Proyeksi, Meneropong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021

0
Sari Dewi, CEO Loan Market Indonesia

Keuangan : Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 diprediksi sebagian pengamat ekonomi sekitar 4%. Padahal, dalam prediksi sebelumnya pertumbuhan domestik bisa tumbuh hingga 5,3%. Disisi lain Pemerintah optimis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 berada pada kisaran 5,0 persen. Tentunya untuk mencapai angkat tersebut, harus dengan kerja keras dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Menjelang akhir tahun 2020, Loan Market kembali mengadakan acara virtual dengan tema 2020 Highlight and 2021 Outlook, Jumat, 4 Desember 2020. Bekerjasama dengan Majalah Property&bank serta didukung BPR Intidana sebagai sponsor Highlight and 2021 Outlook mengambil tema Thriving and Competing in Challenging Times to be Bigger, Better, Bolder.

[irp]

Seminar virtual ini membahas mengenai apa yang telah terjadi di 2020 dan melakukan penggambaran mengenai hal yang akan datang di 2021. Tentunya selain dari sisi ekonomi, hal yang akan menjadi fokus pada acara ini adalah bagaimana sebagai institusi finansial dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dan membantu masyarakat untuk mendapatkan solusi finansialnya.

Hadir sebagai keynote speakers Dr. Aviliani SE, Msi – Economic Expert, Thendra Krisnanda Head of Research Institusi MNC Sekuritas,  Polycarpus Feriyanto President Director BPR Intidana, . Reza Faisal  Co-Principal Loan Market Jatibening, serta Christina Francisca – Loan Advisers dari Loan Market Darmo Surabaya.

[irp]

Sari Dewi, CEO Loan Market Indonesia dalam pidato pembukaan, menyatakan bahwa Pertumbuhan ekonomi dunia pada triwulan III 2020 di banyak negara mulai membaik didorong oleh stimulus kebijakan dan peningkatan mobilitas. Hal ini tentunya berdampak positif pada bisnis yang kita jalani.

Dalam kondisi pandemi Covod-19 ini lanjutnya, tidak sedikit pribadi dan bahkan organisasi usaha yang memerlukan dana untuk operasional kegiatan sehari-hari maupun untuk kebutuhan lainnya.

“Disinilah peran kita untuk membantu masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi. Kita ingin menyediakan solusi finansial, namun bukan hanya solusinya saja yang kita tawarkan, tapi relationship. Dimana kita, sebagai agen finansial adalah orang kepercayaan mereka dalam hal finansial,” ujarnya.

Karena itu, tambahnya, Kekuatan sosial media dimana sekarang 95,7 persen masyarakat Indonesia menggunakan sosial media. Ini adalah angka yang melebihi masyarakat Singapura dan Malaysia, bahkan India. Kegiatan berinteraksi di sosial media pun juga meningkat drastis belakangan. Mari kita adopsi perkembangan yang ada, beradaptasi dan memaksimalkan potensi yang ada.

“Dengan Tema 2020 Highlight and 2021 Outlook: Thriving and Competing in Challenging Times to be Bigger, Better, Bolder. Diwarnai dengan semangat akhir tahun dalam menyambut tahun dan harapan yang baru di tahun 2021 yang akan datang”.

[irp]

Sementara pengamat ekonomi, Aviliani  mengungkapkan Sepanjang 2008-2019, gejolak ekonomi dunia sumber dari sektor keuangan, energi, maupun perdagangan. Namun demikian krisis-krisis tersebut tidak begitu nyata menekan sisi permintaan dan penawaran (demand and supply). Sementara sejak merebaknya virus covid-19 yang bersumber dari sektor kesehatan telah melumpuhkan ekonomi yang menekan kinerja sisi demand dan supplay. “kondisi tersebut semakin parah karena perekonomian dunia belum berpengalaman menangani covid-19 dan belum ditemukannya vaksin,” ujarnya.

Hingga akhir November kasus positif covid-19 mencapat 62 juta orang di seluruh dunia. Sebanyak 1,46 juta meninggal dan 43, 33 orang sembuh.

Ekonom Senior Institute For Development of Economics and Finance (Indef) ini juga mencermati ada beberapa indikator konsumsi global menunjukkan perbaikan. Seperti Global PMI naik menjadi menjadi 51,8% pada Agustus 2020. Konsumsi minyak dunia tumbuh 12,7% pada triwulan III-2020 (qtq); sedangkan pertumbuhan produksi naik 2,91% (qtq). Global retail pada 2020 diproyeksi turun 5,7% (yoy).

Disisi lain, Unctad memproyeksi FDI global masih turun hingga 2021 dan mulai bangkit pada 2020 tetapi belum bisa naik setinggi 2019.

Dari data WTO menunjukkan volume perdagangan dunia cenderung meningkat sejak 2000-2018 dan sedikit bergerak ke bawah pada 2019 (perang dagang) dan 2020 (covid-19). Pada 2021, volume perdagangan diproyeksi mulai tumbuh hingga 7,2% (yoy).

Sementara Ekspor Amerika Utara diproyeksi tumbuh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, mencapai 10,7%. Ekspor Asia diproyeksi tumbuh 6,1%. Lonjakan impor tertinggi pada 2021 terjadi di Eropa diprediksi mencapai 8,7%; sedangkan di Asia mencapai 6,2%.

[irp]

Di China sendiri pertumbuhan ekonomi pada tiwulan III-2020 mencapai 4,9%. Hal tersebut sejalan dengan pemulihan PMI dan peningkatan kapasitas industri.

PMI China pada Oktober mencapai 51,4% sedangkan kapasitas produksi industri terpakai 76,7%.

Aviliani juga mencermati perkembangan ekonomi amerika. Dimana pada triwullan III 2020 cenderung membaik dibanding triwulan sebelumnya.

Ekonomi AS pada triwulan iii-2020 naik 33,1%; tingkat pengangguran turun menjadi 7,9% (September), inflasi 1,4%, suku bunga acuan 0-0,25%, yield T Bills 0,69%.

Defisit neraca perdagangan melambung hingga US$485 miliar pada triwulan III-2020,  PMI dan Indeks Kepercayaan Konsumen masing-masing membaik dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 55,4% dan 80,8%.

[irp]

Menurut Aviliani beberapa sektor dimasa new normal yang masih akan meningkat diantaranya Pertanian, Food Delivery, Informasi dan Telekomunikasi, Kesehatan dan farmasi, Transportasi-Pergudangan, Logistic-delivery, Grocery-eccomerce, Akomodasi-makan minum, Pariwisata (Leisure) dan Administrasi Pemerintahan.

Untuk sektor yang moderat yakni Perbankan, Pendidikan, Manufaktur, Asuransi, Perdagangan, Retail/Mall, MICE, Jasa lainnya Sport, Consumer Electronic. Untuk sektor yang masih stagnan diantaranya Otomotif, Oil and Gas, Pertambangan, Properti dan Konstruksi.

Aviliani mengatakan,“Bila pengusaha mampu melakukan Inovasi dan kreatifitas sesuai dengan perubahan perilaku konsumen akan mampu survive walaupun berada pada sektor yang moderat maupun yang masih akan menurun,” ujarnya.

Head of Research, MNC Sekuritas Indonesia, Thendra Crisnanda menyebutkan outlook ekonomi global diperkirakan pulih dari pertumbuhan negatif menjadi pertumbuhan pada tahun 2021. Tanda-tanda pemulihan di beberapa kawasan lebih cepat dari perkiraan, namun kasus COVID-19 gelombang ke-3 di negara maju masih menjadi ketidakpastian prospek perekonomian.

Namun demikian diakui, sebagian besar pertumbuhan sektoral masih negatif hingga 3Q 2020 karena dampak buruk PSBB. Di sisi lain, Informasi dan Komunikasi, Pertanian, Kesehatan, dan Air tetap tangguh.

[irp]

“Penyederhanaan perizinan dan pengurangan pesangon sangat disambut baik oleh UMKM dan sektor bisnis yang juga menguntungkan sektor keuangan. Ini akan mendorong pertumbuhan pinjaman dan simpanan dalam jangka menengah hingga panjang.  Terlebib dana yang berasal dari kekayaan negara diharapkan mengundang lebih banyak FDI (Foreign Direct Investment) tanpa mengganggu sistem perbankan. ini akan memberikan dampak positif bagi industri perbankan,”ujarnya.

Semantara dari sisi Real Estat Kelas Atas, tambah Crisnanda industri ini akan mendapat manfaat dari pelonggaran pajak dan kepemilikan asing. Sejauh ini PWON, SMRA, BSDE, LPKR mendapat sentimen positif.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 181

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link