Friday , May 29 2020
Home / Infrastruktur / LRT, Solusi Mengurai Macet Jabodetabek

LRT, Solusi Mengurai Macet Jabodetabek

Progres Pembangunan LRT
Progres Pembangunan LRT

INFRASTRUKTUR-Peluncuran Light Rail Transit (LRT) atau kereta ringan oleh Presiden Joko Widodo, pada awal September lalu direspon cepat Pemerintah Kota Bogor. Terutama menyiapkan Terminal Baranangsiang sebagai titik akhir LRT.

Menjawab dinamika pembangunan tersebut, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengapresiasi upaya percepatan pembangunan sarana transportasi yang sedang digalakkan pemerintah pusat, terkait dengan rencana pembangunan LRT termasuk kereta api cepat Jakarta – Bandung.

Menurutnya, untuk pembangunan kereta api, pihaknya sudah bekerjasama dengan pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta, dengan dilakukannya ground breaking , komuter jenis light rail transit/LRT di Taman Mini Indonesia Indah pada 9 September 2015 lalu.

LRT ini terdiri atas dua tahap dengan total panjang 83,6 km (mencakup daerah antara lain Bekasi Timur-Cawang, Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan Palmerah-Grogol). Keduanya ditargetkan bisa dioperasikan mulai tahun 2018 nanti.

Proyek ini diharapkan lebih cepat dibangun daripada jenis kereta lainnya karena pembangunannya bisa dilakukan di atas tanah ruang milik jalan tol dan non tol, sehingga pembebasan lahan yang kerap jadi ganjalan bisa lebih cepat dilakukan.

Sementara, pemerintah kota bogor sendiri sudah mengantisipasi rencana pembangunan LRT tersebut dengan melakukan berbagai persiapan, salah satu dengan menyiapkan terminal Baranangsiang sebagai pemberhantian terakhir LRT.

“Kita sudah berkoordinasi intens dengan pemerintah pusat. Sesuai Perpres, titik akhir LRT adalah di terminal Baranangsiang,” ujar Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman.

Untuk menunjang LRT, pemkot juga menyiapkan sistem transportasi penunjang bertajuk Sky Walk. Konsepnya tak jauh beda. Yakni moda transportasi kereta yang bahkan lebih ringan dari LRT. Nantinya, titik akhir LRT diintegrasikan dengan Sky Walk, yang terhubung dengan jalur kereta dalam kota menuju stasiun Sukaresmi.

“Itu semua rencana kita sebagaimana tertuang di Bogor Transportation Program. Terminal Baranangsiang akan dihubungkan sky walk dengan stasiun Sukaresmi. Sistem angkutan massal berbasis rel di Kota Bogor akan kita bangun dalam delapan tahapan,” jelasnya.

Dengan munculnya proyek LRT ini, kata Usmar, mau tidak mau, konsep pembangunan Terminal Baranangsiang harus berubah. Merujuk Perpres No 98 Tahun 2015 sebagai dasar hukum proyek LRT, maka fungsi atau bobot terminal Baranangsiang harus bertambah.

“Revisi perjanjian antara pemkot dan PT PGI dalam pembangunan terminal Baranangsiang harus mengakomodir LRT,” jelasnya.

Menurut Usmar, hal penting lain yang harus diperhatikan jika LRT berjalan adalah ketersediaan lokasi parkir roda dua dan empat di sekitar stasiun LRT. Itu penting untuk menciptakan rasa aman dan nyaman pengguna LRT. 

Check Also

Ditjen Perumahan

Dorong Sejuta Rumah, PUPR Bentuk 19 Balai Perumahan di Daerah

PERUMAHAN – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Perumahan akan membentuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 171

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link