus moneter.

Dengan demikian likuiditas bank bertambah berkemampuan menyalurkan kredit dengan bunga yang rendah dalam menggerakkan roda perekonomian yang terperangkap situasi extra ordinary. Sehingga bank juga berkemampuan mencetak laba tambahan. Sebagai kokpensasi adanya kecenderungan semakin membludaknya NPL bank. Tentu sangat berisiko mengancam kemerosotan modal bank yang bisa membuat modal menjadi negatif berubah menjadi bank sistemik dan bangkrut. Cenderung  mengundang potensi terjadinya rush penarikan uang secara besar besaran kiranya bisa dihindarkan.

Dengan demikian jangan memandang remeh dampak krisis penyakit C19C ini yang jauh lebih berat dari krisis ekonomi di tahun 1997- 1999 lalu. Jangan juga terlalu optimistis kendatipun para bankir yang ada pernah berpengalaman dalam menghadapi krisis beberapa puluh tahun lalu. Namun krisis wabah penyakit virus C19C sangat multi dimensi tetaplah berpegang pada prinsip kehati hatian, jangan merasa jumawa memberikan angin surga dan naif agar bankir bisa keluar dari perangkap diluar suasana biasa (extra ordinary). Bila nanti kalau kinerja banknya buruk dan bangkrut jangan mencari kambing hitam mendalih krisis wabah  penyakit C19C menjadi penyebabnya.

Namun kadang peraturan BI ada yang kontra produktif mudah mudahan sudah disempurnakan. Seorang Direktur Utama suatu bank tidak diperkenakan menjadi pemegang saham tercatat dalam akta pendirian bank itu sendiri dengan pertimbangan bila tidak salah alasannya jangan sampai melakukan tindakan insider trading. Insider trading merupakan tindakan perdagangan saham perusahaan publik atau surat berharga lainnya (seperti obligasi atau opsi saham oleh individu yang memiliki akses ke informasi non publik tentang perusahaan.

BACA JUGA :   Tarif 6 Ruas Baru Tol Trans Jawa Mulai Berlaku Sejak 21 Januari 2019

Diberbagai negara tentang perdagangan berdasarkan informasib orang dalam adalah ilegal. Sehingga dapat mempengaruhi harga saham perusahaan. Pelaku insider trading memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan lewat informasi yang belum dipublikasikan. Transaksi insider trading ini sangat merugikan investor karena harus melihat sahamnya anjlok seketika.

Check Also

sholat ied

Kementerian PUPR Salurkan 95 Hewan Kurban ke 12 Provinsi

SEKITAR KITA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kembali menyalurkan hewan kurban berupa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 172

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link