
Propertynbank.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas bersama Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) terus memperkuat upaya percepatan pembangunan rendah karbon di daerah.
Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui penyelenggaraan Dialog Kebijakan Tingkat Provinsi Bengkulu bertajuk Memperkuat Kolaborasi Multipihak dalam Akselerasi Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim, yang digelar pada Rabu (25/2) lalu.
Forum strategis ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, legislatif, sektor swasta, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil untuk menyelaraskan arah pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Oxford Policy Management (OPM) bersama konsorsium organisasi masyarakat sipil.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, menegaskan bahwa forum ini menjadi ruang dialog penting dalam memastikan kesiapan daerah mendukung agenda nasional pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim atau PRKBI.
Menurutnya, sinergi lintas pemangku kepentingan menjadi faktor kunci agar transformasi pembangunan berkelanjutan dapat berjalan efektif dan selaras dengan target nasional jangka panjang.
Bengkulu sendiri ditetapkan sebagai salah satu dari empat provinsi percontohan implementasi PRKBI di tingkat subnasional, bersama Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku. Penunjukan ini tidak terlepas dari besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut serta peluang pengembangan ekonomi hijau berbasis keberlanjutan.
Dari sektor Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU), Bengkulu memiliki kawasan hutan seluas sekitar 928.863 hektare atau hampir 46 persen dari total daratan. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya merupakan hutan konservasi, sementara lebih dari seperempat lainnya berstatus hutan lindung yang berperan penting sebagai penyerap karbon alami.
Selain itu, posisi geografis Bengkulu yang memiliki garis pantai sepanjang sekitar 525 kilometer di pesisir Samudra Hindia, ditambah wilayah Pulau Enggano dengan garis keliling sekitar 100 kilometer, memberikan potensi besar pada sektor kelautan dan perikanan berbasis ekonomi berkelanjutan.
Namun demikian, daerah ini juga menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari dampak perubahan iklim, degradasi lingkungan, abrasi pantai, hingga kerentanan sosial ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menuntut pendekatan pembangunan yang lebih adaptif, terintegrasi, dan berketahanan iklim.
Bengkulu Punya Modal Kuat
Melalui dialog kebijakan ini, DPRD Provinsi Bengkulu turut dilibatkan guna memperkuat pemahaman bersama terkait urgensi implementasi PRKBI. Peran legislatif dinilai strategis dalam memastikan keberlanjutan kebijakan melalui dukungan regulasi, penganggaran, serta fungsi pengawasan pembangunan rendah karbon di tingkat daerah.
Forum tersebut juga menghasilkan identifikasi sektor prioritas dan isu strategis PRKBI yang akan menjadi dasar integrasi kebijakan ke dalam dokumen perencanaan daerah, termasuk RPJMD dan rencana strategis perangkat daerah.
Partisipasi berbagai pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi pemerintah daerah dalam mempercepat implementasi pembangunan rendah karbon.
Deputi Teguh menilai Bengkulu memiliki modal kuat untuk menjadi contoh transformasi pembangunan berkelanjutan di Indonesia, mulai dari kekayaan sumber daya alam, potensi energi terbarukan, hingga arah kebijakan daerah yang semakin progresif.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengintegrasikan agenda PRKBI ke dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran daerah agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan bagi generasi mendatang.
“Melalui penguatan kolaborasi multipihak dan integrasi kebijakan pembangunan hijau, Bengkulu diharapkan mampu menjadi model implementasi pembangunan rendah karbon yang tangguh dan inklusif di tingkat nasional,” pungkasnya.
















