Property & Bank

Mau Beli Rumah Di 2026? Chairman Samera Group Beberkan Kebutuhan Hunian Masa Kini

Samera Group
Chairman Samera Group, Adi Ming E (tengah) saat di wawancarai awak media

Propertynbank : Sektor properti nasional diyakini akan memasuki fase pemulihan pada 2026. Optimisme ini mengemuka dalam Temu Ramah Media Samera Group bersama Chairman Samera Group, Adi Ming E, yang menilai membaiknya indikator makroekonomi serta konsistensi kebijakan pemerintah menjadi fondasi penting kebangkitan industri perumahan.

Adi Ming E menyampaikan, keyakinan terhadap pemulihan pasar sejalan dengan pandangan banyak pakar ekonomi yang melihat meningkatnya kepercayaan konsumen serta pergerakan pasar yang lebih sehat. Menurutnya, tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan sekaligus fase konsolidasi bagi para pelaku industri properti.

“Kami melihat 2026 sebagai titik balik yang telah lama dinantikan. Sejumlah indikator menunjukkan pemulihan mulai terbentuk, dan pasar bergerak ke arah yang lebih stabil,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Adi Ming E juga menjelaskan alasan Samera Group mengusung tagline Perumahan Bebas Banjir pada kawasan Samera Djohor. Ia menegaskan, isu banjir bukan sekadar narasi pemasaran, melainkan komitmen fundamental yang tertanam sejak tahap awal perencanaan kawasan.

“Kami tidak ingin menjual janji, tetapi menghadirkan kepastian hunian yang aman dan nyaman untuk puluhan tahun ke depan. Dan ketika ujian banjir itu datang, masyarakat merasakan sendiri buktinya,” kata Adi Ming E.

Ia mengungkapkan, seluruh proyek perumahan Samera Group dirancang dengan standar mitigasi banjir yang sama. Bahkan, kawasan hunian Samera Group tetap tidak tergenang air meskipun banjir besar melanda Sumatera Utara baru-baru ini. Pendekatan tersebut dilakukan melalui kajian historis wilayah serta perhitungan teknis yang matang sejak awal pengembangan.

Dari sisi teknis, Samera Group menempatkan pemilihan elevasi lahan dan sistem drainase terintegrasi sebagai prioritas utama. Kesalahan dalam menentukan dua aspek tersebut dinilai akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas hunian dan kenyamanan penghuni. Karena itu, seluruh infrastruktur kawasan disiapkan untuk penggunaan lintas generasi, bukan sekadar kebutuhan jangka pendek.

Optimisme Samera Group terhadap prospek 2026 juga diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) properti hingga 31 Desember 2026. Kebijakan ini dinilai memberi ruang bagi pengembang untuk lebih inovatif, tidak hanya dalam strategi penjualan, tetapi juga dalam peningkatan fasilitas kawasan, kualitas bangunan, serta spesifikasi unit.

Sebagai developer, Samera Group dikenal berani meluncurkan proyek perumahan dalam berbagai kondisi pasar. Keberanian tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa kebutuhan hunian di Indonesia masih sangat besar dan belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan unit. Dengan memahami perubahan gaya hidup masyarakat urban, Samera Group terus berupaya menghadirkan hunian yang relevan dan adaptif.

Terkait properti sebagai instrumen investasi, terutama untuk menyaingi emas, Adi Ming E menilai tren tersebut masih belum dominan. Berdasarkan data internal Samera Group, pembelian rumah saat ini masih didorong oleh kebutuhan hunian, bukan spekulasi investasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa properti tetap memiliki potensi pertumbuhan nilai aset yang menarik dalam jangka panjang, terutama jika didukung lokasi strategis, pengelolaan kawasan yang baik, serta layanan purna jual yang konsisten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Properti

Berita Keuangan & Perbankan