Property & Bank

Wujudkan Kota Industri, Pemerintah Kabupaten Karawang Ajak Pengembang Berkolaborasi

Karawang
Para pembicara FGD Menakar Prospek Properti Karawang

Propertynbank.com – Sebagai Kawasan Industri terbesar di Asia Tenggara, Kabupaten Karawang merupakan wilayah yang sangat prospektif dengan daya tarik investasi yang sangat kuat. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Karawang mengajak pengembang properti untuk berkolaborasi membangun Karawang menjadi kawasan bisnis dan komersial yang layak huni.

Kepala Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu Kabupaten Karawang, Eka Sanatha mengatakan, Pemkab Karawang telah menyiapkan berbagai kemudahan perizinan dan pengembangan infrastruktur pendukung yang terintegrasi. Pihaknya, kata Eka, sedang berupaya menjadikan Karawang ini bukan lagi sekadar Kawasan Industri akan tetapi Kota Industri.

“Jadi antara Kawasan Industri dengan fasilitas pendukung lainnya seperti untuk hunian dan Kawasan bisnis terintegrasi,” jelas Eka Sanatha, yang mewakili Bupati Karawang pada acara FGD berjudul Menakar Prospek Properti Karawang Seiring Meningkatnya Realisasi Investasi di Kawasan Industri Terbesar di Asia Tenggara, di Resinda Hotel, Karawang, Rabu (3/8).

Dikatakanya Eka, Karawang ditopang oleh fasilitas serta infrastruktur kelas dunia yang membuat semakin mudah akses dari dan menuju ke Karawang. Konektivitasnya sangat tinggi, dari dan menuju Karawang didukung akses tol Jakarta-Cikampek, Jakarta-Cikampek-Elevated (MBZ), Jalan Tol Jakarta-Cikampek II, dan Jalan Tol Lingkar Luar II Sentul-Karawang Barat yang progress pembangunannya terus berjalan.

Selain itu, sambung Eka, Karawang juga dekat dengan Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Patimban dengan jarak masing-masing 70 kilometer. Lalu, akses Bandara Soekarno-Hatta dengan jarak 90 kilometer dan Bandara Kertajati 122 kilometer. Berdasarkan PP 13 Tahun 2017 dan Permenhub 69 Tahun 2013, rencananya, akan dibangun Bandara Soekarno-Hatta II di Karawang.

Sedangkan akses transportasi lainnya yang tersedia seperti rel kereta yakni Stasiun Karawang, Stasiun Cikampek, dan Transit Oriented Development (TOD) Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Keunikan lainnya dari Karawang yang mungkin belum banyak diketahui, kata Eka, adanya transportasi masal peninggalan Belanda yang menghubungkan antar Kecamatan di Karawang ke Rengas Dengklok – Rawa Merta – Cikampek – Cilamaya.

Ditegaskan Eka, Kabupaten Karawang sangat prospektif untuk Kawasan bisnis dan komersial. Atas dasar itu, pihaknya mengundang lebih banyak pengembang properti untuk berkolaborasi membangun Karawang yang lebih modern dan lebih layak huni. ”APBD kita jujur saja hanya Rp4,8 triliun. Kecil dibandingkan investasi yang masuk ke Karawang. Maka tidak mungkin kami membangun sendiri. Harus sama-sama dengan sektor swasta,” ungkapnya.

Lebih lanjut Eka menegaskan, Pemkab Karawang sebenarnya sudah menjalankan pola kolaborasi dengan beberapa perusahaan pengembang properti besar seperti Summarecon dan Agung Podomoro Land. Di salah satu proyek propertinya Agung Podomoro di Karawang, sambungnya, disediakan lahan untuk Fasum (Fasilitas Umum) dan Fasilitas Sosial (Fasos) yang kemudian digunakan untuk SPAM (Sistem Pengelolaan Air Minum). “Nah itu kita belum bisa siapkan (lahannya) tapi pengembangnya yang membantu sediakan duluan. Nah seperti itulah yang memang kita butuhkan,” tegas Eka.

Bangun CBD di Karawang

Sementara itu, Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mendorong Kabupaten Karawang dari Kawasan Industri menjadi Kota Industri. Salah satunya dengan membangun Central Business District (CBD). ”Saya yakin mampu CBD dibangun di Karawang. Ajak kolaborasi pengembang besar itu kan ada Agung Podomoro Land yang sedang mengembangkan kawasan di sini juga,” ujar Yayat.

Menurut Yayat, CBD sangat penting untuk mendukung transformasi Karawang menjadi Kota Industri. Terlebih kehadirannya akan mendorong pertumbuhan perekonomian yang lebih kuat secara jangka panjang. ”Perlu diingat bahwa Ibu Kota Negara akan pindah. Tidak tertutup kemungkinan pemilik pabrik di Karawang yang kantornya saat ini di Jakarta, pindah ke Karawang ketika di Karawang sudah siap dengan CBD-nya,” jelas Yayat.

Setelah hal tersebut terjadi, imbuh Yayat, maka profil pekerja di Karawang semakin meningkat. Semakin banyak juga tenaga kerja asing yang berkantor di Karawang untuk kemudian mendorong peningkatan demand properti dan Kawasan bisnis.

Sedangkan Pengamat Properti dari Colliers Indonesia, Ferry Salanto berpendapat, prospek properti di Karawang sangat positif dan berlangsung secara jangka panjang. ”Apalagi investasi yang terjadi baru-baru ini adalah dari industri High Tech seperti Data Center dan Kendaraan Listrik. Ini akan meningkatkan profil pasar serta sustainabilitas industri di Karawang karena banyak yang berkaitan dengan teknologi masa depan,” ujar Ferry.

Di lain pihak, Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat, Joko Suranto, mengatakan Kawasan Industri memang harus disertai Kawasan Hunian. Hal ini sejalan dengan cita-cita Pemkab Karawang untuk menjadi Kota Industri. ”Kenapa Kawasan Industri harus disertai Kawasan Hunian? Karena untuk mengurangi traffic (kemacetan), menciptakan kenyamanan kerja, dan menciptakan efisiensi sehingga menciptakan multiplier effect yang luas dan positif,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *