Sunday , August 9 2020
Home / Bahan Bangunan / Harga Bahan Bangunan dan Upah Tenaga Kerja Naik, Properti Ikut Mahal

Harga Bahan Bangunan dan Upah Tenaga Kerja Naik, Properti Ikut Mahal

Harga bahan bangunan melambung (poto : sinarharapan.co)

BAHAN BANGUNAN- Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia (BI) mengindikasikan akselerasi kenaikan harga properti residensial di pasar primer. Ini tercermin dari naiknya Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2019 sebesar 0,49% (qtq), lebih tinggi dibanding kenaikan triwulan sebelumnya sebesar 0,35% (qtq).

“Pada triwulan II 2019, IHPR diperkirakan meningkat sebesar 0,52% (qtq), terutama disebabkan kenaikan harga bahan bangunan serta upah tenaga kerja,” lapor BI dalam surveinya di Jakarta, Jumat (10/5). Meski harganya meningkat namun pada triwulan I 2019, penjualan properti residensial meningkat sebesar 23,77% (qtq).

Ini lebih tinggi dibanding penjualan pada triwulan sebelumnya yang turun 5,78% (qtq). “Peningkatan penjualan terjadi pada semua tipe rumah, dengan kenaikan penjualan tertinggi pada rumah tipe kecil,” jelas BI. Hasil survei juga mengindikasikan mayoritas konsumen masih mengandalkan pembiayaan perbankan membeli properti residensial.

BACA JUGA :   BSD City Menuju Integrated Smart Digital City  

Persentase jumlah konsumen yang memakai fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dalam pembelian properti residensial sebesar 74,16%. “Sejalan dengan kenaikan penjualan properti residensial, penyaluran KPR dan KPA pada triwulan I 2019 juga meningkat, menjadi 4,02% (qtq) dari 1,14% (qtq) pada triwulan sebelumnya,” tulis BI.

Meski secara triwulanan Indeks Harga Properti Residensial meningkat, namun biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk tempat tinggal menurun. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sub kelompok biaya tempat tinggal, yang turun sebesar 1,13% atau lebih rendah dari 1,35% pada triwulan sebelumnya.

Untuk triwulan II-2019, BI memproyeksi Indeks Harga Properti Residensial dapat meningkat sebesar 0,52% (qtq), terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja. Kenaikan harga tertinggi bakal terjadi pada penjualan rumah tipe besar yang diperkirakan bakal naik dari 0,20% menjadi 0,35%.

BACA JUGA :   Pemerintah Menargetkan Delapan Bendungan Akan Selesai Pada 2020

Untuk tipe rumah kecil dan menengah justru bakal mengalami penurunan harga masing-masing menjadi 0,70% dan 0,51%. Sementara secara tahunan, justru diproyeksi bakal mengalami perlambatan menjadi 1,08%. Sedangkan, berdasarkan wilayahnya, kenikan harga rumah tertinggi diperkirakan terjadi di kota Bandar Lampung sebesar 3,98% (yoy).

Sebanyak 18,84% responden menyatakan bahwa suku bunga KPR menjadi penghambat utama pertumbuhan bisnis properti. Selain itu, faktor lainnya yang menjadi penghambat bisnis properti antara lain karena harga bangunan, uang muka rumah, pajak, dan perijinan/birokrasi. (Artha Tidar)

Check Also

REI Kejagung

REI Rangkul Kejagung Kawal Proses Perizinan Pembangunan Rumah MBR

PROPERTI – Masalah perizinan masih menjadi salah satu penghambat bagi pengembang, khususnya yang membangun rumah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 172

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link