Thursday , November 26 2020
Home / Indeks Berita / PSBB : Sintuhan Bimbo, Jiayou, dan Hak atas Kota

PSBB : Sintuhan Bimbo, Jiayou, dan Hak atas Kota

MUHAMMAD JONI, SH., MH.
Muhammad Joni, SH., MH.

KOLOM – Interupsi menulis opini ini, saya sintuh buku baru ‘Kota untuk Semua’ (2020), barusan dikirim penulisnya: Bapak Wicaksono Sarosa. Merebak aroma kopi gayo long berry, regukan pertama  menyintuh bibir menerobos faring, tanpa asap rokok yang adiktif-karsinogenik. Sesayup  lagu Bimbo, liriknya menginstall jiwa budaya. Renewal semangat. Re-Jiayou. Sepotong hari tatkala menjadi peserta PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), yang setia. Tangguh berakrifitas dari rumah.

Interupsi selesai. Jemari lanjut menari di atas tuts laptop menganga, membentuk huruf ‘V’ dari Victory. Pikiran saya menulis. Bola mata mengawasi falsifikasi diksi dan narasi. Yaa.., patik nekat menulis soal budaya hukum. Paradoks PSBB? Dan,  apa sih tali-temalinya dengan membangkit paradigma “new”. Apa persintuhan hukumnya, meminjam istilah Prof.Tengku Jafizham (alm), guru besar ilmu hukum dari FH USU,  –yang seangkatan dan bersintuhan pikiran dengan Prof.Mahadi. Persintuhan, akar katanya sintuh, artinya raba; kena; singgung.

BACA JUGA :   Rental Economic of Housing : Beli Kopinya Sewa Tempatnya, Bukan Sebaliknya

Kini, banyak lahir diksi dan narasi baru. Ataupun yang diklaim baru, soal “new”.  Mulai dari refocusing (anggaran). Renewal (city). New normal. New money. Rekalibrasi (perencanaan kota),  webinar yang dihelat SAPPK ITB saya ikuti. Untung saja Bank Indonesia cepat membaca, hingga tak sontak buru-buru mencetak uang baru, iyakan bang Djoko Eddy Abdurrahman (Nasution)?

Dari diksi dan narasi itu tanda-tandanya masih ada semangat. Ada haluan juncto harapan baru. Untuk bangkit  juncto maju. Bahkan yang menurut saya dahsyat dan banyak yang tergagap, berasal dari opini “Install Ulang Tata Kehidupan”, ditulis Prof. Arif Satria, Rektor IPB.  Kalau Rektor sempat menulis, mengapa kita tidak?

BACA JUGA :   The HUD Institute : Rumah Adalah Hak Dasar Semua Warga

Saya belum tau apa “new” dari pakar hukum, setelah Critical Legal Studies yang membius, dan buku best seller international ‘Tomorrow Lawyer’ dari Richard Susskind yang mencemaskan, turut serta  e-Court, yang konon hendak mengubah tradisi litigasi.

Tak mungkin bertanya pada John Austin, penganjur aliran positivisme keras. Ataupun pelanjutnya:  H.L.A Hart yang disebut sebagai soft positivism. Keduanya tabah kepada ilmu hukum yang pelik. Menjadi pelajar hukum itu berat,  biar orang cerdas saja. Banyak yang tetiba menambah titel ‘SH’ dibelakang nama. Mungkin soor pada profesi lawyer & lawyering. Atau hendak rekalibrasi? Kudu menginstall jiwa juncto Jiayou-nya.  Apalagi, jika bersintuhan teori hukum yang dalam kekusutan: ‘perplexities of legal theory’, meminjam frasa Herbert Lionel Adolphus Hart dalam bukunya ‘The Concept of Law’ (1961). Bisa-bisa makin bersintuhan gagal paham kepada “abc-xyz” ilmu hukum, bahkan dalam skala besar.

BACA JUGA :   Gagal Serah Properti : Kepailitan Developer atau Wanprestasi?

Walau lelaku dan wajah warga era PSBB banyak yang kusut, namun tetap banyak yang semangat. Tetap tabah.  Buktinya, 60% Warga Jakarta  di Rumah (sebut saja “Pola 60% WJdR”). Pun, ada warga yang “Nekat Buka Lapak” (sebut saja “Pola NBL”); yang menjadi lemyataan empiris di era yang sama: PSBB!

Kedua pola otu ada di ruang sosial. Aturan dan kebijakan PSBB bersua dan berpapasan dengan warga kota.  Dari dua pola itu saya membangun postulat,  adanya “Paradoks PSBB”.

Walau kedua pola bersintuhan, karena sama dibalut tabah juncto semangat menurut kepentingan dan idealisasi masing-masing. Keduanya sekilas seperti antimoni. Ups.., tunggu dulu. Quodnon,  antimoni, ternyata pasa kedua pola ada kesamaan dalam semangat kehidupan warga.

BACA JUGA :   The HUD : Kawasan Berbasis TOD Harus Bermanfaat Bagi MBR

Lantas untuk apa kita tabah?  Menjadi peserta PSBB Jakarta yang setia? Berkah “new” apa hendak diperoleh? Selain kado PP Tapera yang melegalisasi  kewajiban 3% Simpanan Tapera? Eh.., koq kado, sih? Nanti dibahas soal stability versus change ilhwal Dana Tapera. W.Feidemann menyebutnya dengan ‘Principle Antimonies in Legal Theory’ dalam buku ‘Legal Theory’ (1953).

Pendemi Covid-19 ini mengubah kota kita. Juga wajah kota dunia. Diksi wajah itu bahasa Arab, dari kata ‘wajhu’. Bacalah QS: Arrahman:27 (‘Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’). Ayat itu bisa menjadi petunjuk dan inspirasi kepada kota.

Lihat sepinya kota Wuhan kala dilanda virus corona, yang disebut media zombie city. Walaupun, tetap ada semangat bangkit dari narasi berteriak warganya: ‘Wuhan Jiayou’, ‘Wuhan Jiayou’, ‘Wuhan Jiayou’ (artinya, ‘Semangat Wuhan’). Apa persintuhan  dengan Bimbo?

bersambung ke halaman berikutnya… 

Check Also

tol layang makassar

Jalan Tol Layang AP Pettarani Bantu Kelancaran Arus Logistik di Makassar

DAERAH – Kapasitas jalan pada kawasan perkotaan metropolitan terus ditambah. Salah satu ruas yang siap …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 174

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link