Monday , October 26 2020
Home / Breaking News / Segmen Menengah Bawah Masih Potensial, BTN Bidik Kredit Tumbuh 4 Persen

Segmen Menengah Bawah Masih Potensial, BTN Bidik Kredit Tumbuh 4 Persen

Pahala BTN
Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury saat wawancara ekslusif melalui zoom dengan Property&Bank

INFO PERBANKANPT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. meyakini pertumbuhan kredit tumbuh hingga 4 persen, melalui permintaan kredit subsidi pada kuartal ketiga tahun ini, serta upaya pemasaran dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II.

Dalam wawancara khusus dengan redaksi Property&Bank dan Myhome, melalui aplikasi zoom, Jumat (18/09), Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury mengatakan ekonomi pada paruh kedua tahun ini menjadi penentu kinerja fungsi intermediasi, termasuk penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR).

BACA JUGA :   Hari Bakti PU ke 74, Jokowi Sampaikan Pedoman Kerja 5 Tahun ke Depan

“Kondisi perbankan saat ini terjadi peningkatan likuiditas oleh masyarakat yang menempatkan dananya, terutama di Himbara dan juga Bank Umum berdasarkan Kegiatan Usaha (BUKU) 3 dan 4,” ujar Pahala. Namun disisi lain, Pahala menyebut masyarakat pun lebih banyak menahan pengeluaran dananya yang terhitung cukup besar serta menginvestasikannya di instrumen yang lebih aman.

Dari ekspansi kredit, Pahala melihat terjadi penurunan jumlah yang signifikan dari tahun lalu. “Pada 2019, Kredit perbankan yang sempat berada di kisaran 6%-7%. Sementara saat ini, hingga Juni 2020, turun di kisaran 0% – 4%,” ucapnya.

BACA JUGA :   Dukung Kegiatan Belajar Santri, Dibangun Rusunawa Ponpes Walisongo di Poso

Kedepannya kalaupun terjadi ekspansi, pria kelahiran Bogor 1 April 1971 menyebut prognosa atau eskpetasi pertumbuhan eskpansi kredit Bank BTN berada di kisaran 3% – 4%. Dengan kondisi ini, Bank BTN sebenarnya cukup beruntung, karena fokus di kredit perumahan, khususnya kategori rumah kecil dan menengah, yang rata-rata masih menjadi rumah pertama bagi pembelinya.

“Selama Juli- Agustus, terjadi tren peningkatan penjualan yang cukup berarti di sektor ini. Catatan khususnya selama Agustus 2020 itu banyak libur dan tanggal merah, dampaknya banyak mengurangi penjualan. Yang biasanya dalam sebulan itu ada 20-23 hari kerja, di Agustus itu, hanya 16-17 hari kerja saja,” terangnya.

Perlambatan permintaan KPR sejatinya sejalan dengan volume penjualan residensial yang menurun pada kuartal kedua tahun ini. Hasil survei BI mengindikasikan penjualan properti residensial mengalami kontraksi mencapai 25,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BACA JUGA :   Optimis Program “Yuk ! Punya Rumah” Bakal Dongkrak Penjualan

Penurunan penjualan properti residensial terjadi pada seluruh tipe rumah. Rumah tipe menengah mencatatkan penurunan penjualan paling dalam mencapai 40,11%. Sementara penjualan rumah tipe besar turun 36,71% dan rumah tipe kecil turun 14,36%.

Pemimpin Redaksi Property&Bank Indra Utama

Meski bunga KPR telah menurun, responden survei tetap menilai bunga tersebut masih cukup tinggi. Selain bunga KPR, faktor lain yang dinilai menghambat penjualan rumah yakni proporsi uang muka yang masih tinggi dalam pengajuan KPR perbankan.

BACA JUGA :   Di Musda REI Banten, Roni Adali Sampaikan Tiga Prestasi Yang Telah Dicapai

Survei juga menunjukkan terjadi pembatalan penjualan unit properti oleh konsumen mencapai 10% dari total unit yang dijual. Proporsi terbesar adalah rumah tipe kecil. Faktor ketidakpastian ekonomi akibat Pandemi Covid-19 berpengaruh cukup signifikan pada permintaan rumah. Di sisi lain, harga properti masih tercatat meningkat.

Berdasarkan survei BI, harga rumah tipe kecil masih naik 1,56% secara tahunan. Sedangkan rumah tipe menengah dan besar masing-masing naik 1,24%. Harga properti pada kuartal ketiga diperkirakan masih tumbuh, tetapi bakal melambat dibandingkan kuartal lalu. Harga rumah tipe kecil diperkirakan tumbuh 1,59%, tipe menengah 1,24%, dan tipe kecil 0,78%.

Segmen Menengah Bawah Masih Potensial
Adanya anggapan bahwa masyarakat menengah ke bawah yang saat ini tidak berminat membeli rumah karena pandemi dan lebih mengutamakan kebutuhan lain, dibantah oleh Pahala. Menurut dia, hingga saat ini justru pembiayaan dari Bank BTN untuk segmen menengah bawah masih baik penyalurannya. Justru rumah-rumah yang bersubsidi mencatat penjualan masih tumbuh.

BACA JUGA :   Kabupaten Pasaman Barat Butuh 7.000 Unit Rumah

“Ya memang tergantung segmen mana yang kita akan bidik. Tentunya segmen yang masih cukup baik adalah segmen masyarakat yang pendapatannya tidak besar, tetapi paling tidak mereka berpendapatan tetap. Mereka inilah yang kita bidik, berpendapatan tetap tetapi membutuhkan rumah bersubsidi atau berpendapatan tetap tetapi membutuhkan rumah non subsidi,” tegas Pahala.

Jadi, sambung Pahala, Bank BTN akan fokus di segmen menengah ke bawah, yakni masyarakat yang bisa memiliki rumah, adalah yang memiliki gaji, lalu pindahkan rekening gaji ke Bank BTN, dan selanjutnya Bank BTN akan salurkan kreditnya ke mereka.

Check Also

Peminat Rumah DP Rp 0 Tinggi, DPRD : Bangunan Rampung, Kok Penghuni Sepi

PROPERTI – Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta menyebut peminat hunian dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 174

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link