Pentingnya Wawasan Aspek Hukum Bagi Profesi Agen Properti

0
Diskusi virtual dengan tema Memahami Aspek Hukum Profesi Agen Properti oleh Property&Bank dan LSP AREA Indonesia

AGEN PROPERTI – Pandemi Covid-19 membuat sektor-sektor perekonomian menjadi lebih sulit bergerak. Aktivitas di luar rumah menyebabkan transaksi jual beli jadi berkurang, meski sudah banyak fasilitas daring (online). Dampak Covid-19 juga mulai dirasakan para pengembang.

Dengan imbauan jaga jarak, para pembeli dan agen properti semakin sulit bertemu. Alhasil masyarakat yang ingin membeli rumah memilih menunda rencana mereka. Agen properti saat ini dituntut untuk melakukan penjualan dengan berbagai cara. Masih ada peluang di tengah kondisi tertekan saat ini mengingat permintaan besar kemungkinan berasal dari under market value atau di bawah nilai pasar.

[irp]

Sayang, tak semua agen properti yang juga kerap disebut mediator hingga perantara jasa pemasaran ini, memiliki kompetensi yang cakap, terutama wawasan mengenai aspek hukum profesi.

Demikian salah satu kesimpulan dari Diskusi virtual yang digelar Majalah Property&Bank bersama Lembaga Sertifikasi Profesi Agen Real Estat Andalan Indonesia (LSP AREA INDONESIA), pada Jumat (08/05/2020).

[irp]

Tampil pembicara dalam diskusi Memahami Aspek Hukum Profesi Agen Properti itu antara lain Erwin Kallo (Owner firma hukum Erwin Kallo & Co Property Lawyers), Pria Takari Utama, S.H., MKN (Penulis, Mantan Jurnalis, Notaris) serta Andrew Alexander (CEO Star Sales). Diskusi yang dipandu oleh Ir. Indra Utama (Pemred Majalah Property&Bank) dan Afrinal D. Darmawan (Direktur Eksekutif LSP AREA INDONESIA) ini diikuti 100 peserta yang berasal dari pegiat properti di Jakarta.

Menurut Erwin Kallo dalam paparannya, menjadi agen  properti selain wawasan (product knowledge) terkait teknis bisnis properti dan cara penjualan, syarat mutlak yang seharusnya dipahami adalah pemahaman aspek legal (aspek hukum). Hampir 70% pertanyaan konsumen saat berhadapan dengan agen property, kata dia, selalu terkait dengan aspek hukum, sementara 30% sisanya mencari informasi soal bisnis properti.

[irp]

“Hal pertama yang kerap ditanyakan kepada agen property itu bukan soal lokasi, spek bangunan, financing, atau cara bayar, tapi justru seputar hal warisnya, kepemilikannya, pengalihannya, dan sertifikatnya, dan itu semua masalah hukum,” jelas Erwin.

Pria kelahiran Makassar 17 September 1965, ini menyoroti jika profesi agen property di Indonesia kerap dianggap sebagai pekerjaan sampingan atau pelarian, sehingga skil profesianal sebagai agen sangatlah lemah. Para agen kerap memprioritaskan komisi dan fee pembayaran, dibanding memperkaya wawasan, sebagai seorang agen property yang cakap.

[irp]

“Yang jadi target itu cuma komisi dan fee, sehingga pemahaman soal legal kerap dikesampingkan, atau malah dilempar ke kantor pusat, jika dirasa menjadi masalah. Memang, tidak perlu memahami secara detail dan mendalam soal aspek hukum, tapi jika wawasan ini kosong, maka kredibilitas agen properti itu layak dipertanyakan,” tukas Ketua Pusat Studi Hukum Properti Indonesia (PSHPI) ini.

Erwin kerap mendapat masukan jika tak sedikit agen property yang ragu menjawab pertanyaan konsumen, jika sudah menyentuh ranah hukum. Sikap ragu ini, lanjutnya, bisa memicu ketidakpercayaan konsumen kepada agen property. Akibatnya, konsumen akan pergi dan pindah ke firma agen yang lain.

[irp]

“Saya tak bermaksud mengecilkan profesi ini, tapi kalo agen sedikit-sedikit tanya ke kantor pusat, apalagi soal aspek legal, ya itu artinya anda bukan agen, tapi tak lebih dari kurir brosur. Sudah kuno ini,” tegasnya seraya memastikan pentingnya memahami wawasan yang berkaitan dengan hukum bidang property.

Pembicara lain, Pria Takari Utama, S.H., MKN, juga senada dengan Erwim. Takari menyampaikan bila segala hal yang terkait dengan jasa pemasarn lewat agen proerty itu khususnya transaksi tanah dan bangunan, nyaris semuanya bersentuhan dengan aspek hukum.

[irp]

“Semua proses transaksi yang berkaitan dengan tanah dan bangunan, itu dikenai aspek hukum. Artinya, profesi agen property jelas harus fasih memahami aspek legalnya,” bilang Takari. Aspek hukum tanah dan bangunan, sangat jauh berbeda dengan aspek hukum benda bergerak.

Sebagai seorang yang berpengalaman di bidang notaris, Takari menyebut jika terjadi transaksi property, maka salah satu syarat yang dipenuhi adalah kelengkapan dokumen tanah dan bangunan.  “Disinilah peran agen property, yang sangat membantu kerja notaris. Sebab, agen yang akan memberikan pemahaman kepada konsumen, dokumen legal apa saja yang harus disiapkan dan diperlukan,” katanya.

[irp]

Tak hanya dokumen soal objek property, Takari juga memberi ilustrasi, bila konsumen ingine menjual atau melepas hak sebuah objek property, maka syarat legalnya haruslah jelas dan resmi.

“Apakah objek property ini milik orangtua, milik sendiri, milik bersama, atau milik hak waris. Jika untuk hal mendasar seperti ini harus tanya kantor pusat atau ke notaris, lantas fungsi sebagai agen itu dimana?,” beber mantan jurnalis kelahiran 22 September 1965 ini.

[irp]

Sementara itu, Chief Executive Officer Starhome Andrew Alexander turut memberi pandangan, kehadiran teknologi internet. Internet membuat pola kehidupan berubah total. Karena jika sebelumnya orang melakukan segala sesuatu secara manual, kini internet membuat masyarakat mencari apapun hanya lewat gawai dan layar ponsel cerdasnya.

“Kondisi pandemi covid 19 ini membuat segala sesuatunya berubah dan bergerak lebih cepat. Tak hanya arus informasi, pola aktifitas kita pun saat ini, sangat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini. Anak-anak belajar di rumah dengan daring (online). Sementara orangtua harus mulai bisa menggunaka minimal, aplikasi video pertemuan seperti zoom, untuk bekerja. Padahal, sebulan lalu, mungkin kita nggak sempat berfikir apa sih zoom ini,” ucap Andrew mengawali diskusi.

[irp]

Kehadiran internet membuat pola kehidupan masyarakat dan konsumen berubah total. Keberadaan internet, membuat masyarakat dapat mencari apapun hanya lewat layar handphone, termasuk dalam urusan mencari properti, seperti rumah atau apartemen. Andrew mengatakan, pola ini yang sedang berkembang di dunia properti saat ini. Kalangan sales properti, lanjut dia, tidak perlu lagi membawa brosur dan menawarkan dari pintu ke pintu.

Menurut Andrew, pihaknya memprediksi calon pembeli properti akan memanfaatkan dunia maya sebagai sumber referensi saat mencari properti. “Tak hanya mencari, menjual bahkan membeli properti bisa dilakukan hanya dengan menggunakan jari di layar ponsel,” tandasnya.

[irp]

Dari fenomena, kata Andrew, Star Home mencoba menjadi portal referensi properti terdepan bagi kalangan penjual maupun pembeli properti. “Kami tengah menyiapkan kehadiran sebuah aplikasi yang akan membantu sales, bahkan orang awam untuk mengontrol transaksi. Kami menawarkan penjualan properti dengan apps yang inovatif, sehingga nanti sales dan klien bisa menggunakan aplikasi terbaru dalam jual beli properti. Ini akan membuat proses transaksi lebih mudah dan menyenangkan,” katanya.

Meski demikian, ia menyadari betapa pentingnya aspek legal menjadi kunci dalam aktifitas transaksi property. Ia bahkan mengkhawatirkan oknum-oknum agen liar, yang tak memiliki kompetensi hingga tak bersertikasi resmi, terlibat dalam profesi agen property.

[irp]

“Sangat berbahaya, jika ada oknum agen property liar memanfaatkan industri ini. Apalagi ini melibatkan uang dalam jumnah besar, termasuk pajak didalamnya. Nah, minimnya kompetensi agen property terkait aspek hukum, ini bisa menjadi masalah dalam industri dan bisnsis property. Itu sebabnya, saya menggarisbawahi, sangat perlunya agen property ini bersetifikasi resmi dan memhami wawasan pekerjaan mereka dengan valid,” pungkasnya. (Artha Tidar)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 182

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link