Property & Bank

Eid al-Fitr in Moscow 2026: Mata Kamera, Takbir, dan Kota yang Terbuka

gurindam, tanah terlantar, Built To Rent, presiden, moscow
Adv. Muhammad Joni, SH.MH

Propertynbank.com – Pagi itu di Moscow, Rusia. Si cahaya turun seperti rahasia. Tipis dan dingin, menyapu situs Prospekt Mira yang masih dibalut sisa salju.

Kota belum sepenuhnya bangun, tetapi manusia-manusia itu sudah bergerak—sunyi, teratur, seperti mengikuti arah panggilan agung yang tak terlihat.

Menyeruak dari perut metro, turun dari lorong apartemen beton, mengalir dari pinggiran kota yang jauh. Mereka datang memenuhi panggilan kemenangan syawal. Membawa sajadah, membawa doa, membawa sebulan penuh kesabaran.

Lalu suara itu pecah—perlahan, lalu mengisi ruang udara: Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Lalu, di hadapan Moscow Cathedral Mosque (MCM), lautan manusia terbentang. Jalan raya berubah menjadi saf. Trotoar menjadi tempat sujud. Kota modern itu, sejenak, berhenti—memberi ruang bagi langit untuk turun.

Lalu, nun di atas semua itu, ada “mata” yang mengabadikan MCM.

Banyak yang bertanya: apa itu kamera RT? Apakah ia sekadar alat liputan—atau semacam pengintai kota ala spionase Rusia?

Jawabannya lebih sederhana, sekaligus lebih kompleks.

Si RT adalah media internasional milik negara Rusia—sejenis televisi global yang merekam, menyiarkan, dan membingkai peristiwa dari sudut pandang Rusia. Kameranya bukan kamera pengintai dalam arti keamanan seperti CCTV kota. RT bukan alat pengawasan rahasia yang diam-diam mengawasi warga bagai pengintip big brother.

Namun ia juga bukan sekadar kamera biasa. RT adalah “mata narasi.” Mata manusiawi, dan mata jujur yang Rusiawi. Apa yang direkam, bagaimana sudut diambil, kapan momen dipilih—semua itu membentuk cerita menarik mata penonton dunia seperti anda, dan amba. Saya mendengar hal mirip RT itu dalam skala lain memantau lalu lintas jalan protokol dari paparan khas pengelola BSD City tatkala jamuan kehormatan untuk hari jadi The HUD Institute, 14 Januari 2026

Seru bak gelombang selat Malaka melanda rongga dada amba, seketika kamera RT menangkap ribuan Muslim khusuk bersujud di Moskow. Yang hadir bukan hanya gambar hidup, akan tetapi pesan: tentang Rusia yang majemuk, tentang Islam yang hidup, tentang kota yang memberi ruang. Tentang Islam aktual Rusia yang ada RT dan MCM-nya.

Jadi, RT bukan pengintai. Lebih tepat: kawan si pencerita visual—yang memilih apa yang dunia lihat tentang lekak lekuk kota nan alahai Rusiawi bernama Moscow.

Majelis Pembaca. Yang terlihat pagi itu adalah sesuatu yang jarang: iman yang tampil tanpa takut berbeda hilal. Berbeda namun bukan alasan bertengkar.

Dimana ulasan filmis MCM itu? Masjid itu berdiri di pusat kota—di kawasan Olimpiysky Avenue, dekat Prospekt Mira.

Ketahuilah kawan, Moscow Cathedral Mosque bukan bangunan pinggiran. MCM tak lain jantung yang berdetak di tengah tubuh kota.

Duhmak, kubah emasnya menyala lembut, memantulkan cahaya pagi yang dingin. Dua menaranya menjulang, seperti doa yang dipahat dalam arsitektur a la Jalaluddin Rumi, betapa puitis-sufisnya MCM itu.

Gaya bangunannya adalah perjumpaan peradaban besar: jejak Tatar dari Kazan, bayang Rusia dari Kremlin, dan ruh Islam yang mengikat keduanya.

Di dalam, ruang salat luas seperti samudra yang tenang. Karpet tebal meredam langkah. Lampu gantung berkilau seperti gugusan bintang. Kaligrafi mengalir di dinding—tidak berisik, tetapi dalam merasuk ke hati sebagai doa.

Di luar, kota bergerak ligat. Di dalam, waktu seperti ontok: berhenti.

Masjid ini lahir dari sejarah panjang—1904, dari komunitas Tatar yang bertahan dalam diam. Yang melewati musim Soviet, ketika banyak rumah ibadah ditutup. Huih, dia tetap hidup. Catat, pada 2015, MCM bangkit kembali—lebih besar, lebih terang, seolah menolak untuk dilupakan zaman edan.

Idul Fitri di Moskow adalah pertemuan semua itu. Sejarah dan masa kini. Minoritas dan pengakuan. Dingin kota dan hangat iman.

Di antara saf-saf itu, tampak wajah Rusia yang jarang ditulis: humanisme yang sederhana. Seorang pria tua membetulkan sajadah orang asing. Seorang anak kecil meniru gerakan salat dengan kikuk. Seorang perempuan membagi kurma tanpa banyak kata.

Di sinilah Moscow menjadi manusia yang hidup. Menurut literatur, memang benar kota juga hidup a.k.a bernyawa. Kita berhak atas kota. Kota juga berhak atas hidupnya.

Dalam pesan Idul Fitri yang disiarkan melalui Kremlin dan dilaporkan TASS, Vladimir Putin pernah menyatakan:

“Muslim adalah bagian integral dari masyarakat Rusia… mereka memberikan kontribusi besar bagi persatuan dan perkembangan negara.”

Kalimat itu sering terdengar politis. Usah risau dan bertekak. Tetapi pagi itu, kata-kata Paman Putin menjadi nyata. Yang hidup di antara dahi yang menyentuh bumi. Di antara doa yang naik tanpa suara. Di antara kamera yang merekam—dan dunia yang menyaksikan.

Salat selesai. Takbir mereda seperti ombak yang pulang ke laut. Orang-orang saling berpelukan singkat, lalu kembali menyebar ke kota—ke metro, ke kantor, ke kehidupan syawal yang terus berjalan.

Kamera RT berhenti merekam. Tetapi cerita belum selesai. Kubah emas itu tetap memantulkan cahaya.

Udara masih dingin.
Namun ada sesuatu yang tertinggal: kehangatan yang tidak terlihat,
cahaya yang tidak terdokumentasi,
iman yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap kamera mana pun.

Maka, di kota besar itu, di bawah langit utara yang keras, Moscow, sejenak, menjadi lembut. Dari Moscow, saya hendak bergeser ke lain RT lebih seru. Eksotiknya Saint Petersberg? Memukaunya Tashken? Atau, Amboi Tanjungpura? Sabar, RT taknak kemana-mana.
Tabik.

*) Penulis: Adv. Muhammad Joni, Sekretaris Dewan Pakar The Housing and Urban Development (HUD) Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan