Thursday , November 26 2020
Home / Indeks Berita / Jalan Tol Akan Terus Dibangun, Bisnis Sistem Pembayaran Transportasi Menjanjikan

Jalan Tol Akan Terus Dibangun, Bisnis Sistem Pembayaran Transportasi Menjanjikan

tol Padaleunyi
Pintu tol utama menuju jalan Tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi)

UMUM – Masifnya pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol di tanah air bisa menjadi peluang bisnis sistem pembayaran transportasi nasional saat ini. Terlebih lagi, tidak banyak pihak yang menggeluti bisnis ini, sehingga persaingannya belum begitu sengit sebagaimana bidang bisnis lainnya.

Salah satunya adalah PT Delameta Bilano, perusahaan lokal yang bergerak di teknologi sistem transportasi berbasis riset. Perusahaan yang menguasai industri sistem pembayaran transportasi nasional ini menyadari, bisnis yang ditekuni mengalami pertumbuhan rata-rata 20% setiap tahunnya. Bahkan, sistem pembayaran transportasi jalan tol diprediksi mencapai Rp 4 triliun dalam dua tahun mendatang. Di luar itu, ada potensi bisnis dari penggantian (replacement) perangkat senilai Rp 2 triliun.

BACA JUGA :   Cegah Penyebaran COVID-19, Pekerjaan Jalan Tol Serang-Panimbang Distop

Dalam sebuah diskusi virtual Bisnis Sistem Transportasi di Tengah Pandemi, Sabtu (21/11),  Direktur Utama PT Delameta Bilano, Tri Bayu Wicaksono menjelaskan, pembangunan jalan tol terus bergulir di tengah pandemi Covid-19. Sebab, total panjang tol Indonesia masih kalah dari negara-negara Asia lainnya. Contohnya, panjang tol di Tiongkok sudah mencapai 15 ribu km.

Dikatakan Bayu, Per akhir 2019, panjang jalan tol di Indonesia mencapai 2.093 kilometer (km), naik tajam dari 2014 sepanjang 795 km. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan panjang jalan tol mencapai 18 ribu km. Adapun selama 2020-2024, akan dibangun tol baru sepanjang 2.500 km. menurut dia, tol yang sudah masuk tahap persiapan dan sudah digambar mencapai 5.000 km, di mana yang sudah dibangun 2.000 km. Adapun sisanya masih dalam tahap perencanaan.

BACA JUGA :   Vasanta Sasar Ekspatriat di Kawasan Industri

“Bisnis sistem pembayaran transportasi menggeliat sejak mandatori penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol. Hal ini mendorong operator mencari sistem pembayaran andal yang dapat mendukung operasional. Perusahaan sistem pembayaran  membantu operator menjalankan bisnis secara efisien, mencegah terjadinya fraud, dan memperlancar arus keluar masuk kendaraan,” ujar Bayu.

Lebih lanjut Bayu jelaskan, Delameta menawarkan sistem pembayaran jalan tol yang komplet, mulai dari automatic vehicle classification (AVC), loop vehicle sensor, collecting terminal machine, infra merah, palang atau lane barrier system, electronic toll collection (ETC), CCTV, variable message sign (VMS), hingga plate recognition.

Sistem pembayaran Delameta sudah dipasang di 21 ruas tol, seperti Jagorawi, Jakarta-Tangerang, dan Balikpapan-Samarinda. Menariknya, mayoritas perangkat-perangkat itu diproduksi sendiri oleh Delameta di pabrik Pulogadung, Jakarta. Kapasitas produksi pabrik itu mencapai 400 unit per tahun. “Kompetitor mengimpor dari luar negeri kemudian merangkai perangkat-perangkat itu menjadi sebuah sistem. Sementara Delameta membangun sistem dengan perangkat sendiri,” ungkap Bayu.

BACA JUGA :   Infrastruktur Lima KSPN Senilai Rp 7,6 Triliun Selesai Dibangun Akhir 2020

Bayu menilai, sistem pembayaran transportasi akan naik lebih kencang jika sistem fee base income diterapkan. Sebab, dalam skema ini, operator tidak perlu berinvestasi lagi di sistem pembayaran, melainkan dipasok oleh perusahaan seperti Delameta. Operator tinggal membagi hasil operasional tol dengan perusahaan sistem pembayaran. “Kami sedang menjajaki skema ini dengan beberapa operator tol,” tegas dia.

Pintul tol Kukusan, Depok

Bayu menambahkan, bisnis sistem pembayaran transportasi juga telah merambah pelabuhan. Delameta kini menyediakan sistem pembayaran akses (gate pass) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sistem ini terdiri atas reader, AVC sensor, automatic lane barrier (ALB), customer display panel (CDB) yang menampilkan tarif, golongan, dan sisa saldo, lalu CCTV lajur.

BACA JUGA :   Berkat SiKasep, PPDPP Telah Salurkan FLPP Rp9,6 Triliun Hingga 2 Oktober

Dengan sistem Delameta, pendapatan gate pass naik 3-4 kali lipat, karena pembayaran menggunakan sistem nontunai seperti di jalan tol. Setiap hari, rata-rata kendaraan yang masuk Priok 13 ribu unit. “Delameta, telah meneken kontrak pengadaan sistem pembayaran di tiga pelabuhan lainnya, yakni Panjang, Banten, dan Sunda Kelapa. Jumlah ini akan terus bertambah seiring rencana Pelindo II menerapkan sistem pembayaran terpusat di 12 pelabuhan yang dikelola. Delameta akan menjadi integrator sistem pembayaran di 12 pelabuhan itu,” tutur Bayu.

Bayu menambahkan, Delameta juga membidik pasar ekspor potensial ke kawasan regional, seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Timor Leste. Produk yang bakal diekspor antara lain palang otomatis dengan merek dagang Palmat.

BACA JUGA :   Revitalisasi Danau Tondano Jadi Program Prioritas di Sulawesi Utara

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit menegaskan, bisnis jalan tol tahan (resilience) dari dampak pandemi Covid-19. Buktinya proses pemulihan sektor ini sangat cepat. Selain itu, BUMN tol, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) masih mencetak untung semester I tahun ini dan diprediksi berlanjut hingga akhir tahun.

Dia menegaskan, ada dua hal yang menjadi perhatian BPJT selama pandemi Covid-19. Pertama, keyakinan konsumen bahwa jalan tol masih aman digunakan. Apalagi, sejumlah rest area sudah menerapkan protokol kesehatan ketat. Kedua, dari sisi keyakinan investor, bahwa sektor jalan tol bisa pulih dengan cepat.

Danang menyambut baik kehadiran perusahaan teknologi seperti Delameta yang memberikan solusi pembayaran transportasi. Ini sejalan dengan tahap empat era pengembangan jalan tol, yakni transformasi inovasi dan modernisasi (TIM).

BACA JUGA :   Pembangunan Jembatan Batam - Bintan Kepulauan Riau Akan Dimulai 2020

“Kami sangat welcome dengan perusahaan yang memberika solusi teknologi. Semakin banyak dan kompetitif, semakin baik,” tegas dia.

Plt. Anggota BPJT Unsur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mahbullah Nurdin menegaskan, trafik jalan tol memang sempat turun tajam pada April-Juni 2020 berkisar 50-60%. Bahkan, di beberapa ruas, penurunan mencapai 80%. Namun, memasuki November 2020, trafik sudah mendekati level normal, yakni 90%. Di tol JORR, trafik sudah normal.

Dia menambahkan, pembangunan jalan tol masuk sasaran utama pembangunan infrastruktur 2020-2024. Jalan tol masuk klaster infrastruktur ekonomi, dengan target waktu tempuh jalan utama pulau sekitar 2,2 jam per 100 km. Selama 2020-2024, dia menerangkan, pemerintah menargetkan pembangunan tol baru mencapai 2.000 km dan jalan nasional baru 2.500 km.

tol Demak Semarang
Progres pembangunan proyek Tol Semarang – Demak

Menurut Nurdin, transformasi bisnis jalan tol di Indonesia terdiri atas empat tahap. Pertama, inisiasi yang dimulai pada 1978-2005, lalu konsolidasi 2005-2014, akselerasi 2014-2019, dan TIM pada 2019-2014.

Dia menegaskan, transformasi berarti penciptaan nilai tambah, lalu inovasi berarti tumbuhnya gagasan baru, serta modernisasi yang menekankan pada pengalaman pengguna tol serta manajemen jalan tol. Modernisasi meliputi sistem transaksi, lalu lintas, dan aset infrastruktur.

“Salah satu modernisasi yang kami lakukan adalah sistem pembayaran. Sistem transaksi tol berubah dari tunai menjadi nontunai. Ke depan, kami akan masuk MLFF (multilane free flow) yang masih dalam tahap pelelangan,” kata dia.

Check Also

Jelang Akhir Tahun, Paramount Land Raih Tiga Penghargaan Dari Event Berbeda

PROPERTI – Paramount Land berhasil meraih tiga penghargaan menjelang akhir tahun 2020 ini yaitu, Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 174

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link