Tuesday , October 27 2020
Home / Indeks Berita / Sesuaikan Topografi, Terowongan Jalan Akan Lebih Banyak Dibangun

Sesuaikan Topografi, Terowongan Jalan Akan Lebih Banyak Dibangun

Terowongan
Terowongan akan banyak dibangun di Indonesia untuk menyesuaikan topografi

INFRASTRUKTUR – Inovasi dan pemanfaatan teknologi pembangunan terowongan karena topografi Indonesia yang beragam mulai dari dataran rendah, perbukitan hingga pegunungan terus didorong. Pembangunan terowongan jalan memiliki kelebihan dalam menjaga alam dan lansekapnya, serta memangkas jarak tempuh, namun perlu dipertimbangkan dari sisi biaya dan risiko konstruksi.

Bagi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) infrastruktur terowongan bukan merupakan teknologi baru di Indonesia. “Teknologi terowongan sudah diterapkan pada pembangunan bendungan berupa saluran pengelak. Namun di bidang jalan memang agak terlambat. Untuk itu, kita dorong agar lebih banyak terowongan dalam pembangunan jalan,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

BACA JUGA :   Bangun Inti Artha Bangun Heritage Apartemen Menteng 37

Terowongan yang tengah dibangun Kementerian PUPR saat ini berada di ruas Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) dengan panjang 472 meter dan diameter 14 meter. Pembangunannya menggunakan metode New Austrian Tunneling Methods (NATM). Selain NATM, terdapat juga metode Tunneling Boring Machine (TBM) yang digunakan dalam pembangunan jalur Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta.

Teknologi terowongan juga akan diterapkan pada ruas Tol Padang-Pekanbaru sebanyak lima terowongan dengan total panjang 8,95 km yang menembus pegunungan Bukit Barisan. Selain di infrastruktur jalan, terowongan saat ini juga banyak digunakan dalam pembangunan seperti Bendungan Kuwil, Way Sekampung, dan lainnya.

BACA JUGA :   Pasar Permudah Distribusi Bahan Pokok Saat Pandemi COVID-19

Selain itu, menurut Menteri Basuki, Kementerian PUPR bekerjasama dengan Pemerintah Jepang tengah menyiapkan perencanaan pembangunan terowongan pada ruas Tol Bengkulu-Muara Enim. Pembangunan terowongan ini memiliki tantangan luar biasa karena menembus kawasan Bukit Barisan yang merupakan kawasan rawan bencana gunung api dan gerakan tanah, sehingga upaya mitigasi bencana pada tahap perencanaan menjadi sangat penting.

Direktur Jenderal Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, terowongan merupakan inovasi konstruksi modern. Menurutnya, terowongan dapat menjadi alternatif pemanfaatan ruang bawah tanah. “Pembangunan terowongan merupakan pemanfaatan underground space yang efektif,” ungkapnya.

BACA JUGA :   Tapera Bergulir, PUPR Pastikan Proses Penyediaan Perumahan Tak Berubah

Menurutnya, salah satu proyek terowongan yang sukses yaitu pembangunan MRT Jakarta. Menurutnya, MRT menjadi contoh sukses karena dapat menekan kemacetan Jakarta,” MRT ini menjadi solusi kemacetan di DKI Jakarta, MRT dibangun di pusat kota yang padat dan diselesaikan dengan gangguan minimal pada wilayah sekitar. Solusi yang sama bisa digunakan di kota besar,” tandasnya.

Kementerian PUPR telah membentuk Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) yang bertujuan meningkatkan ketertiban dalam penyelenggaraan dan peningkatan keamanan serta untuk meningkatkan keandalan jembatan khusus dan terowongan sehingga dapat mencegah atau mengurangi risiko kegagalan bangunan. Tugas komisi ini mengkaji dan mengevaluasi keamanan jembatan mulai dari tahap desain, pemanfaatan hingga tahap pemeliharaan. Anggota KKJTJ terdiri dari ahli jembatan dan terowongan dari Kementerian PUPR, akademisi dan praktisi.

Check Also

Peminat Rumah DP Rp 0 Tinggi, DPRD : Bangunan Rampung, Kok Penghuni Sepi

PROPERTI – Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta menyebut peminat hunian dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Telah Terbit

MAJALAH
PROPERTY&BANK
EDISI 174

Klik Disini
Dapatkan Versi Digital Majalah Property&Bank Di Playstore Dan IOS.
close-link