Property & Bank

LLV Fokus Sektor Kesehatan Dan Manufaktur Siap Hadapi Tantangan Ekonomi Global

LLV
Foto : Rafi Rizaldi

Propertynbank: Living Lab Ventures (LLV), corporate venture capital dari Sinar Mas Land menggelar acara LLV Mid-Year Investment Outlook 2025 bertema “Driving Economic Creation and Global Partnerships” Kamis, 22 Mei 2025 di The Hub Sinar Mas Land, Jakarta Selatan.

Hadir Mulyawan Gani (CEO Digital Business Sinar Mas Land) dan Bayu Seto (Partner Living Lab Ventures) sebagai pembicara, berbagi wawasan mendalam mengenai arah investasi, tren pasar, serta peluang strategis yang menjadi fokus LLV dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kemitraan lintas sektor.

Penegasan peran LLV sebagai Indonesia’s Global Economic Gateway tercermin dari sorotan utama pada sektor healthcare dan manufaktur, di mana pembahasan meliputi lanskap pendanaan startup, potensi besar sektor healthcare, serta pentingnya posisi strategis Indonesia dalam peta ekonomi global yang terus berkembang.

Mulyawan Gani, CEO of Digital Business Sinar Mas Land menggarisbawahi kehadiran ekosistem healthcare dalam menciptakan nilai ekonomi. “Kami percaya bahwa penciptaan ekonomi dimulai dengan membangun ekosistem yang tepat. BSD City hadir bukan hanya menjadi pusat inovasi, tetapi juga laboratorium nyata untuk solusi masa depan yang bisa ditumbuhkan secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi bersama LLV, kami menciptakan nilai ekonomi dengan menghubungkan infrastruktur dan inovasi industri healthcare di Tanah Air,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Bayu Seto, Partner of Living Lab Venture yang mengatakan bahwa setelah dominasi fintech pada 2024, kini sektor kesehatan mendapatkan perhatian utama.

”Kami melihat peluang besar untuk membangun solusi yang menjawab tantangan struktural di bidang layanan kesehatan. Healthcare menjadi tulang punggung dari transformasi sistem layanan kesehatan, dan LLV berkomitmen menjadi penghubung antara teknologi dan dampak nyata bagi masyarakat.” Ujarnya.

Dari sisi makro, tantangan ekonomi global masih menjadi tekanan signifikan terhadap prospek pertumbuhan. Nilai perdagangan internasional tercatat mengalami penurunan sebesar 0,2%, sementara laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global melambat menjadi 2,8%, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kebijakan proteksionis dan ketegangan geopolitik.

Mengatasi hal tersebut, banyak perusahaan global mulai mengalihkan rantai pasok mereka ke kawasan Asia Tenggara melalui strategi nearshoring guna meningkatkan ketahanan dan efisiensi logistik.

Indonesia sendiri telah mengambil langkah progresif melalui perluasan kawasan ekonomi khusus, digitalisasi industri, serta inisiatif transformatif seperti anggaran kesehatan yang naik 8%, pemeriksaan kesehatan gratis, dan pengembangan rumah sakit berkualitas.

Program gizi gratis untuk pelajar yang diluncurkan pemerintahan baru juga diharapkan mendorong pertumbuhan sektor pangan dan ketahanan kesehatan nasional.

“Dengan kombinasi kebijakan pemerintah yang progresif dan kesiapan infrastruktur seperti yang ada di BSD City, kami percaya bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi regional,” tutup Bayu.

(Rafi Rizaldi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan