Saturday , September 26 2020
Home / Nasional / Ekonomi / Pengembang Tolak Akuisisi BTN Oleh Mandiri

Pengembang Tolak Akuisisi BTN Oleh Mandiri

Rencana akusisi Bank BTN oleh Bank Mandiri yang dilontarkan Meneg BUMN Dahlan Iskan banyak menuai protes dari berbagai kalangan, terutama para pengembang yang tergabung dalam REI maupun APERSI. Mereka merasa was-was, apakah setelah akuisisi tersebut Bank BTN tetap fokus terhadap pembiayaan KPR untuk perumahan terutama untuk KPR Dengan skema FLPP.
Realestat Indonesia (REI) meminta pemerintah  mempertimbangkan kembali rencana akuisisi  PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) oleh Bank Mandiri mengingat BTN saat ini merupakan satu-satunya bank yang fokus bisnisnya jelas, yaitu membiayai perumahan, khususnya perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
“Prinsipnya REI keberatan dan menolak akuisisi BTN dengan bank manapun. BTN memiliki sejarah panjang dan sudah terbukti berkomitmen fokus membiayai perumahan. Waktu krisis, BTN tetap menyalurkan kredit dan terbukti tahan banting, karena agunannya tidak susut, berbeda dengan bank lain yang fokusnya berbeda,” tegas Ketua Umum DPP REI Eddy Hussy.
Langkah akusisi BTN dinilai REI merupakan langkah mundur  dalam menyediakan kredit pemilikan rumah (KPR) bagi seluruh lapisan masyarakat. Indonesia justru membutuhkan banyak bank yang fokus dalam penyaluran KPR. Bukan justru mengurangi bank fokus yang sudah ada. Karena jika akuisisi terjadi maka tidak ada jaminan misi pembiayaan perumahan rakyat akan tetap berjalan.
REI, lanjut Eddy, mendukung pemerintah yang ingin membesarkan BTN, tetapi tentu tidak mesti dengan langkah akuisisi, apalagi oleh bank lain yang misinya jelas berbeda dengan misi yang saat ini sedang dijalankan BTN. Rencana pemerintah melakukan pemupukan dana melalui tabungan perumahan juga akan mampu  mengatasi sekaligus bisa membesarkan BTN jika peran tersebut diberikan.
Senada dengan REI, pengembang yang tergabung dalam APERSI memandang bahwa Bank Mandiri dan bank BTN adalah bank yang berbeda dalam culturenya. Bank Mandiri merupakan bank yang lebih fokus kepada pembiayaan Korporasi. Sedangkan Bank BTN fokusnya pada pembiayan KPR. Hal ini dikuatirkan akan menghambat penyediaan perumahan yang murah dan terjangkau.
“APERSI mengkhawatirkan apabila terjadi akuisisi tersebut fokus pembiayaan bank BTN bisa berubah. Lalu siapa yang akan memberikan KPR FLPP kepada para MBR. Oleh karena itu, APERSI meminta Pemerintah dalam hal ini Menteri  BUMN untuk meninjau kembali akuisisi tersebut. Apalagi jabatan para menteri akan berakhir dalam beberapa bulan lagi agar tidak mengambil keputusan yang dapat merugikan masyarakat,” jelas Ketua Umum APERSI Anton R. Santoso.
Anton mensinyalir, apakah mungkin ada agenda politik yang tersembunyi dalam kaitan akuisisi Bank BTN oleh Bank Mandiri, sehingga akuisisi tersebut dipaksakan dalam RUPS bank BTN Mei mendatang? Siapa yang menjamin bahwa setelah akuisisi Bank BTN oleh Bank Mandiri, arah kebijakan pembiayaan KPR FLPP oleh Bank BTN tidak berubah?
Menurut Anton, pemerintah harusnya memperkuat BTN dengan menjadikannya Bank Fokus Perumahan misalnya dengan menyuntik modal baru, atau dengan menempatkan dana-dana murah seperti dana Pensiun ataupun BJPS/ Jamsostek di BTN, sehingga BTN bisa lebih banyak menyalurkan KPR FLPP kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
Backlog 15 juta unit perumahan, lanjutnya, tidak dapat diatasi hanya dengan jalan akuisisi BTN oleh Bank Mandiri. Tetapi perlu kebijakan yang holistik dan terintegrasi serta ketegasan dari kepala negara, sehingga peraturannya dapat dimplementasikan.
“APERSI dengan ini meminta pemerintah jangan tergesa-gesa untuk mengambil keputusan atas akuisi saham Bank BTN oleh Bank Mandiri, Masyarakat butuh bank BTN yang sudah teruji komitmennya untuk membiayai KPR khususnya bagi MBR,” tegas Anton.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan, posisi BTN sebagai bank yang khusus menyalurkan kredit perumahan rakyat dengan pangsa pasar lebih dari 90%, seharusnya tidak diganggu dengan rencana akuisisi oleh Bank Mandiri yang malah akan melemahkan market positioning-nya.
“Alasan untuk memperbesar permodalan BTN dirasakan sebagai alasan yang tidak masuk akal, malah cenderung mengakali BTN. Pemerintah bila hanya untuk memperbesar permodalan BTN, tidak harus dengan akusisi oleh Bank Mandiri. Saat ini saja dana FLPP untuk penyaluran program rumah murah Rp. 7 triliun masih terdapat anggaran yang berlebih yang belum habis yang dapat disalurkan oleh BTN. Belum lagi bila RUU Tapera disahkan, maka peran BTN akan sangat strategis dalam penyaluran dana tersebut untuk membiayai perumahan rakyat,” jelas Ali.

Check Also

BI Pangkas Lagi Suku Bunga Acuan, Analis : Sektor Properti Jadi Menarik

EKONOMI – Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 173

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
cover majalah
close-link