Thursday , September 24 2020
Home / Breaking News / Pengembang Keluhkan Aturan Kepemilikan Properti Bagi WNA Belum Jelas

Pengembang Keluhkan Aturan Kepemilikan Properti Bagi WNA Belum Jelas

Diskusi mengenai kepemilikan properti bagi WNA

BERITA PROPERTI – Aturan pemerintah mengenai kepemilikan properti bagi Warga Negara Asing (WNA) kini direvisi. Peraturan yang dimuat dalam Undang-undang No. 5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria (UUPA) tersebut dinilai menghambat arus investasi asing ke Indonesia.

Namun, tak ada artinya jika regulasi yang dimatangkan itu tak disosialisasikan ke target pasar. Itulah keluhan pengembang hunian Indonesia yang menawarkan produk mereka ke WNA, salah satunya Ciputra Group. Budiarsa Sastrawinata, Managing Director Ciputra Group menyatakan aturan yang baik adalah peraturan yang disosialisasikan.

“Sebagai pengembang, kami sudah menyediakan penawaran. Namun percuma, pasar tak ada karena aturan belum jelas, serta kerancuan UU lama dan baru. Jadi, harus dijelaskan dengan baik ke target pasar, karena kita kan mengikuti pasar,” ungkap Budiarsa di Jakarta, pada Rabu (10/7).

BACA JUGA :   Bidik Pasar Profesional Muda Di Gading Serpong, Paramount Land Rilis Granada

Lemahnya aturan itu terkait soal definisi WNA yang rancu, definisi izin tinggal yang abu-abu, hak milik, dan lainnya. Banyak WNA disinyalir tak tahu, jika mereka bisa mengajukan kepemilikan properti tanpa KITAS, cukup dengan visa turis saja. Hal yang dianggap kecil ini, berdampak besar bagi investasi properti di Indonesia.

Saat ini, RUU masih dibahas di DPR dan belum dapat dipastikan kapan akan rampung. Sebelumnya, Indonesia mengijinkan warga negara asing (WNA) memiliki properti untuk kebutuhan mereka. Peraturan pemerintah bagi WNA untuk memiliki properti di Indonesia sebenarnya sudah dibentuk sejak lama.

Namun, regulasi yang diatur Undang-Undang No. 5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria (UUPA) tersebut dinilai masih terlalu rumit. UUPA juga tak ramah investasi. Oleh karenanya, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) mengambil langkah untuk menyempurnakan UUPA agar dapat menggairahkan sektor properti Indonesia.

BACA JUGA :   BTN Targetkan Biayai Hingga 700 Ribu Unit Di 2016

Kepala Bagian Biro Hukum dan Humas Kementerian ATR/BPN Yagus Suyadi menyatakan revisi UUPA sedang diproses di DPR. “Sedang disempurnakan di DPR, kami harapkan bisa rampung segera. Ada beberapa poin yang mendapat kelonggaran supaya WNA dapat dengan mudah memiliki properti,” ungkap Yagus.

Sementara itu, Executive Director and Chief Executive Officer (CEO) PT Pollux Properties Nico Po mengatakan, saat ini ada empat lokasi yang menjadi peluang investasi properti asing di Indonesia yaitu Batam, CBD Kuningan, Cikarang, dan kawasan wisata Lombok.

“Keempat lokasi itu sangat potensial untuk investasi dan asing membeli properti di Indonesia, terbukti dengan proyek yang dikembangkan Pollux banyak asing yang membeli properti,” kata Nico Po, dalam acara PropertyGuru Leader Forum 2019, di hotel Kempinksi Indonesia, di Jakarta, Rabu (10/7).

BACA JUGA :   Perlu Dibentuk Pusat Penelitian Likuifaksi Libatkan Para Peneliti Internasional

Ia mengatakan, meski aturan kepemilikan asing masih belum ada kepastian jelas, namun tren asing yang ingin memiliki properti di Indonesia terus meningkat. Namun tak semua wilayah memiliki potensi dan itu dilihat dari lokasinya.

Menurutnya, proyek Pollux yang dikembangkan di kawasan Batam yakni superblok Meisterstadt Batam sudah banyak inestor asing yang tertarik dan diperkirakan sekitar 9% pembelinya adalah orang asing. “Asing mulai membeli, kalau terlihat proyek yang dikembangkan sudah mau jadi, atau mulai toping off. Saat itu, mereka berdatangan dan ingin  membeli dan trennya terus meningkat,” kata dia.

BACA JUGA :   Meningkat 30%, Pencari Properti Makin Melirik Hunian Vertikal Di Bekasi

Begitu juga proyek Pollux yang di kawasan Cikarang, yaitu proyek di Superblok Chadstone. Banyak asing yang membeli. Chadstone terletak di kawasan industri yang banyak menyerap tenaga kerja asing terutama dari Asia. Dia mengatakan, proyek lain yang diminati pembeli asing adalah Pollux Sky Suites di CBD Mega Kuningan, Jakarta.

Di proyek ini, prosentase pembeli asing mencapai 15%. Juga proyek kondotel mewah Amarsvati di Lombok, Nusa Teggara Barat. Proyek kondotel ini lumayan diminati konsumen dari Malaysia dan Singapura. “Kawasan Lombok ini potensial karena kawasan sudah dibangun oleh ITDC sebagai kawasan mixed dan pariwisata dengan motor GP,” katanya. (Artha Tidar)

Check Also

topping off Eastlake

Crown Group Topping Off Eastlakes Live, Hunian Vertikal Tertinggi di Sydney

INTERNASIONAL – Crown Group melakukan seremonial topping off atau tutup atap Eastlakes Live by Crown …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 173

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
cover majalah
close-link