Home / Indeks Berita / Ekonomi Masih Lemah, Pelaku Properti Soroti Turunnya Suku Bunga

Ekonomi Masih Lemah, Pelaku Properti Soroti Turunnya Suku Bunga

rumah
Penyaluran KPR FLPP dilakukan oleh 42 Bank Pelaksana pada tahun 2020

PROPERTI – Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 days (reserve) repo rate (BI-7DRR), menjadi 3,75% yang terjadi ditetapkan saat Rapat Dewan Gubernur BI pekan lalu, dinilai belum mempengaruhi bisnis para pengembang properti tanah air. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida menyampaikan, bisnis properti erat kaitannya dengan kondisi makroekonomi Indonesia.

Selama perekonomian nasional belum pulih, maka minat masyarakat terhadap properti cenderung stagnan, bahkan berpotensi turun. Penurunan suku bunga acuan pun, tidak akan langsung berdampak ke sektor properti, selama kebijakan tersebut belum mampu mengangkat kondisi ekonomi dalam negeri.

BACA JUGA :   Momen Pilpres dan Lebaran Telah Usai, Pasar Properti Mulai Tancap Gas

“Pihak perbankan juga belum menurunkan suku bunga KPR, karena masih mempertimbangkan dulu kondisi ekonomi,” ujarnya, pada Senin (23/11/2020). Sebagai ilustrasi, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) masih jauh lebih tinggi, dibandingkan suku bunga acuan BI. Berdasarkan data hingga Agustus 2020, rata-rata suku bunga KPR dan KPA sejak Januari 2019 adalah 8,75 persen sementara rata-rata suku bunga BI7DRR berada di angka 5,15 persen.

Adapun pergerakan suku bunga KPR dan KPA juga belum sedinamis BI7DRR. Jika suku bunga acuan BI tersebut sudah mengalami penurunan sebesar 33 persen pada Agustus 2020 dibandingkan awal 2019, suku bunga KPR dan KPA hanya turun sekitar 7 persen pada periode yang sama.

BACA JUGA :   Membangun Kehidupan Berkualitas Di Kota Malang

Adanya Undang-Undang Cipta Kerja juga diharapkan dapat membantu pemulihan ekonomi di masa pandemi, meski hal tersebut perlu dibarengi dengan sejumlah penerbitan peraturan pelaksana. “Kami juga telah meminta pemerintah segera aktif, terkait kebijakan penundaan pembayaran angsuran pokok atau bunga KPR dan kebijakan sunset policy di sektor properti,” ungkap Totok.

Sementara itu, Commercial and Business Development Director AKR Land Alvin Andronicus berpendapat, secara norma ekonomi, adanya penurunan BI-7DRR menjadi stimulan bagi setiap lini usaha, sehingga daya beli masyarakat akan terbantu juga karena biaya beban bunga pinjaman turun.

Di bidang properti, turunnya suku bunga acuan ini akan berefek pada bunga pinjaman atau modal kerja setiap developer dan juga bunga KPR bagi konsumen. “Namun, itu harus diikuti oleh pelaku industri perbankan, yang wajib menurunkan suku bunga pinjaman kepada calon atau nasabahnya.”

BACA JUGA :   APLN Hadirkan Marketing Gallery Podomoro Park

Dia berharap dampak penurunan BI-7DRR menggairahkan penjualan properti pada kuartal IV/2020 dan bahkan berlanjut ke awal 2021, khususnya bagi end-user.”Banyaknya uang sebagian masyarakat yang masih parkir di bank yang suku bunga deposito pun akan menjadi rendah, diharapkan untuk dikaryakan. Termasuk juga meningkatkan aktivitas ekonomi, atau dibelikan properti yang secara umum menjanjikan keuntungan dikemudian hari,” jelasnya. (Artha Tidar)

Check Also

BSPS

Anggaran Program Bedah Rumah Di Kalbar TA 2021 Sebesar Rp 2,46 Triliun

PROPERTI – Program Padat Karya Tunai (PKT) TA 2021 mengalokasikan anggaran Rp 23,24 triliun, salah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 178

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link