Memaknai Hari Raya Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid – 19

0

Nampaknya tidak ada yang salah dengan berbagai aktivitas di atas. Semua dikembalikan lagi kepada persepsi masing-masing individu dalam menginterpretasikannya. Tapi, apakah hal-hal tersebut sebetulnya sudah sesuai dengan esensi Idul Fitri itu sendiri?

Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan dalam salah satu bukunya Tafsir Al-Misbah tentang definisi Idul Fitri, yaitu Id berarti kembali dan Fithr berarti agama yang benar, kesucian, atau asal kejadian; kembali kepada kesucian sebagaimana yang diperintahkan oleh agama. Beliau menjelaskan bahwa kesucian merupakan gabungan 3 unsur, yaitu benar, baik, dan indah. Idul fitri mengembalikan manusia agar dapat kembali berperilaku yang benar, baik, dan tentu saja kalau dua hal itu dilakukan maka otomatis akan menjadi sesuatu yang indah.

[irp]

Namun yang terjadi dalam Idul Fitri pada tahun-tahun sebelumnya sarat dengan perilaku yang bisa dikatakan cenderung tidak pada tempatnya, dengan kata lain tidak sesuai dengan esensi dari kembali pada kesucian. Kebiasaan melakukan silaturahim dengan keluarga besar sepertinya banyak dibumbui dengan sejumlah perilaku yang bisa dikatakan jauh dari benar, baik, dan indah. Dalam kemeriahan itu, ada jiwa-jiwa yang enggan untuk berkumpul dan merayakan bersama karena perasaan tidak nyaman. Bagi pasangan yang belum punya anak, keengganan muncul karena harus berulang-ulang menjawab pertanyaan mengapa mereka belum memiliki momongan, seakan-akan itu adalah perbuatan yang disengaja.

Bagi mereka yang belum memiliki pasangan ataupun bercerai, harus menahan merahnya kuping karena ada saja komentar-komentar yang negatif. Bahkan mungkin bagi remaja yang belum lulus kuliah ataupun belum punya teman dekat akan minder saat melihat saudaranya yang lain datang dengan membawa teman dekatnya atau predikat sudah lulus kuliah. Belum lagi mereka yang masih berjuang mencari pekerjaan harus dengan legowo menerima nasihat agar tidak terlalu pilih-pilih dalam bekerja. Anda sendiri, pernahkah menyaksikan atau mengalami perasaan tidak nyaman seperti itu saat berkumpul dengan keluarga besar di hari yang suci ini?

[irp]

Setelah membahas berbagai hal di atas, sadarkah kita bahwa pandemi ini meluluhlantakkan tidak hanya tradisi, namun juga jiwa-jiwa yang membangun niat dengan keliru dalam menyambut hari yang suci? Mereka lupa ada orang-orang yang tidak seberuntung mereka. Ada mereka yang terpaksa harus menahan untuk sahur dan berbuka ala kadarnya karena tidak memiliki uang, ada mereka yang tidak bisa pulang kampung karena tidak ada biaya, dan ada anak-anak yatim piatu yang tidak bisa berkumpul dan memeluk orang tuanya. Mereka lalai bahwa esensi dari berpuasa adalah melakukan perintah Allah untuk meningkatkan ketaqwaan, pengawasan diri, dan memperbanyak sedekah.

Oleh karena itu, tahun ini adalah tahun yang Adil. Pandemi ini membuat posisi kita semua setara. Seberapapun kaya dan banyaknya uang kita, tidak terlalu berarti saat ini karena kita tidak bisa kemana-mana. Sebagus apapun baju dan perhiasan mahal yang kita miliki, tak dapat pun dipamerkan karena tidak ada acara kumpul bersama.

[irp]

Betapa inginnya kita sujud di kaki orang tua, kali ini kita juga tak dapat melakukannya. Tahun ini, Allah sedang menunjukkan ke Maha-annya. Maha Adilnya, Maha Berkuasanya, Maha Segalanya. Sekarang, kita tahu bagaimana rasanya terbelenggu untuk tidak bisa kemana-mana meskipun mungkin punya segalanya. Sekarang, kita tahu bagaimana rasanya tidak punya apa-apa.

Saat inilah yang mungkin paling dekat dengan esensi puasa dan Idul Fitri. Kita semua ‘dipaksa’ untuk berdiam diri dengan membatasi perilaku kita. Kita tidak hanya diajak untuk merasakan lapar dan haus saat berpuasa, tapi lebih dari itu, kita kembali di didik oleh Tuhan untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap diri dan sesama. Dalam bahasa istilah Psikologi, kepedulian ini disebut sebagai Empati, yaitu sejauh mana kita mampu untuk memahami apa yang dirasakan orang lain (Jolliffe & Farrington, 2006). Banyak yang menganggap bahwa keberadaan empati makin memudar dewasa ini.

bersambung ke hal berikutnya….

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 182

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link