Tuesday , January 26 2021
Home / Properti / Apartemen & Perhotelan / Emiten Perhotelan Targetkan Okupansi Meningkat Di Liburan Akhir Tahun

Emiten Perhotelan Targetkan Okupansi Meningkat Di Liburan Akhir Tahun

pasar modal
Aktifitas di pasar modal, poto by monitor.co.id

PERHOTELAN – Tingkat hunian kamar hotel atau okupansi sejumlah emiten perhotelan, mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal IV/2020. Program pemasaran digenjot untuk mengerek keuntungan jelang pergantian tahun. Direktur Utama PT Red Planet Indonesia Tbk. NG Suwito mengungkapkan tingkat hunian secara year-to-date (ytd) adalah 51 persen, naik dibandingkan dengan rasio ytd pada bulan-bulan sebelumnya.

“Belum terlihat signifikan, tetapi trennya menunjukkan peningkatkan,” ujarnya, dikutip dari Bisnis.com akhir pekan lalu. Suwito mengatakan kenaikan tingkat okupansi seiring dengan pertumbuhan tingkat hunian secara month-to-date (mtd). Tercatat, okupansi secara mtd sebesar 51 persen per 30 September 2020, 58 persen per 31 Oktober 2020, dan 64 persen per 26 November 2020.

BACA JUGA :   Dukung Pengembangan BIJB, Metland Bangun Hotel Horison Ultima

Untuk mengerek kinerja pada sisa tahun ini, emiten berkode saham PSKT itu, berpartisipasi dalam program “Flash Sale 12/12”. Tujuannya, untuk meningkatkan pemesanan di muka atau advance booking.  “Berpartisipasi dalam program promosi online travel agent dan berusaha tetap kompetitif dari segi harga,” paparnya.

PSKT membukukan penurunan pendapatan 39,64 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp29,93 miliar pada kuartal III/2020. Rugi bersih yang dibukukan perseroan melebar dari Rp10,25 miliar pada kuartal III/2019 menjadi Rp15,35 miliar per 30 September 2020.

BACA JUGA :   Dulux Bantu Orangtua Kembangkan Kreativitas dan Imajinasi Anak-anak

Secara terpisah, Direktur Pemasaran PT Eastparc Hotel Tbk. (EAST) Wahyudi Eko Sutoro memproyeksi, tingkat hunian kamar 65 persen hingga 75 persen pada 2021. EAST mengaku berpotensi mengantongi pendapatan Rp36 miliar hingga Rp48 miliar tahun depan. “Proyeksi keuntungan pada 2021 yaitu sebesar Rp8 miliar hingga Rp10 miliar,” imbuhnya.

Wahyudi melaporkan tingkat hunian kamar EAST dari bulan ke bulan mengalami kenaikan. Catatan tingkat hunian pada Juni—November 2020 berturut-turut adalah Juni 41,63 persen, Juli 52,18 persen, Agustus 65,93 persen, September 65,10 persen, Oktober 73,20 persen, dan prediksi November 75,55 persen.

“Sejak pandemi Covid-19, EAST tidak menerima tamu dari akhir Maret hingga awal Juni 2020,” terangnya. Wahyudi mengungkapan, perseroan menerapkan beberapa strategi untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19. EAST berupaya mengurangi beban utang, mempromosikan voucer staycation, menambah fasilitas baru, dan mengurangi beban operasional.

BACA JUGA :   Bidik Pasar Lokal APL Mulai Bangun Taruma City Di Pusat Kota Karawang

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2020, EAST membukukan pendapatan Rp24,17 miliar per 30 September 2020. Realisasi itu turun 45,89 persen dari Rp44,67 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Adapun laba periode berjalan yang dibukukan sebesar Rp603,27 juta pada kuartal III/2020. Pencapaian itu menciut dari Rp4,39 miliar pada kuartal III/2019.

Sedangkan Emiten perhotelan, PT Menteng Heritage Realty Tbk (HRME), masih belum dapat memproyeksikan kondisi kinerjanya sampai dengan 2021. Sebab belum ada tanda-tanda membaiknya industri sektor hotel yang terdampak pandemi. Direktur Utama HRME Christofer Wibisono menjelaskan, setidaknya sampai dengan akhir tahun ini bergerak secara konservatif dan mendahulukan efisiensi.

BACA JUGA :   Aston Priority Simatupang Gelar Perayaan Hari Anak Nasional

“Kami belum bisa memproyeksikan bagaimana kinerja sampai akhir 2020 atau pada 2021, karena memang sampai saat ini arahnya sendiri belum pasti. Kita belum ada ekspansi lagi tahun ini , dan pada 2021 mungkin akan fokus pada recovery. Secara umum, sampai akhir tahun ini, pergerakan kami hingga penggunaan capex (belanja modal) akan sangat konservatif,” jelas Christofer dalam paparan publik yang berlangsung virtual, Jumat (27/11).

Tahun ini, HRME mengalokasikan capex sebesar Rp7 miliar. Christofer tak memberikan pengeluaran angka secara detail, tetapi ia menjelaskan jika dana dikeluarkan untuk renovasi dan perbaikan ruangan di Pomelotel, serta pemeliharaan kapal di anak perusahaan yakni, PT Global Samudra Nusantara (GSN).

BACA JUGA :   Rasanto Group Luncurkan ARTOTEL Yogyakarta

HRME mengakuisisi PT Global Samudra Nusantara pada 2019 memakai 51,69% dana yang didapatkan dari penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2019. Kala itu, HRME mengantongi dana segar senilai Rp125,13 miliar dari IPO.

Pada kuartal III 2020, kontribusi PT Global Samudra Indonesia, meningkat 65,21% menjadi 38% atau setara Rp 13,44 miliar terhadap total pendapatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 23%. Sedangkan dari bisnis perhotelan, hotel The Hermitage berkontribusi sebesar 39% atau sebesar Rp13,99 miliar terhadap total pendapatan dan Pomelotel Hotel, sebesar 23% atau mencapai Rp8,01 miliar.

BACA JUGA :   Serap Ribuan Pekerja, Proyek Crown Group Di Ancol Sebaiknya Segera Dimulai

Kontribusi hotel The Hermitage merosot tajam dari posisi yang sama tahun lalu, sebesar 57%. Christofer mengatakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta yang membuat operasional hotel terpaksa dihentikan.

Dalam laporan keuangan per 30 September 2020, HRME membukukan penurunan pendapatan sebesar 56% secara tahunan menjadi Rp 35,45 miliar dari sebelumnya Rp 80,58 miliar. Rugi bersih perseroan pun membengkak menjadi Rp 23,88 miliar dari sebelumnya rugi Rp 3,77 miliar. (Artha Tidar)

Check Also

bank btn

Dukung Properti Bangkit, BTN Gelar Lomba Jurnalistik Berhadiah Rp171 Juta

UMUM – Untuk mewujudkan ambisi menjadi The Best Mortgage Bank di Asia Tenggara pada tahun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 175

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link